Memilih Rofiq yang Benar-benar Ahli dalam Pengobatan | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Rofiq Thibb (Ahli Pengobatan)

Beberapa prinsip metode pengobatan Nabawi yang telah dijelaskan oleh As-Sunnah Asy-Syarifah adalah sebagai berikut:

Memilih Rofiq (Pelaku Pengobatan) yang Benar-benar Ahli dalam Pengobatan

Diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillah rodhiyallohu 'anhuma bahwa Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Setiap penyakit ada obatnya, jika obat mengenai penyakit, maka ia akan sembuh dengan izin Alloh." (52)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu 'anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Alloh tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali juga menurunkan obatnya." (53)

=====

52) Shohih Muslim, (2204).

53) Shohihul Bukhori, (5678).

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Rofiq Thibb (Ahli Pengobatan) | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Rofiq Thibb (Ahli Pengobatan)

Seseorang bisa dikatakan ahli dalam hal pengobatan apabila ia -dengan seizin Alloh- bisa memisahkan unsur-unsur yang apabila berkumpul menimbulkan bahaya bagi manusia, mengumpulkan unsur-unsur yang apabila terpisah menimbulkan bahaya, mengurangi unsur-unsur yang keberadaannya dalam kadar berlebih membahayakan, atau menambah unsur-unsur yang keberadaannya dalam kadar rendah bisa membahayakan; sehingga bisa memulihkan kesehatan yang hilang, atau memelihara kesehatan dengan memasukkan unsur yang sama atau serupa, menghilangkan penyakit dengan memasukkan unsur kebalikannya, serta mengeluarkan penyakit -atau mencegah terjadinya penyakit- dengan penangkal. Anda akan melihat, dalam ajaran Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam terdapat petunjuk-petunjuk yang bisa menjadi penyembuh yang memadai, dengan daya, kekuatan, karunia, dan pertolongan Alloh. (51)

=====

51) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 9.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Metode Pengobatan Nabawi | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Antara Pengobatan Nabawi dan Pengobatan Konvensional

Metode Pengobatan Nabawi

Ibnul Qoyyim berkata, "Metode pengobatan Nabawi tidak sebagaimana metode pengobatan para dokter. Pengobatan Nabawi sifatnya pasti, qoth'i, dan ilahi, bersumber dari wahyu, pelita kenabian, dan kesempurnaan akal. Adapun pengobatan lainnya kebanyakan berlandaskan perkiraan, dugaan, dan percobaan-percobaan. Memang tidak perlu dibantah bahwa banyak orang sakit yang tidak merasakan manfaat pengobatan Nabawi, karena yang bisa mendapatkan manfaat pengobatan Nabawi adalah siapa yang mau menerimanya dengan percaya dan yakin akan diperolehnya kesembuhan. Ia menerimanya dengan sepenuh hati, dengan keimanan dan kepatuhan. Al-Quran yang merupakan penyembuh apa yang ada di dalam hati ini, jika tidak diterima dengan penerimaan sepenuh hati, juga tidak akan bisa mewujudkan kesembuhan hati dari berbagai macam penyakitnya, bahkan tidak menambahkan kepada orang-orang munafik selain dosa-dosa dan penyakit-penyakit yang bertumpuk-tumpuk.

Bagaimana dengan pengobatan jasmani?! Metode pengobatan Nabawi tidak cocok kecuali untuk jasmani yang baik, sebagaimana penyembuhan Al-Quran tidak cocok kecuali untuk ruh yang baik dan hati yang hidup. Berpalingnya manusia dari metode pengobatan Nabawi sebagaimana berpalingnya mereka dari pengobatan dengan Al-Quran yang merupakan penyembuh manjur. Itu bukan disebabkan kekurangan pada obat, tetapi buruknya karakter, rusaknya tempat, dan tidak adanya penerimaan." (48)

Pengobatan Nabawi adalah metode pengobatan yang digunakan, diperintahkan, dan dianjurkan oleh Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dan beliau melarang kebalikannya.

Mari kita cermati ucapan Ibnul Qoyyim tentang pengobatan para Nabawi, "Ada obat-obatan yang menyembuhkan berbagai penyakit, yang tidak terjangkau oleh nalar para pakar pengobatan serta oleh pengetahuan, eksperimen, dan analogi mereka, yaitu obat-obatan hati dan ruhani, kekuatan hati, ketergantungan, tawakal, bersandarnya hati kepada Alloh, patahnya harapan di hadapan-Nya, ketundukan kepada-Nya, sedekah, doa, taubat, istighfar, berbuat baik kepada sesama manusia, menolong orang kesusahan, dan memberikan jalan keluar orang yang kesulitan.

