Mengimani Wujud, Nama-nama, Sifat-sifat, Pekerjaan Mereka | Rukun Kedua: Iman Kepada para Malaikat | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

2) Malaikat adalah makhluk gaib yang selalu beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla. Mereka sama sekali tidak mempunyai karakteristik rububiyah maupun uluhiyah sedikit pun. Allah 'Azza wa Jalla menciptakan mereka dari cahaya (nur) dan telah memberikan sifat ketundukan yang sempurna kepada mereka, serta memberikan kekuatan untuk menunaikannya.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Dan Malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk mengibadahi-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tanpa ada hentinya." (Al-Anbiya` [21]: 19-20)

Jumlah mereka banyak sekali sehingga tiada yang dapat menghitungnya kecuali Allah 'Azza wa Jalla. Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadits yang berasal dari Anas bin Malik (radhiyallahu 'anhu) tentang kisah Mi'raj, bahwa Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) diperlihatkan Al-Baitul Ma'mur di langit. Padanya setiap hari terdapat tujuh puluh ribu Malaikat yang menunaikan shalat. Jika mereka itu telah keluar (selesai shalat), mereka itu takkan pernah kembali ke situ. (38)

Iman kepada Malaikat mencakup empat perkara:

Pertama: Iman dengan adanya mereka.

Kedua: Iman dengan siapa saja dari mereka yang kita ketahui namanya, seperti Jibril ('alaihis salam). Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita imani secara ijmal (global).

Ketiga: Iman dengan sifat-sifat mereka yang kita ketahui, seperti sifat Jibril ('alaihis salam), di mana Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) telah mengabarkan bahwa beliau pernah melihat Jibril dalam sifatnya yang asli, yang ternyata mempunyai enam ratus sayap yang dapat menutupi cakrawala. (39) Kadangkala, dengan perintah Allah 'Azza wa Jalla Malaikat dapat berubah (menjelma) dalam bentuk seorang lelaki, seperti yang pernah terjadi pada diri Jibril ketika diutus oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada Maryam, lalu Jibril menjelma menjadi manusia yang utuh (sempurna). Juga seperti yang pernah terjadi ketika Jibril mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau sedang duduk di tengah-tengah para sahabat.

Jibril mendatangi beliau dengan karakter seorang lelaki yang mengenakan pakaian sangat putih, rambutnya hitam pekat, tiada terlihat bekas bepergian padanya, dan tak seorang pun di antara sahabat yang mengenalnya. Ia kemudian duduk di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua paha Nabi. Selanjutnya ia menanyakan kepada Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) tentang Islam, Iman, Ihsan serta tentang Kiamat dan tanda-tandanya. Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) kemudian menjawabnya, lalu ia pun pergi. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkata, "Ini tadi adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian!" (HR. Muslim)

Demikian juga para Malaikat yang diutus oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada Ibrahim dan Luth ('alaihimas salam). Mereka datang dalam bentuk seorang laki-laki.

Keempat: Iman dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka yang mereka tunaikan berdasarkan perintah Allah 'Azza wa Jalla, seperti mensucikan-Nya (bertasbih) dan beribadah kepada-Nya siang dan malam tanpa kenal lelah dan tanpa pernah berhenti.

Ada sebagian dari mereka yang mempunyai pekerjaan-pekerjaan khusus. Misalnya:

* Jibril dipercaya untuk menyampaikan wahyu Allah 'Azza wa Jalla. Allah mengutusnya kepada para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan wahyu.

* Mikail diserahi untuk mengatur hujan dan tumbuh-tumbuhan.

* Israfil diberi tugas untuk meniup sangkakala pada saat Kiamat tiba dan dibangkitkannya makhluk.

* Malakul maut diserahi untuk menggenggam (mencabut) nyawa ketika terjadi kematian.

* Malik diserahi untuk menjaga Neraka. Dia adalah Malaikat penjaga Neraka.

* Para Malaikat yang diserahi untuk mengatur janin di dalam rahim. Jika seorang manusia telah sempurna empat bulan di dalam perut (kandungan) ibunya, maka Allah 'Azza wa Jalla mengutus seorang Malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya dan sengsara atau bahagianya.

* Para Malaikat yang dipasrahi untuk mengawasi amal perbuatan Bani Adam (manusia) serta mencatatnya. Untuk setiap orang terdapat dua Malaikat, yang satu di sebelah kanan dan satunya lagi di sebelah kiri.

* Para Malaikat yang diserahi untuk menanyai mayit ketika telah diletakkan di dalam kuburnya. Ketika itu, dua Malaikat mendatanginya untuk menanyakan kepadanya tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

38. HR. Bukhari, kitab Bad'ul Khulq, bab "Dzikrul Malaikah", dan Muslim, kitab Al-Iman, bab "Al-Isra` bi Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa Sallam wa Fardhish Shalawat".

39. HR. Bukhari, kitab Bad'ul Khulq, 3232-3233.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Buah Iman kepada Allah | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Iman kepada Allah 'Azza wa Jalla sesuai dengan yang kita kriteriakan di atas akan menghasilkan buah yang agung bagi orang-orang beriman; di antaranya:

1. Terwujudnya ketauhidan kepada Allah 'Azza wa Jalla, di mana selain Allah tidak ada yang digantungi dalam rangka mengharap atau cemas dan juga tidak ada yang diibadahi selain-Nya.

2. Sempurnanya kecintaan (mahabbah) kepada Allah 'Azza wa Jalla dan pengagungan terhadap-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.

3. Terwujudnya peribadahan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Mengimani Asma` dan Sifat-Nya | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Kedua: Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat--Nya.

Artinya, menetapkan apa saja yang telah ditetapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla bagi diri-Nya yang tersebut dalam Kitab-Nya atau Sunah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam tentang nama-nama (asma`) dan sifat-sifat yang sesuai dengan kelayakan bagi-Nya, tanpa (melakukan) tahrif, ta`thil, takyif, dan tamtsil. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Hanya milik Allah nama-nama yang baik, maka serulah Dia dengan (menggunakan) nama-nama baik itu. Tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran berkenaan dengan nama-nama-Nya itu. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf [7]: 180)

Hanya milik-Nya sifat Yang Maha Tinggi di langit maupun di bumi. Firman Allah 'Azza wa Jalla, "Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat." (Asy-Syu'ara [26]: 11)

Dalam masalah ini ada dua golongan yang tersesat:

Pertama: Golongan mu`athilah.

Mereka adalah golongan yang mengingkari seluruh asma` dan sifat Allah, atau mengingkari sebagiannya, dengan anggapan (alasan) bahwa penetapan asma` dan sifat-sifat itu berarti menuntut adanya penyerupaan (tasybih); yaitu penyerupaan Allah 'Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Anggapan semacam ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; di antaranya:

* Hal itu akan melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang batil, seperti kontradiksi mengenai firman-firman Allah. Sebab, Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi diri-Nya serta telah menyatakan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Jika penetapan asma` dan sifat itu menuntut adanya penyerupaan (tasybih), tentu hal ini menuntut adanya kontradiksi dalam firman Allah serta adanya satu firman yang mendustakan firman lainnya.

* Adanya kesesuaian (kesamaan) antara dua hal mengenai nama atau sifat, tidak mengharuskan keduanya sama. Anda dapat melihat adanya dua orang yang sama-sama sebagai manusia yang mendengar, melihat dan dapat berbicara. Namun kesamaan itu tidak mengharuskan adanya kesamaan di antara keduanya mengenai makna-makna kemanusiaan, pendengaran, penglihatan dan pembicaraan. Anda juga melihat berbagai binatang yang sama-sama mempunyai tangan, kaki dan mata. Namun kesamaan seperti itu tidak mengharuskan kesamaan (persis) mengenai tangan, kaki dan mata seluruh macam binatang tersebut.

Jika telah jelas adanya perbedaan antara berbagai makhluk dalam hal yang terdapat kesamaannya mengenai nama atau sifatnya, maka perbedaan antara Khaliq dengan makhluk tentunya jauh lebih jelas dan lebih besar.

Kedua: Golongan Musyabihah.

Mereka adalah orang-orang yang menetapkan asma` dan sifat, namun mereka menyerupakan Allah 'Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Mereka beranggapan bahwa ini merupakan konsekuensi dan petunjuk nash-nash yang ada, karena Allah 'Azza wa Jalla mengatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami. Anggapan ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; di antaranya:

* Keserupaan Allah 'Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya merupakan perkara yang batil, yang dibatilkan oleh akal maupun syara'. Dan tidak mungkin bila konsekuensi dari nash-nash Kitab dan Sunnah itu merupakan hal yang batil.

* Allah 'Azza wa Jalla memang mengatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami dari segi asal maknanya. Adapun hakikat yang dikandung oleh makna tersebut termasuk perkara yang hanya diketahui oleh Allah 'Azza wa Jalla, termasuk mengenai sesuatu yang berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.

Jika Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan bagi diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu dapat kita ketahui bersama dari segi asal maknanya, yaitu penangkapan terhadap suara. Akan tetapi hakikat dari hal itu, jika dinisbatkan kepada pendengaran Allah 'Azza wa Jalla, maka hal itu tidak kita ketahui. Karena hakikat pendengaran itu berbeda-beda, sekalipun antara sesama makhluk, apalagi antara Khaliq dengan makhluk; tentunya perbedaannya lebih jelas dan lebih besar.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Mengimani Uluhiyah Allah (2) | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Kedua: Iman kepada Uluhiyah-Nya (2).

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,

"Apakah mereka menyekutukan (Allah dengan) sembahan-sembahan (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun, bahkan sembahan-sembahan itu sendiri yang diciptakan?! Dan juga, sembahan-sembahan itu tidak mampu memberikan pertolongan kepada mereka, dan bahkan kepada diri sendiri pun tidak mampu menolong." (Al-A'raf [7]: 191-192)

Jika seperti ini keadaan ilah-ilah itu, maka menjadikannya sebagai ilah (sembahan) merupakan tindakan yang paling tolol dan paling batil.

Kedua, sebenarnya kaum musyrikin itu mengakui bahwa Allah 'Azza wa Jalla saja satu-satunya Rabb Pencipta (Khaliq) yang memegang kekuasaan atas segala sesuatu, serta yang memberikan perlindungan; dan tidak ada yang dapat dilindungi atau diselamatkan dari adzab-Nya. Hal ini sebenarnya mengandung konsekuensi bahwa mereka harus mengesakan-Nya dalam hal uluhiyah. Sebagaimana mereka telah mengesakan-Nya dalam hal rububiyah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Hai manusia, ibadahilah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan telah menciptakan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap. Dia juga yang telah menurunkan air hujan dan langit. Dengan air hujan itu, Dia mengeluarkan segala macam buah-buahan sebagai rezeki bagi kamu. Karena itu, janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan (sekutu) bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah [2]: 21-22)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,

"Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan mereka, tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" (Az-Zukhruf [43]: 87)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,

"Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?' Mereka tentu akan menjawab, 'Allah.' Maka, katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?!' Itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya. Dan apalagi yang ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka, bagaimanakah kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?!" (Yunus [10]: 31-32)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Mengimani Uluhiyah Allah | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Kedua: Iman kepada Uluhiyah-Nya.

Artinya, bahwa Dia adalah satu-satunya ilah yang haq; tiada sekutu bagi-Nya. Kata ilah di sini bermakna ma'luh, yang berarti ma'bud (yang disembah atau diibadahi) atas landasan kecintaan dan pengagungan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Ilah kamu adalah ilah yang satu; tiada ilah selain Dia. Dia Maha Pemurah lagi Penyayang." (Al-Baqarah [2]: 163)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman, "Allah menyatakan bahwa tiada ilah selain-Nya, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan demikian. Tiada ilah selain Dia, Yang Maha Perkasa dan Bijaksana." (Ali 'Imran [3]: 18)

Segala yang dijadikan sebagai ilah di samping Allah, yang disembah selain Allah, maka uluhiyah sembahan itu adalah batil.

Allah berfirman,

"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah itu adalah Yang Haq; dan bahwasanya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Sesungguhnya Allah itu Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Al-Hajj [22]: 62)

Ilah-ilah selain Allah itu tidak mempunyai hak uluhiyah. Mengenai lata, uza dan manat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

"Ilah-ilah itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya. Allah tidak menurunkan keterangan apa pun tentang ilah-ilah itu (sebagai alasan untuk menyembahnya)." (An-Najm [53]: 23)

Allah 'Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi Hud ('alaihis salam) bahwa ia pernah berkata kepada kaumnya,

"Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama ilah yang kamu dan bapak-bapak kamu menamakannya?! Allah sama sekali tidak menurunkan keterangan apa pun tentang nama-nama (ilah) itu..." (Al-A'raf [7]: 71)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman bahwa Nabi Yusuf ('alaihis salam) pernah berkata kepada penghuni penjara,

"... Manakah yang lebih baik, apakah tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?! Kamu tidaklah menyembah yang selain Allah kecuali sebenarnya hanya menyembah nama-nama saja, di mana kamu dan bapak-bapak kamu sendiri yang menamakannya. Allah sama sekali tidak menurunkan keterangan apa pun mengenai sembahan-sembahan itu..." (Yusuf [12]: 39-40)

Oleh karena itu, seluruh Rasul 'alaihimus salaam selalu berkata kepada kaum mereka, "Ibadahilah Allah; tiada ilah selain-Nya bagi kalian." Namun ternyata orang-orang musyrik itu enggan, dan mereka tetap saja mengambil ilah-ilah lain selain Allah yang mereka sembah di samping Allah serta dimintai pertolongan dan perlindungan.

Allah 'Azza wa Jalla telah membatilkan (menggugurkan) tindakan kaum musyrikin mengambil ilah-ilah ini dengan dua keterangan (hujah) 'aqli:

Pertama, ilah-ilah yang disembah oleh kaum musyrikin ini sama sekali tidak memiliki karakteristik uluhiyah sedikit pun. Ilah-ilah itu sekedar makhluk yang tidak akan dapat mencipta, tidak dapat mendatangkan kemanfaatan bagi penyembahnya, tidak dapat menolak kemudaratan, dan mereka tidak kuasa untuk menghidupkan atau mematikan mereka, serta tidak memiliki apa pun tenang apa yang ada di langit dan juga tidak mempunyai saham sedikit pun.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Mereka telah menjadikan ilah-ilah selain Allah (sebagai sembahan), padahal ilah-ilah itu tidak dapat menciptakan, bahkan ilah-ilah itu sendiri justru diciptakan. Ilah-ilah itu tidak kuasa atas kemudaratan maupun kemanfaatan atas dirinya, dan juga tidak kuasa untuk mematikan, menghidupkan maupun membangkitkan." (Al-Furqan [25]: 3)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,

"Katakanlah, 'Serulah mereka yang kamu anggap sebagai sembahan selain Allah; mereka tidak mempunyai kekuasaan seberat dzarrah pun, baik di langit maupun di bumi, dan mereka tidak mempunyai andil soal (penciptaan) langit dan bumi. Allah tidak memiliki seorang pembantu pun dari mereka itu. Tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang diizinkan-Nya..." (Saba' [34]: 22-23)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Mengimani Rububiyah Allah | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Kedua: Iman kepada Rububiyah-Nya.