Obat-obatan ini sudah dicoba oleh bangsa-bangsa dengan berbagai macam agama mereka, maka mereka merasakan pengaruhnya dalam penyembuhan penyakit, yang belum bisa dicapai oleh pengetahuan, eksperimen, dan analogi dokter yang paling ahli sekalipun.

Saya dan banyak orang lain telah mencoba obat-obatan ini dan kami mendapati obat-obatan ini berkhasiat melebihi khasiat obat-obatan yang bersifat materi." (49)

Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam menyayangi kita dan telah memberi kita petunjuk tentang banyak obat-obatan, mengajari kita cara untuk memanfaatkannya, sehingga diperoleh kesembuhan dengan izin Alloh. Jika kita mencermati sabda-sabda beliau tentang pengobatan, baik pengobatan yang beliau laksanakan untuk mengobati diri sendiri, atau beliau resepkan dan anjurkan kepada orang lain, maka di dalamnya akan kita temukan hikmah yang tidak mampu dinalar oleh akal kebanyakan dokter.

Ibnul Qoyyim juga berkata, "Bahkan, perbandingan metode pengobatan para dokter dengan metode pengobatan Nabawi adalah seperti perbandingan antara metode pengobatan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dengan metode pengobatan para dokter. Hal ini telah diakui oleh pakar-pakar dan tokoh-tokoh kedokteran." (50)

=====

48) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 11-12.

49) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 11-36.

50) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 11-36.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Antara Pengobatan Nabawi dan Pengobatan Konvensional | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Antara Pengobatan Nabawi dan Pengobatan Konvensional

Istilah thibb, dalam bahasa Arab, digunakan untuk menyebut beberapa makna, di antaranya:

1. Perbaikan. Anda mengatakan, "Thobabtuhu", maka itu artinya, "Saya memperbaikinya."

2. Kelembutan dan pengaturan. Kadang, seseorang dinyatakan, "Thobba bil umur." (46)

3. Kecerdasan. Jauhari berkata, "Orang-orang Arab biasa menyebut siapa pun yang cerdas dengan sebutan thobib." Abu 'Ubaid berkata, "Asal istilah thibb adalah kecerdasan dan keterampilan tentang sesuatu. Bila seseorang disebut sebagai thobib adalah jika ia seorang yang cerdas dan ahli, meskipun bukan dalam urusan pengobatan orang sakit." Yang lain mengatakan, "Seseorang disebut thobib, artinya ia cerdas. Ia disebut thobib karena kecerdasannya."

4. Kebiasaan. Dikatakan "Laisa bi thibbi", artinya, "bukan kebiasaanku."

5. Sihir. Dikatakan, "Rojulun mathbub", artinya, "seseorang yang tersihir." Abu 'Ubaid berkata, "Mereka menyebut orang yang terkena sihir dengan sebutan mathbub, karena mereka menyebut sihir dengan thibb." Ibnu Sayyid berkata, "Thobb, dengan fathah pada tho', artinya orang yang mengerti berbagai persoalan. Begitu juga seorang thobib. Adapun thibb, dengan kasroh, artinya perbuatan mengobati. Adapun thubb, dengan dhommah, adalah nama tempat."

Adapun thibb secara istilah adalah ilmu untuk mengetahui kondisi-kondisi badan manusia dari aspek kesehatannya maupun apa yang hilang darinya, untuk memelihara kesehatan yang ada dan mengembalikan yang hilang. (Kutipan dari perkataan Ibnul Qoyyim) (47)

=====

46) Maksudnya, ia bisa mengatur berbagai persoalan, -penerj.

47) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 135-137.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Klasifikasi Penyakit | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Tabib dan Metode Pengobatan

Klasifikasi Penyakit

Penyakit diklasifikasikan menjadi dua, yaitu penyakit hati dan penyakit badan.

Adapun pengobatan yang merupakan sarana kesembuhan hanya satu klasifikasi, yaitu pengobatan Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam, yaitu wahyu yang berasal dari Ath-Thobib (43) kepada Al-Habib shollallohu 'alaihi wa sallam. (44)

Ibnu Qoyyim (rohimahulloh) berkata, "Ada orang yang mengatakan, 'Apa kaitan ajaran Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dengan persoalan ini, penjelasan tentang khasiat obat-obatan, prinsip-prinsip penyembuhan, dan penanganan urusan kesehatan?!' Pertanyaan ini mencerminkan kekurangpahaman tentang ajaran dan petunjuk yang dibawa oleh Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam. Pemahaman yang baik tentang Alloh dan Rosul-Nya, merupakan karunia yang dianugerahkan oleh Alloh kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Saya telah sampaikan kepada Anda tentang tiga prinsip pengobatan dalam Al-Quran.