Artinya, bahwa Dia adalah satu-satunya Rabb yang tak mempunyai sekutu maupun penolong.

Rabb adalah Dzat yang berwenang mencipta, memiliki dan memerintah. Tiada pencipta selain Allah, tiada yang memiliki kecuali Allah serta tiada yang berhak memerintah kecuali Allah.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"...ingatlah mencipta dan memerintah hanyalah wewenang Allah..." (Al-A'raf [7]: 54)

"...yang demikian itulah Rabb kalian. Hanya milik-Nyalah segala kerajaan. Sedangkan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah itu tiada memiliki apa-apa walau hanya setipis kulit ari pun." (Fathir [35]: 13)

Tidak ada ceritanya bahwa ada di antara makhluk ini yang mengingkari rububiyah Allah 'Azza wa Jalla, kecuali karena ia sombong, namun sebenarnya ia tidak yakin dengan apa yang diucapkannya ini seperti pernah terjadi pada diri fir'aun ketika berkata kepada kaumnya sebagaimana disebutkan oleh Al-Quran:

"...akulah tuhan kalian yang maha tinggi!" (An-Nazi'at [79]: 24)

"Hai para pembesar kaumku, aku tidak tahu akan adanya tuhan lain bagimu selain aku..." (Al-Qashash [28]: 38)

Namun sebenarnya yang dia katakan itu bukan berasal dari keyakinan.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Mereka mengingkarinya lantaran kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal sebenarnya di hati mereka meyakini (kebenaran)nya..." (An-Naml [27]: 14)

Musa ('alaihis salam) pernah berkata kepada fir'aun, sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah di dalam Al-Quran,

"... Sebenarnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku ini yakin bahwa kamu, hai fir'aun, seorang yang bakal dibinasakan." (Al-Isra` [17]: 102)

Karena itu, kaum musyrikin itu mengakui rububiyah Allah 'Azza wa Jalla, namun mereka menyekutukan-Nya dalam hal uluhiyah-Nya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Rabb (yang memiliki) langit yang tujuh serta singgasana yang besar?' Mereka akan menjawab, 'Allah yang memilikinya.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang memegang kekuasaan atas segala sesuatu; Dia melindungi, namun tidak ada yang dapat dilindungi (diselamatkan) dari (adzab)-Nya; jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Allah yang memilikinya.' Katakanlah, 'Jika demikian, maka dari jalan manakah kamu tertipu?'" (Al-Mukminun [23]: 84-89)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,

"Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi?' Niscaya mereka menjawab, 'Semuanya itu diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.'" (Az-Zukhruf [43]: 9)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,

"Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang telah menciptakan mereka?' Niscaya mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?!" (Az-Zukhruf [43]: 87)

"Perintah" Rabb di sini meliputi segala perintah yang bersifat kauni (alam) dan syar'i. Dia adalah pengatur alam semesta ini, yang mengatur segala apa yang ada di dalamnya dengan kehendak-Nya sendiri sejalan dengan hikmah-Nya; maka demikian juga, Dia adalah hakim yang mensyariatkan peribadahan-peribadahan dan hukum-hukum muamalat sejalan dengan hikmah-Nya pula. Siapa saja yang menjadikan pensyariat lain dalam masalah ibadah atau menjadikan hakim lain dalam hal muamalah di samping Allah, maka ia telah menyekutukan-Nya, dan dengan demikian ia berarti belum merealisasikan keimanan.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Mengimani Wujud Allah (3) | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Dalam Shahihul Bukhari disebutkan hadits dari Anas bin Malik:

Bahwa seorang Arab pedalaman masuk (ke dalam masjid) pada hari Jumat, sementara Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) sedang berkhutbah. Orang itu lantas berkata, "Ya Rasulullah, harta kami musnah dan keluarga kami kelaparan. Maka berdoalah kepada Allah buat kami!" Akhirnya beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa. Tak lama kemudian, awan sebesar gunung pun tiba; sementara beliau masih berada di atas mimbar, sehingga aku lihat air hujan bercucuran pada jenggot beliau. Pada Jumat kedua (berikutnya), si Arab pedalaman itu, atau lainnya, berdiri lantas berkata, "Ya Rasulullah, bangunan rumah kami roboh dan harta kami tenggelam. Maka berdoalah kepada Allah untuk kami!" Akhirnya beliau pun mengangkat kedua tangan seraya berdoa:

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا

Allaahumma hawaalainaa wa laa 'alainaa.

"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami." (36)

Akhirnya, tidaklah beliau menunjuk suatu arah (tempat) melainkan menjadi terang (tanpa hujan).

Terkabulnya permohonan orang-orang yang berdoa hingga hari ini masih dapat disaksikan dengan nyata, tentunya bagi orang yang benar-benar bersandar kepada Allah 'Azza wa Jalla serta memenuhi syarat-syarat dikabulkannya sebuah doa.

Kedua: Ayat-ayat (tanda-tanda) para Nabi yang dinamakan mukjizat yang disaksikan oleh manusia lain, atau yang mereka dengar merupakan bukti yang qath'i akan adanya Dzat yang mengutus mereka, yaitu Allah 'Azza wa Jalla. Sebab, kemukjizatan itu di luar jangkauan manusia pada umumnya, yang memang sengaja diberlakukan oleh Allah 'Azza wa Jalla untuk mengokohkan dan memenangkan para Rasul-Nya.

Contoh pertama, mukjizat Musa ('alaihis salam) ketika Allah memerintahkannya untuk memukul laut dengan tongkatnya. Musa pun memukulnya dan akhirnya laut itu terbelah menjadi dua belas jalan yang kering, sementara air laut berada di antara jalan-jalan itu laksana gunung.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Maka Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu! Akhirnya terbelahlah laut itu, masing-masing belahan laksana gunung yang besar." (Asy-Syu'ara [26]: 63)

Contoh kedua, mukjizat Isa ('alaihis salam) berupa dapat menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dan mengeluarkan mereka dari kubur dengan izin Allah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"...dan aku (Isa) dapat menghidupkan orang mati dengan izin Allah..." (Ali 'Imran [3]: 49)

"...dan ingatlah di waktu kamu mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup kembali) dengan izin-Ku..." (Al-Ma`idah [5]: 110)

Contoh ketiga, ketika kaum Quraisy meminta mukjizat dari Nabi Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam), maka beliau menunjuk bulan, lalu bulan itu terbelah menjadi dua, dan orang-orang pun menyaksikannya. Mengenai hal ini, Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Telah dekat (datangnya) 'saat' (37) itu, dan bulan pun telah terbelah. Dan jika (kaum musyrikin) melihat suatu ayat (mukjizat), mereka berpaling seraya mengatakan, 'Ini adalah sihir yang terus-menerus!'" (Al-Qamar [54]: 1-2)

Berbagai mukjizat yang dapat diindra yang sengaja dibuat oleh Allah 'Azza wa Jalla untuk mengokohkan dan menolong para Rasul-Nya ini menunjukkan secara qath'i akan adanya Allah 'Azza wa Jalla.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

36. HR. Al-Bukhari, Kitabul Jumu'ah, bab "Mengangat Dua Tangan dalam Berdoa"; dan oleh Muslim, Kitabul Istisqa', bab "Doa dalam (shalat) istisqa'".

37. Saat kehancuran kaum musyrikin; atau ada juga yang mengatakan saat terjadinya Kiamat. -penerj.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Mengimani Wujud Allah (2) | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Allah 'Azza wa Jalla sendiri telah menyebutkan dalil 'aqli dan alasan yang qath'i dalam surat Ath-Thur. Di situ Allah berfirman:

"Apakah mereka tercipta tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (Ath-Thur [52]: 35)

Maksudnya, mereka itu tidaklah tercipta tanpa pencipta, dan mereka pun tidak menciptakan diri mereka sendiri. Dengan demikian, dapatlah dipastikan bahwa pencipta mereka adalah Allah 'Azza wa Jalla. Lantaran itu, tatkala Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam sedang membaca surat Ath-Thur hingga sampai pada ayat (yang artinya), "Apakah mereka itu tercipta tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka itu yang telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka itu tidak meyakini (apa yang mereka katakan itu). Apakah di sisi mereka terdapat perbendaharaan Rabbmu, ataukah mereka itu yang berkuasa?" (Ath-Thur [52]: 35-37). (Di mana ketika itu Jubair masih musyrik), maka ia berkata, "Hampir-hampir saja hatiku hendak terbang. Ketika itulah pertama kali iman bersemayam di dalam hatiku." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara terpisah-pisah. (35)

Ada baiknya jika kita mengambil satu contoh untuk lebih memperjelas hal itu. Jika seseorang menceritakan kepadamu tentang sebuah istana yang megah, dikelilingi oleh berbagai taman, ada sungai-sungai yang mengalir di antara bangunan-bangunan istana itu, dipenuhi berbagai permadani, dipercantik dengan berbagai jenis perhiasan pada bangunan-bangunan inti maupun penyempurnaannya, lalu ia berkata kepada anda, "Sesungguhnya istana ini dengan berbagai kesempurnaan yang ada; tercipta oleh dirinya sendiri, atau tercipta seperti ini secara kebetulan tanpa ada yang mencipta"; maka anda tentu langsung membantah hal itu serta mendustakannya, dan anda pasti akan mengkategorikan perkataannya itu sebagai perkataan tolol. Dengan demikian, apa mungkin jika alam yang luas dengan bumi dan langitnya, dengan orbitnya, dan dengan tatanannya yang indah dan luar biasa ini, semua mencipta dirinya sendiri, atau tercipta secara kebetulan tanpa ada yang mencipta?!

Petunjuk syar'i juga menyatakan kewujudan Allah, sebab kitab-kitab samawi seluruhnya menyatakan demikian. Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab samawi itu, berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan makhluk merupakan bukti bahwa hal itu datang dari Rabb yang Bijaksana dan Maha Tahu akan kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita yang berkenaan dengan alam yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut, serta telah disaksikan oleh kenyataan tentang kebenarannya, merupakan bukti bahwa kitab-kitab itu berasal dari Rabb yang Maha Kuasa untuk mewujudkan (mencipta) apa yang diberitakan itu.

Dan petunjuk indra mengenai kewujudan Allah dapat dilihat dari dua hal:

Pertama: Kita semua mendengar dan menyaksikan dikabulkannya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongnya orang-orang yang kesusahan, yang semuanya ini menunjukkan secara qath'i akan adanya Allah 'Azza wa Jalla.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Ingatlah akan kisah Nuh sebelum itu ketika ia berdoa, lalu Kami kabulkan doanya..." (An-Anbiya' [21]: 76)

"Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu Dia pun mengabulkan permohonanmu..." (Al-Anfal [8]: 9)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

35. HR. Bukhari dalam Kitabut Tafsir, surat Ath-Thur, Jilid IV, hal. 1839.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Mengimani Wujud Allah | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Rukun iman itu ada enam, yaitu iman kepada Allah 1). Iman kepada para Malaikat-Nya 2), iman kepada Kitab-kitab-Nya 3), iman kepada para Rasul-Nya 4), iman kepada Hari Akhir 5), iman kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruk 6).

Dalil keenam rukun iman ini adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Kebaktian (iman) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahnya ke arah timur atau barat, akan tetapi yang sebenarnya adalah iman seseorang kepada Allah, Hari Akhir, para Malaikat, Kitab-kitab dan Nabi-nabi..." (Al-Baqarah [2]: 177)

Sedangkan dalil qadar (takdir) adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar." (Al-Qamar [54]: 49)

Syarah:

1) Iman kepada Allah itu mencakup empat hal:

Pertama: Iman kepada kewujudan (adanya) Allah 'Azza wa Jalla.

Kewujudan Allah 'Azza wa Jalla ini telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara' dan indra.

Petunjuk fitrah menyatakan kewujudan Allah. Karena segala makhluk telah diciptakan untuk beriman kepada Penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada makhluk yang berpaling dari fitrah ini, kecuali hatinya termasuki oleh sesuatu yang dapat memalingkannya dari fitrah itu. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam:

"Tiada yang terlahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanya yang akan menjadikannya sebagai orang yahudi, nasrani atau majusi." (34)

Petunjuk akal menyatakan kewujudan Allah, karena seluruh makhluk yang ada ini, termasuk yang sudah berlalu maupun yang akan datang kemudian, sudah tentu ada Pencipta yang menciptakannya. Tidak mungkin makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya (tanpa ada yang menciptakannya).

Tidak mungkin makhluk itu tercipta oleh dirinya sendiri, karena sesuatu itu tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Sebab, sebelum ia ada, ia tiada. Maka bagaimana mungkin ia bisa menjadi pencipta?

Ia juga tidak mungkin ada secara kebetulan, karena segala sesuatu yang terjadi itu sudah pasti ada yang menjadikannya. Dan lagi, wujudnya yang mengikuti keteraturan yang indah ini, mengikuti keserasian yang padu serta adanya hubungan erat yang tak bisa dipisahkan antara sebab dan musababnya, dan juga antara makhluk satu dengan lainnya; semuanya menolak penuh jika kewujudan sesuatu itu secara kebetulan. Sebab, sesuatu yang asal ada secara kebetulan berarti tidak mengikuti keteraturan pada asal kewujudannya; lalu bagaimana mungkin ia kemudian bisa menjadi teratur dalam perkembangan berikutnya?

Jika seluruh makhluk yang ada ini tidak mungkin ada dengan sendirinya (menciptakan dirinya sendiri) dan juga tidak mungkin ada secara kebetulan begitu saja, maka dapatlah dipastikan bahwa ada yang menciptakan atau mengadakannya; yaitu Allah Rabb semesta alam!

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

34. HR. Bukhari dalam Kitabul Jana`iz, bab "Idza Aslama Ash-Shabiy fa Mata, Hal Yushalla 'alaih"; dan juga oleh Muslim dalam Kitabul Qadr, bab "Ma min Maulud Yuladu illa 'alal Fithrah".

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Iman Terdiri dari Tujuh Puluh Cabang Lebih | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Tingkatan kedua iman 1). Iman itu berjumlah antara 73 sampai 79 cabang. Cabang yang tertinggi adalah ucapan (syahadat) "La ilaha illallah", sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan 2) dari jalan. Rasa malu 3) juga merupakan salah satu cabang iman.

Syarah:

1) Menurut bahasa kata "iman" mempunyai arti pembenaran (at-tashdiq). Sedangkan dalam pengertian syar'i, iman adalah keyakinan (i'tiqad) dengan hati, pengucapan dengan lisan serta mengamalkan(nya) dengan anggota badan. Sedangkan cabangnya berjumlah antara 73 hingga 79 cabang.