Mengapa masih juga tidak percaya bahwa syariat Islam yang dibawa oleh Rosul yang diutus untuk memperbaiki urusan dunia dan akhirat ini mencakup juga kebaikan dalam aspek fisik, sebagaimana ia mencakup kebaikan dalam aspek hati (psikis)? Jangan karena tidak tahu, lalu menjadi antipati.

Andaikata seorang hamba dikaruniai penguasaan tentang Kitab Alloh dan Sunnah Rosul-Nya serta pemahaman sempurna terhadap teks-teks berikut konsekuensi-konsekuensinya, niscaya ia tidak membutuhkan keterangan-keterangan lain dan bisa menyimpulkan semua ilmu pengetahuan yang benar darinya." (45) Demikianlah kata Ibnul Qoyyim.

=====

43) Sang Tabib atau Sang Dokter, dalam hal ini adalah Alloh Subhanahu wa Ta'ala, -penerj.

44) Sang kekasih, dalam hal ini adalah Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam, -penerj.

45) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 414.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Pengobatan Nabawi (Thibbun Nabawi) | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Tabib dan Metode Pengobatan

Pengobatan Nabawi (Thibbun Nabawi)

Pengobatan Nabawi adalah metode pengobatan yang dijelaskan oleh Nabi shollallohu'alaihi wa sallam kepada orang yang mengalami sakit tentang apa yang beliau ketahui berdasarkan wahyu. Metode pengobatan ini sangat meyakinkan untuk menjadi sebab kesembuhan, sedangkan pengobatan lain lebih banyak merupakan hipotesis (dugaan).

Pengobatan ini bersandar kuat kepada akidah Islamiyah yang menyatakan bahwa Alloh adalah pemilik alam semesta ini, bahwa di tangan Alloh terletak kesembuhan. Dia yang memberikan kesembuhan kepada manusia. Ketika Ibrohim mengatakan, "Jika aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku." (Asy-Syu'aro` [26]: 80), tidak lain pernyataan ini merupakan penegasan tentang hakikat dan akidah yang seyogyanya tidak hilang dari hati setiap muslim.

Jangan pula hilang dari pemikiran setiap muslim ingatan tentang hadits Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam, "Tidak ada penularan dan tidak ada thiyaroh." (39)

Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam membantah bahwa penularan penyakit dapat terjadi dengan sendirinya. Sakit dan sembuh tidak akan terjadi kecuali dengan izin dan takdir Alloh. Juga jangan lupa sabda beliau kepada seseorang yang menyatakan dirinya sebagai tabib, "Engkau adalah seorang rofiq, sedangkan Sang Tabib adalah Alloh." (40) Kesembuhan dan kesehatan adalah di tangan Alloh saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Karena tawazun (keseimbangan) merupakan ciri khas Islam, maka dari sisi lain kita mendapati perintah Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam untuk berobat dan anjuran beliau untuk tidak berpangku tangan. (41)

Beliau juga menegaskan bahwa Alloh memberikan kesembuhan kepada siapa yang mengupayakan sebab-sebabnya, dengan syarat hendaklah ia meyakini bahwa obat merupakan sebab semata, obat sendiri tidak memiliki kemampuan alamiah untuk menyembuhkan kecuali bila Alloh menghendaki hal itu. Barangsiapa yang meyakini bahwa sebab-sebab itu bisa memberikan pengaruh dengan sendirinya, maka keyakinannya itu salah. Itulah keyakinan keliru yang terjadi pada kaum Nabi Ibrohim 'alaihis salam, ketika mereka meyakini bahwa api memiliki kekuatan substantif untuk membakar, tidak mungkin melewatkan Ibrohim dalam keadaan tidak terbakar. Maka, Alloh memperlihatkan kepada mereka sebuah contoh nyata dan mencabut sifat membakar yang ada pada api itu, sehingga jadilah api itu dingin dan selamatlah Ibrohim.