2) Yakni melenyapkan "gangguan", yaitu segala sesuatu yang dapat mengganggu orang lewat, apakah berupa bebatuan, duri-durian, sampah, kotoran, sesuatu yang berbau tak enak, dan semisalnya.

3) Malu adalah suatu sifat atau perasaan spontanitas yang akan muncul pada diri orang yang mempunyai sifat malu itu, dan ia akan menghalangi seseorang dari melakukan perbuatan yang bertentangan dengan muru'ah (kesopanan, kehormatan).

Untuk menyatukan antara pernyataan penulis rahimahullah bahwa iman itu berjumlah antara 73 hingga 79 cabang dengan pernyataan beliau bahwa iman itu memiliki enam rukun, maka dapat kami jelaskan sebagai berikut. Iman yang merupakan akidah memiliki enam asas, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jibril 'alaihis salam tatkala menanyakan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tentang iman, dan Nabi pun menjawab, "Iman yaitu kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir serta beriman kepada takdir baik dan buruk."

Sedangkan iman yang meliputi amal perbuatan dengan segala macam jenisnya itu mempunyai cabang antara 73 hingga 79 cabang. Oleh karena itu, Allah 'Azza wa Jalla menamakan shalat sebagai (bagian dari) iman. Yaitu dalam firman-Nya:

"... Allah tidak akan menyia-nyiakan begitu saja akan 'iman' kalian..." (Al-Baqarah [2]: 143)

Para mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan 'iman' di sini adalah shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Sebab, para sahabat sebelum mendapat perintah untuk menghadap ke Ka'bah, mereka melaksanakan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Dalil Haji | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Dalil haji adalah, "Dan hanya untuk Allah, manusia wajib melakukan haji, yaitu bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan siapa kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) semesta alam." 1) (Ali 'Imran [3]: 9)

Syarah:

1) Ayat ini turun pada tahun kesembilan setelah hijrah. Pada tahun itulah haji diwajibkan. Tetapi Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah". Maka barangsiapa yang tidak mampu, ia tidak wajib berhaji.

Firman Allah "Dan barangsiapa kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) semesta alam", merupakan dalil bahwa meninggalkan haji bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah merupakan kekafiran, tetapi kekafiran ini tidak mengeluarkan seseorang dari millah, menurut jumhur ulama. Pendapat ini berdasarkan perkataan Abdullah bin Syaqiq, "Para sahabat Rasulullah tidak memandang ada suatu amalan yang jika ditinggalkan merupakan kekafiran, kecuali shalat." (33)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

33. HR. Tirmidzi dalam Kitabul Iman, bab "Ma Ja-a fi Man Tarakash Shalah".

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Dalil Puasa | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Dalil puasa 1) adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa." 2) (Al-Baqarah [2]: 183)

Syarah:

1) Maksudnya, dalil mengenai kewajiban berpuasa adalah firman Allah di atas. Ada beberapa faedah dari firman Allah yang menyebutkan, "Sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian", yaitu:

Pertama: Puasa merupakan ibadah yang penting, di mana Allah 'Azza wa Jalla juga mewajibkannya kepada umat-umat sebelum kita. Ini menunjukkan kecintaan Allah 'Azza wa Jalla kepada ibadah puasa tersebut dan bahwa ia merupakan ibadah yang harus dilaksanakan oleh setiap umat.

Kedua: Keringanan yang diberikan bagi umat ini, di mana ia bukan merupakan satu-satunya umat yang mendapatkan kewajiban puasa, yang barangkali memberatkan jiwa maupun badan.

Ketiga: Isyarat bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama umat ini, di mana Dia telah menyempurnakannya dengan amalan-amalan utama yang terdapat pada umat-umat sebelumnya.

2) Dalam ayat ini Allah 'Azza wa Jalla menjelaskan hikmah puasa, yaitu dengan firman-Nya, "Agar kalian bertakwa". Artinya agar kalian bertakwa kepada Allah berkat puasa dan berbagai amalan yang terkandung di dalamnya yang merupakan sifat-sifat ketakwaan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah mengisyaratkan faedah ini dalam sabdanya:

"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perilaku jahat, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minumnya (Allah tidak membutuhkan puasanya, -penerj.)." (32)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

32. HR. Bukhari dalam Kitabush Shaum, bab: "Man lam yada' Qaulas Zuri wal 'Amala bihi fish Shaum."

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Dalil Shalat dan Zakat | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Dalil shalat, zakat 1), dan penafsiran tauhid adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat 2). Demikian itulah 3) tuntunan agama yang lurus 4)." (Al-Bayyinah [98]: 5)

Syarah:

1) Maksudnya, dalil yang menunjukkan bahwa shalat dan zakat merupakan bagian dari agama adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus." (Al-Bayyinah [98]: 5)

Ayat ini bersifat umum dan meliputi seluruh jenis ibadah. Dalam pelaksanaan semua ibadah itu, manusia wajib memurnikan ketaatan kepada Allah, meluruskan niat, serta mengikuti syariat-Nya.

2) Ini termasuk dalam kategori penggabungan kata yang khusus kepada yang umum, karena mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat termasuk ibadah, tetapi Allah 'Azza wa Jalla menyebutkan kedua jenis ibadah ini karena keduanya memiliki nilai yang penting. Shalat adalah ibadah badan, sedangkan zakat adalah ibadah harta. Keduanya biasa disebutkan seiring dalam Al-Quran.

3) Maksudnya adalah ibadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan bersikap lurus serta mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat.

4) Maksudnya adalah agama yang lurus, yang tidak ada kebengkokan padanya, karena ia adalah agama Allah 'Azza wa Jalla, sedangkan agama Allah adalah agama yang lurus. Sebagaimana firman Allah:

"Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka hendaklah kalian mengikuti-Nya; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya..." (Al-An'am [6]: 153)

Ayat dalam surat Al-Bayyinah yang dikemukakan oleh penulis ini, mengandung penyebutan tentang ibadah dan shalat, di samping juga mengandung hakikat tauhid, yaitu keikhlasan kepada Allah 'Azza wa Jalla tanpa menyimpang kepada syirik. Barangsiapa tidak ikhlas kepada Allah, maka ia bukan seorang yang bertauhid. Dan barangsiapa beribadah kepada selain Allah, maka ia juga bukan orang yang bertauhid.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Makna Syahadat Muhammadur Rasulullah (2) | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Syahadat ini menuntut anda untuk membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kecuali dengan apa yang disyariatkannya. Syahadat juga menuntut agar anda tidak berkeyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam memiliki hak rububiyah dan pengaturan alam semesta, atau hak untuk disembah. Dia adalah hamba yang tidak boleh disembah, Rasul yang tidak boleh didustakan, serta tidak berkuasa sedikit pun untuk memberikan manfaat dan mudarat bagi dirinya maupun orang lain kecuali jika dikehendaki oleh Allah. Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla:

"Katakanlah, 'Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang gaib, dan tidak pula aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang Malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku..." (Al-An'am [6]: 50)

Beliau adalah seorang hamba yang mendapatkan dan mengikuti perintah Allah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula kemanfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya.'" (Al-Jinn [72]: 21-22)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,

"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raf [7]: 188)

Dengan demikian, anda mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam maupun makhluk-makhluk yang berkedudukan lebih rendah daripada beliau tidak berhak untuk diibadahi dan disembah serta bahwa ibadah hanyalah untuk Allah 'Azza wa Jalla semata. Allah berfirman,

"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (Al-An'am [6]: 162-163)

Anda mengetahui bahwa beliau hanya berhak untuk ditempatkan pada kedudukan yang diberikan oleh Allah 'Azza wa Jalla, yaitu bahwa beliau adalah hamba dan Rasul-Nya, semoga shalawat dan salam Allah terlimpah kepada beliau.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Makna Syahadat Muhammadur Rasulullah | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Dalil syahadat bahwa Muhammad Rasulullah, adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri kalian sendiri 1), terasa berat olehnya penderitaan kalian 2), sangat menginginkan (memberi manfaat dan mencegah bahaya) untuk kalian 3), amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang beriman." 4) (At-Taubah [9]: 128). Syahadat bahwa Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah Rasulullah maknanya adalah menaati perintahnya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kecuali dengan cara yang disyariatkannya. 5)

Syarah:

1) Firman Allah, "Dari diri kalian sendiri" artinya dari kalangan bangsa manusia sendiri, bahkan juga dari tengah masyarakat kalian sendiri. Sebagaimana firman Allah:

"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Al-Jumu'ah [62]: 2)

2) Maksudnya adalah beliau ikut merasakan penderitaan yang menimpa mereka.

3) Maksudnya adalah beliau memiliki sifat kasih dan sayang kepada orang-orang beriman. Kasih dan sayang tersebut beliau khususkan untuk orang-orang yang beriman, karena beliau diperintahkan untuk berjihad dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sifat-sifat ini semua yang dimiliki oleh Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) menunjukkan bahwa beliau benar-benar utusan Allah, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh firman Allah 'Azza wa Jalla, "Muhammad adalah utusan Allah." (Al-Fath [48]: 29)

Juga firman Allah, "Katakanlah, 'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua." (Al-A'raf [7]: 158). Banyak sekali ayat yang semakna dengan ini, yang menunjukkan bahwa Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah benar-benar utusan Allah.

4) Syahadat bahwa Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah Rasulullah artinya pernyataan dengan lisan dan keyakinan dengan hati bahwa Muhammad bin Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah utusan Allah 'Azza wa Jalla kepada seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia. Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla, "Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat [51]: 56). Mereka tidak bisa beribadah kepada Allah kecuali dengan tuntunan wahyu yang dibawa oleh Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla, "Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (Al-Furqan [25]: 1)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Makna Syahadat La Ilaha Illallah (II) | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Penafsiran yang menjelaskannya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Ingatlah ketika Ibrahim 1) berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Sungguh aku menyatakan lepas 2) dari segala yang kalian sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakanku di atas fithrah 3), karena sesungguhnya Dia akan menunjukiku. 4)' (Ibrahim) menjadikan kalimat itu 5) kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali kepadanya (dari kesyirikan)." (Az-Zukhruf [43]: 26-28). Dan firman Allah, "Katakanlah 6), 'Hai Ahli Kitab! Marilah kalian kepada suatu kalimat 7) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, yaitu hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tida mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah 8).' Jika mereka berpaling, maka katakan, 'Saksikan bahwa kami orang-orang yang muslim.' 10)" (Ali 'Imran [3]: 64)

Syarah:

1) Ibrahim ('alaihis salam) adalah kesayangan Allah, imam para penganut ajaran tauhid, dan Rasul yang paling utama setelah Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Ayahnya bernama Azar.

2) Kata "براء" adalah shifah musyabbahah dari kata "البراءة", maknanya lebih tegas dibandingkan "بريء". Perkataan Ibrahim ('alaihis salam), "Aku menyatakan lepas dari segala yang kalian sembah", setara dengan ucapan, "Tidak ada ilah".

3) Perkataan Ibrahim ('alaihis salam), "Kecuali Tuhan yang telah menciptakanku di atas fithrah", setara dengan ucapan, "Kecuali Allah". Jadi Allah 'Azza wa Jalla tidak mempunyai sekutu dalam peribadahan, sebagaimana Dia tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan. Dalilnya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla:

"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam." (Al-A'raf [7]: 54)

Ayat ini membatasi penciptaan dan hak memerintah pada Allah Rabbul 'Alamin saja. Dialah yang menciptakan dan Dialah yang memerintah, baik perintah dalam pengertian kauni maupun dalam pengertian syar'i.

4) "Akan menunjukiku", artinya akan menunjukkan kebenaran kepadaku dan menolongku dalam melaksanakannya.

5) "Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat itu", yaitu kalimat yang mengandung makna pernyataan berlepas diri dari setiap sesembahan selain Allah.

6) Perintah ini ditujukan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, agar beliau berdialog dengan Ahli Kitab, yaitu yahudi dan nasrani.

7) "Marilah kalian kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian." Kalimat yang dimaksudkan di sini adalah hendaklah kita tidak beribadah, kecuali kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah. Pernyataan, "Kita tidak beribadah kecuali kepada Allah" adalah makna "La ilaha illallah".

8) Janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah 'Azza wa Jalla, di mana ia dipuja sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla dipuja, disembah sebagaimana Allah disembah, dan diberi hak untuk membuat hukum bagi yang lain.

9) "Jika mereka berpaling", artinya jika mereka menolak ajakan kalian.

10) Artinya, maka umumkan dan persaksikanlah bahwa kalian orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Kalian berlepas diri dari sikap mereka yang membandel dan berpaling dari kalimat yang agung ini, yaitu "La ilaha illallah".

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Makna Syahadat La Ilaha Illallah (2) | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Jawaban atas kerancuan ini menjadi jelas dengan menafsirkan khabar dalam kalimat "La ilaha illallah", yaitu kita mengatakan "Semua tuhan selain Allah yang diibadahi ini memang disebut tuhan, tetapi semua itu merupakan tuhan yang batil, bukan tuhan yang haq. Mereka tidak memiliki hak ketuhanan sama sekali. Itu ditunjukkan oleh firman Allah 'Azza wa Jalla:

"Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (Al-Hajj [22]: 62)

Hal itu juga ditunjukkan oleh firman Allah 'Azza wa Jalla:

"Maka patutkah kalian menganggap lata dan uza. Dan manat yang ketiga, yang paling kemudian (sebagai anak Allah)? Apakah patut untuk kalian (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu, tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka." (An-Najm [53]: 19-23)

Juga firman Allah 'Azza wa Jalla mengenai Yusuf 'alaihis salam yang berkata:

"Kalian tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu..." (Yusuf [12]: 40)

Jadi, makna "La ilaha illallah" adalah tidak ada tuhan yang disembah secara haq kecuali Allah 'Azza wa Jalla. Adapun sesembahan-sesembahan selain-Nya adalah sesembahan yang batil. Ketuhanan yang dinyatakan oleh para penyembahnya adalah tidak benar, atau dengan kata lain, batil.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Makna Syahadat La Ilaha Illallah | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Dalil syahadat adalah firman Allah Ta'ala, "Allah menyatakan bahwa tiada ilah selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan. (Juga menyatakan yang demikian itu) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada ilah selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." 1) (Ali 'Imran [3]: 18). Maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah. Pernyataan "tiada ilah" menafikan segala tuhan yang disembah selain Allah, serta menetap ibadah sebagai hak Allah saja, tanpa sekutu bagi-Nya dalam ibadah kepada-Nya. Sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya. 2)

Syarah:

1) Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyatakan diri, bahwa tiada ilah kecuali Dia. Pernyataan itu juga dilakukan oleh para Malaikat dan orang-orang yang berilmu. Allah juga menyatakan bahwa Dia senantiasa menegakkan keadilan. Kemudian pernyataan tersebut ditegaskan-Nya kembali dengan pernyataan, "Tiada ilah selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". Ayat ini mengandung pujian yang tinggi bagi para ulama, di mana Allah menggambarkan bahwa mereka mengeluarkan pernyataan bersama Allah dan para Malaikat. Yang dimaksud dengan ulama di sini adalah mereka yang mengetahui ilmu syariat, termasuk yang paling utama di antara mereka adalah para Rasul yang mulia.