Mengupayakan sebab merupakan hal yang diperintahkan dalam syariat. Ada bermacam jenis sebab, ada yang bersifat ilahi seperti doa, ada yang bersifat alami seperti obat. Ada pula yang merupakan perpaduan dari keduanya, seperti doa yang disertai dengan obat. Alloh 'Azza wa Jalla adalah yang menciptakan doa dan obat, sebagaimana dalam hadits Usamah bin Syarik, ia berkata: Saya pernah datang kepada Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, (keadaan hening) seolah-olah di atas kepala mereka ada burung. Saya pun mengucapkan salam, kemudian duduk. Tak lama kemudian, datanglah orang-orang Arab Badui dari sana dan sini. Mereka bertanya, "Wahai Rosululloh, apakah kami boleh berobat?" Beliau menjawab, "Berobatlah, sesungguhnya Alloh tidak menciptakan penyakit kecuali juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu tua." (42)

Maka, kita berkewajiban mengupayakan sebab-sebab, karena Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam memerintahkan dan melaksanakannya. Ketika sakit, beliau berobat. Di samping itu, kita juga harus memiliki sifat sabar, karena bersabar terhadap penyakit berpahala surga, sebagaimana terdapat dalam hadits tentang seorang wanita yang terkena penyakit ayan. Ia menerima dan bersabar terhadap penyakit itu dengan harapan mendapat pahala surga.

=====

39) Sikap pesimis yang mencegah seseorang melakukan tindakan disebabkan melihat tanda-tanda tertentu, -penerj.

40) Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohihul Jami`, (1252).

41) Ash-Shina'atuth Thibbiyyah, Ibnu Thorhan, pada bagian pengantar buku.

42) Sunan Abu Dawud, Syaikh Al-Albani berkata, "Shohih." Shohihul Jami' (2930).

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Tabib dan Metode Pengobatan | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Dengan nama Alloh dan dengan memuji-Nya, saya akan menyampaikan kepada Anda materi-materi ilmiah yang berasal dari Sunnah Nabi yang shohih, pemahaman para sahabat, dan penafsiran para ulama yang dikenal kesholihan mereka. Agar hati menjadi mantap dan berucap mengakui kebenaran Alloh 'Azza wa Jalla dan kebenaran Rosul-Nya shollallohu 'alaihi wa sallam. Kami menggabungkan materi-materi ilmiah ini dengan beberapa riset medis, dalam rangka meneladani apa yang dikatakan oleh "bapak para Nabi", Ibrohim ('alaihis salam), dalam perkataannya yang dimuat dalam ayat berikut, "Dan (ingatlah) ketika Ibrohim berkata, 'Ya Robbi, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.' Alloh berfirman, 'Belum yakinkah kamu?' Ibrohim menjawab, 'Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)'..." (Al-Baqoroh [2]: 260)

Sholawat semoga senantiasa dilimpahkan kepada Muhammad beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Tabib dan Metode Pengobatan

Syafi'i (rohimahulloh) berkata, "Ilmu pengobatan merupakan ilmu yang paling utama setelah ilmu tentang halal dan haram."

Khoththobi berkata, "Pengobatan ada dua jenis. Pertama, pengobatan yunani yang berdasarkan analogi, dan kedua, pengobatan Arab dan India yang berdasarkan eksperimen."

Saya katakan bahwa banyak terdapat jenis pengobatan, dan pengobatan yang paling benar adalah "Pengobatan Wahyu". Pengobatan ini dilakukan hanya berdasarkan wahyu yang disampaikan kepada Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam. Dari beliau kita mempelajarinya. Ilmu pengobatan ini diturunkan dari "Sang Tabib" yang tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Nya. Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam pernah bersabda tentang orang yang berkata, "Aku seorang tabib." Sabda beliau, "Allohlah Tabib, tetapi engkau adalah seorang rofiq (kawan), tabibnya adalah yang menciptakannya." (38)

Ilmu pengobatan merupakan sebab kesembuhan, sedangkan kita diperintahkan untuk mengupayakan sebab. Sebab yang paling besar dan benar bagi kesembuhan adalah yang berdasarkan wahyu dari langit.

=====

38) As-Silsilatush Shohihah (1537), ia berkata, "Shohih."

=====

Maraji'/ Sumber:

  • Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Kewajiban Mengagungkan Allah | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 67

Kewajiban Mengagungkan Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Az Zumar: 67)

Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu menuturkan bahwa salah seorang rahib (pendeta, -ed.-) yahudi mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengatakan:

"Wahai Muhammad, kami mendapatkan (dalam Taurat, -pent) bahwa Allah akan meletakkan langit di atas satu jari, bumi yang berlapis-lapis di atas satu jari, pepohonan di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari dan seluruh makhluk di atas satu jari. Allah lantas berfirman, 'Aku adalah Penguasa...'" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun tersenyum hingga nampaklah gigi-giginya karena membenarkan ucapan orang alim yahudi tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas membaca firman Allah, "Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya." (HR. Bukhari 4811, 7415, 7451, Muslim 2786, dan Tirmidzi 3238)

Dalam riwayat Imam Muslim dikatakan,

"Gunung-gunung dan pepohonan di atas satu jari. Allah lantas menggoncangkannya lantas berfirman, "Aku-lah sang Penguasa dan Aku-lah Allah."

Dalam riwayat Imam Bukhari dikatakan,

"Allah meletakkan langit di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari, seluruh makhluk di atas satu jari." (HR. Bukhari Muslim)

Imam Muslim meriwayatkan hadits marfu' dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma,

"Pada hari Kiamat Allah 'Azza wa Jalla akan menggulung langit lantas memegangnya dengan tangan kanan-Nya. Allah lantas berfirman, 'Aku-lah sang Penguasa, mana orang-orang yang berbuat aniaya? Mana orang-orang yang menyombongkan diri?' Allah lantas menggulung tujuh bumi dan memegangnya dengan tangan kiri-Nya (172). Allah lantas berfirman, 'Aku-lah sang Penguasa, mana orang-orang yang berbuat aniaya? Mana orang-orang yang menyombongkan diri?'" (HR. Muslim 2788)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan,

"Tujuh langit dan tujuh bumi yang berada di telapak tangan Allah itu hanya seperti sebutir biji sawi di atas tangan seseorang di antara kalian." (Hasan, diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah 1090, Thabrani dalam At Tafsir 24/54)

Ibnu Jarir menuturkan bahwa Yunus telah menyampaikan hadits kepadanya dari Ibnu Wahb dari Ibnu Zaid dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tujuh langit yang berada di kursi Allah hanya seperti tujuh keping uang dirham yang dilemparkan di atas perisai." (HR. Thabrani dalam At Tafsir 3/10)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Abu Dzar (radhiyallahu'anhu) mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Kursi yang berada di 'Arsy itu hanya bagaikan sebuah cincin besi yang dilemparkan di atas padang pasir." (HR. Thabrani dalam At Tafsir 3/10)

Ibnu Mas'ud menuturkan,

"Jarak antara satu lapisan langit dunia dengan lapisan selanjutnya adalah perjalanan 500 tahun, jarak antara langi satu dengan langit yang lainnya adalah perjalanan 500 tahun. Jarak antara langit yang ketujuh dengan kursi Allah adalah perjalanan 500 tahun. Jarak antara kursi dan samudra air adalah perjalanan 500 tahun. 'Arsy berada di atas samudra air itu dan Allah berada di atas 'Arsy tersebut. Tidak ada amal perbuatan kalian yang tidak tampak oleh-Nya." (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi dari Hammad bin Salamah, dari 'Ashim, dari Zirr, dari Abdullah. Sanadnya shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab At Tauhid 149 dan Thabrani dalam Al Kabir 9887)

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Al Mas'udi dengan lafal yang sama dari 'Ashim, dari Abu Wail, dari Abdullah. Al Hafidz Adz Dzahabi mengatakan bahwa atsar tersebut memiliki banyak jalan periwayatan.

Al 'Abbas bin 'Abdil Muthalib menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Apakah kalian tahu berapakah jarak antara langit dan bumi?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Jarak langit dan bumi adalah perjalanan 500 tahun, sedangkan jarak antara tiap langit adalah perjalanan 500 tahun. Tebal tiap lapis langit adalah perjalanan 500 tahun. Di antara langit yang ketujuh dengan 'Arsy terdapat samudra yang jarak antara dasar dan permukaannya sama seperti jarak antara langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas semua itu. Tidak ada amal perbuatan manusia yang tidak tampak oleh-Nya." (HR. Abu Dawud dan selainnya)

Kandungan Bab

1. Tafsir firman Allah Ta'ala, "Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat." (173)

2. Pengetahuan tentang keagungan Allah dan sebagainya masih dikenal oleh orang-orang yahudi yang hidup pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan mereka tidak mengingkarinya dan tidak puka mengotak-atik maknanya.

3. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membenarkan keterangan dari orang alim yahudi tersebut bahkan Al Qur'an juga membenarkan hal itu.

4. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersenyum ketika orang alim yahudi menjelaskan pengetahuan yang agung itu.

5. Diterangkan bahwa Allah memiliki dua tangan, langit berada di tangan kanan dan bumi berada di tangan Allah yang lain.

6. Dijelaskan bahwa Allah juga memiliki tangan kiri.

7. Dijelaskan tentang keberadaan orang-orang yang lalim dan menyombongkan diri terhadap keagungan Allah