Pernyataan ini merupakan pernyataan paling agung, karena keagungan yang menyatakan maupun yang dinyatakan. Yang menyatakan adalah Allah, Malaikat, dan para ulama; sedangkan yang dinyatakan adalah penunggalan Allah dalam uluhiyah-Nya. Apalagi pernyataan ini ditegaskan dengan "Tiada ilah selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

2) Maksud perkataan penulis, "Maknanya" adalah makna pernyataan "tiada ilah selain Allah". Di mana makna pernyataan ini adalah "tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah". Dengan menyatakan bahwa tidak ada ilah selain Allah, berarti seseorang mengakui dengan ucapan dan hatinya bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah 'Azza wa Jalla, karena Dia adalah ilah "إله" yang dalam bahasa Arab bermakna "مألوه" (yang diibadahi).

"التألّه" artinya "التعبّد". Kalimat "لا إله إلاّ اللّه" mengandung makna penafian dan penetapan. Penafian tersebut terkandung dalam kalimat "لا إله" (Tidak ada ilah), sedangkan penetapan tersebut terkandung dalam kalimat "إلاّ اللّه" (kecuali Allah). Kata Allah adalah lafzhul jalalah yang jika ditinjau dari struktur bahasa Arab berkedudukan sebagai badal (aposisi) dari khabar la yang terhapus. Penafsirannya "لاَ إِلَهَ بِحَقٍّ إِلاَّ اللَّه" "laa ilaaha bihaqqin illallaah" (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Penafsiran khabar yang terhapus itu dengan kata "بحقّ" memperjelas jawaban terhadap pertanyaan berikut: Bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, padahal banyak tuhan selain Allah yang diibadahi? Bukankah Allah sendiri menyebutnya sebagai alihah (tuhan-tuhan) dan para penyembahnya juga menyebutnya tuhan? Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"...karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka tuhan-tuhan selain Allah yang mereka seru, di waktu adzab Rabbmu datang..." (Hud [11]: 101)

Bagaimana mungkin kita menetapkan sifat ketuhanan bagi selain Allaha wj, sedangkan para Rasul berkata kepada kaum mereka:

"...beribadahlah kepada Allah, tidak ada tuhan bagi kalian selain-Nya..." (Al-A'raf [7]: 59)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Dinul Islam itu terdiri dari tiga tingkatan 1), yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Setiap tingkatan memiliki rukun 2). Rukun Islam ada lima 3), yaitu syahadat, yakni pernyataan bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah Al-Haram.

Syarah:

1) Penulis rahimahullah menjelaskan bahwa Dinul Islam itu ada tiga tingkatan, sebagian tingkatan itu berada di atas tingkatan yang lain yaitu Islam, Iman, dan Ihsan.

2) Dalilnya adalah sabda beliau dalam hadits yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khathab ketika Jibril datang bertanya kepada beliau tentang Islam, iman, dan ihsan. Beliau lantas menjelaskan hal itu kepada Jibril. Setelah itu beliau bersabda, "Ini Jibril yang datang untuk mengajari kalian tentang agama kalian." (30)

3) Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma yang berkata: Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) bersabda:

"Islam dibangun di atas lima rukun, yaitu syahadat bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah Al-Haram." (31)

4) Syahadat yang artinya penyataan bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, merupakan satu rukun. Keduanya merupakan satu rukun, padahal terdiri dari dua bagian, tidak lain karena ibadah-ibadah dilaksanakan berdasarkan upaya untuk mewujudkan makna keduanya. Ibadah tidak diterima kecuali jika dilaksanakan dengan ikhlas kepada Allah 'Azza wa Jalla, suatu hal yang terkandung dalam persaksian bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan meneladani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, yaitu yang terkandung dalam persaksian bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

30. Takhrijnya telah dikemukakan.

31. HR. Bukhari dalam Kitabul Iman, bab: "Qaulun Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam buniyal Islamu 'ala khamsin..." dan Muslim dalam Kitabul Iman, bab: "Bayanu Arkanil Islam wa Da'amihil 'Izham".

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pengertian Islam | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Kedua.

Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.

Prinsip kedua 1) adalah mengenal Dinul Islam dengan dalil. Islam adalah penyerahan diri 2) kepada Allah dengan bertauhid 3), kepatuhan kepada-Nya dengan menaati-Nya 4), dan pembebasan diri dari syirik dan orang-orang musyrik 5).

Syarah:

1) Maksudnya prinsip kedua di antara tiga prinsip yang dikupas di sini adalah mengenal Dinul Islam dengan dalil, yakni hendaklah seseorang mengenal Dinul Islam berikut dalil-dalilnya dari Al-Quran dan As-Sunnah.

2) Dinul Islam, atau katakanlah Islam, adalah:

"Penyerahan diri kepada Allah dengan bertauhid, ketundukan kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan pembebasan diri dari syirik dan orang-orang musyrik."

Ia mencakup tiga hal di atas.

3) Artinya, seorang hamba menyerahkan diri kepada Rabbnya secara syar'i, yaitu dengan mentauhidkan Allah 'Azza wa Jalla dan menunggalkan ibadah semata-mata kepada-Nya. Penyerahan diri semacam inilah yang pelakunya dipuji dan diberi pahala. Adapun penyerahan diri dalam artian pasrah kepada takdir, maka seorang hamba tidak mendapatkan pahala, karena dalam hal ini manusia tidak berdaya sedikit pun. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"...padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan." (Ali 'Imran [3]: 83)

4) Menaati-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena ketaatan itu terwujud dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.

5) Membebaskan diri dari syirik artinya meninggalkannya. Ini menuntut agar seseorang juga memisahkan diri dari orang-orang musyrik. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian ibadahi selain Allah. Kami mengingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja." (Al-Mumtahanah [60]: 4)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Nadzar | Macam-macam Ibadah | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).

Dalil nadzar 1) adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana." 2) (Al-Insan [76]: 7)

Syarah:

1) Dalil yang menunjukkan bahwa nadzar merupakan ibadah adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana." (Al-Insan [76]: 7)

2) Indikasi yang menunjukkan bahwa ayat tersebut merupakan dalil bahwa nadzar itu termasuk ibadah adalah bahwa Allah memuji mereka disebabkan mereka menunaikan nadzar. Ini menunjukkan bahwa Allah mencintai tindakan mereka itu, sedangkan setiap amal yang dicintai oleh Allah adalah ibadah.

Hal itu dikuatkan oleh firman Allah, "Dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana." (Al-Insan [76]: 7)

Ketahuilah bahwa nadzar yang para pelakunya dipuji oleh Allah 'Azza wa Jalla adalah seluruh macam ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Sebab jika seseorang mulai melaksanakan ibadah-ibadah wajib, berarti ia telah mewajibkan dirinya untuk melaksanakannya. Dalilnya adalah firman Allaha 'Azza wa Jalla:

"Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling rumah tua itu (Baitullah)." (Al-Hajj [22]: 29)

Adapun nadzar dalam artian seseorang mewajibkan diri untuk melakukan sesuatu atau hal-hal yang tidak wajib, maka hukumnya makruh. Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa nadzar tersebut haram, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam melarang nadzar dan bersabda:

"Sesungguhnya nadzar itu tidak mendatangkan kebaikan, yang mengeluarkannya hanyalah orang yang bakhil." (28)

Meskipun demikian, jika seseorang bernadzar untuk melaksanakan suatu amal ketaatan kepada Allah, ia berkewajiban untuk melaksanakannya, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, hendaklah ia menaati-Nya." (29)

Ringkasnya, nadzar adalah istilah yang kadang-kadang digunakan untuk menyebut ibadah-ibadah wajib secara umum dan kadang-kadang digunakan untuk menyebut nadzar khusus, yaitu tindakan seseorang mewajibkan dirinya untuk melaksanakan sesuatu sebagai ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Para ulama membagi nadzar khusus ini menjadi beberapa bagian, penjelasannya secara panjang lebar terdapat dalam kitab-kitab fikih.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

28. HR. Bukhari, Kitabul Qadar, bab "Ilqa`ul 'Abdin Nadzara ilal Qadar", dan Muslim dalam Kitabun Nadzar, bab "An-Nahyu 'anin Nadzar wa Annahu la Yaruddu Syai`an".

29. HR. Bukhari, Kitabul Aiman wan Nudzur, bab "An-Nadzar fi ma la yamliku wa fi Ma'shiyyah".

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Menyembelih | Macam-macam Ibadah | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).

Dalil penyembelihan adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam; tiada sekutu bagi-Nya." 1) (Al-An'am [6]: 162-163). Dalil penyembelihan dari Sunnah adalah "Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah." (25)

Syarah:

1) Ada beberapa macam penyembelihan:

Pertama: Penyembelihan yang dilakukan sebagai ibadah yang ditujukan untuk mengagungkan sesuatu atau merendahkan diri dan mendekatkan diri kepada sesuatu. Penyembelihan semacam ini tidak boleh diperuntukkan kepada selain Allah dan dengan cara selain yang disyariatkan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Melaksanakan penyembelihan semacam ini untuk sesuatu selain Allah merupakan syirik akbar. Dalilnya adalah ayat yang telah disebutkan oleh Syaikh rahimahullah, yaitu firman Allah:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya..." (Al-An'am [6]: 162-163)

Kedua: Penyembelihan yang dilaksanakan sebagai penghormatan kepada tamu, untuk pesta perkawinan, dan sebagainya. Ini diperintahkan, hukumnya bisa wajib atau sunah. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah menghormati tamunya." (26)

Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam kepada Abdurrahman bin Auf (radhiyallahu 'anhu):

"Adakanlah walimah, walaupun dengan seekor kambing." (27)

Ketiga: Penyembelihan yang dilaksanakan untuk bersenang-senang dengan memakannya, memperdagangkannya, dan sebagainya. Ini merupakan perbuatan mubah. Pada dasarnya perbuatan ini mubah, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Tidakkah mereka melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan." (Yasin [36]: 71-72)

Bisa jadi, penyembelihan semacam ini menjadi diperintahkan atau dilarang, tergantung kepada sarana apakah yang digunakan untuknya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

25. HR. Muslim, Kitabul Adhahi, bab "Tahrimudz dzabhi lighairillahi 'Azza wa Jalla wa La'ni Fa'ilihi".

26. HR. Bukhari, Kitabul Adab, bab "Man Kana Yu'minu billahi wal Yaumil Akhiri fala Yu'dzi jarahu", dan Muslim dalam Kitabul Luqathah, bab "Adh-Dhiyafah wa Nahwuha".

27. HR. Bukhari, Kitabul Buyu', bab "Ma Ja'a fi Qaulihi, Faidza Qudhiyatish Shalah", dan Muslim dalam Kitabun Nikah, bab "Ash-Shaddaq wa Jawazu Kaunihi Ta'limal Qur'an Khatama Hadits".

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Istighatsah | Macam-macam Ibadah | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).

Dalil istighatsah adalah firman Allah, "Ingatlah ketika kalian memohon keselamatan kepada Rabb kalian, lalu diperkenankan-Nya permohonan kalian itu." 1) (Al-Anfal [8]: 9)

Syarah:

1) Istighatsah artinya memohon keselamatan dari penderitaan dan kebinasaan. Istighatsah dibagi menjadi empat:

Pertama: Memohon keselamatan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Ini merupakan salah satu amalan yang sangat utama dan sempurna. Ia merupakan tradisi para Rasul dan pengikut mereka. Dalilnya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh rahimahullah, yaitu firman Allah:

"Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. Sesungguhnya Aku mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu Malaikat yang berturut-turut." (Al-Anfal [8]: 9)

Itu terjadi pada waktu perang Badar, ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam melihat jumlah pasukan musyrik seribu personil, sedangkan jumlah para sahabatnya hanya tiga ratus personil lebih sedikit. Maka beliau masuk ke dalam kemah, lantas memohon kepada Rabbnya seraya mengangkat tangan dan menghadap kiblat. Beliau berdoa:

اَللَّهُمَّ أَنجِزْ لِيْ مَاوَعَدْتَنِيْ, اَللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِ سْلاَمِ تُعْبَدْ فِي اْلأَرْضِ.

Allaahumma anjizlii maa wa 'adtanii, allaahumma intuhlik hadzihil 'ishaabata min ahlil islaami laa tu'bad fil ardhi.

"Ya Allah, tunaikanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika Engkau menghancurkan kelompok orang Islam ini, niscaya Engkau tidak lagi diibadahi di muka bumi." (24)

Beliau terus melakukan istighatsah kepada Rabbnya seraya mengangkat tangannya, sampai-sampai selendang beliau jatuh dari pundak, lantas diambil oleh Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dan diletakkannya kembali di atas pundak beliau. Kemudian Abu Bakar mendekati beliau dari belakang, lalu berkata, "Wahai Nabi Allah, Rabbmu pasti mengabulkan permohonanmu. Sesungguhnya Dia pasti menunaikan janji-Nya kepadamu." Lantas Allah menurunkan ayat ini.

Kedua: Memohon keselamatan kepada mayit atau makhluk hidup yang tidak terlihat dan tidak mampu memberikan keselamatan. Ini merupakan tindakan syirik. Sebab tindakan ini tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang mempunyai keyakinan bahwa mereka memiliki kekuasaan tersembunyi dalam mengelola alam semesta. Dengan demikian, ia telah menganggap mereka itu memiliki sebagian sifat ketuhanan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan, bila ia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Amat sedikit kalian mengingat-Nya." (An-Naml [27]: 62)

Ketiga: Memohon keselamatan kepada makhluk hidup yang mengetahui dan mampu memberikan keselamatan. Tindakan ini dibolehkan, sebagaimana dibolehkannya meminta pertolongan kepada mereka. Allah 'Azza wa Jalla berfirman tentang kisah Musa ('alaihis salam):

"... Maka orang yang dari golongannya meminta agar diselamatkannya terhadap orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu..." (Al-Qashash [28]: 15)

Keempat: Memohon keselamatan kepada makhluk hidup yang tidak mampu memberikan pertolongan, tanpa meyakini bahwa ia mempunyai kekuatan tersembunyi. Contohnya adalah orang yang tenggelam meminta tolong kepada orang lain yang tangannya buntung. Ini merupakan tindakan sia-sia atau ejekan terhadap orang yang dimintainya untuk menyelamatkannya. Tindakan ini dilarang disebabkan oleh alasan ini dan satu alasan lain bahwa tindakan orang yang tenggelam ini bisa memperdayakan orang lain, sehingga orang lain tersebut berkeyakinan bahwa orang yang tangannya buntung itu memiliki kekuatan tersembunyi yang bisa menyelamatkan dari kesusahan.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

24. HR. Muslim dalam Kitabul Jihad, bab "Al-Imdad bil Malaikati fi Ghazwati Badr".

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah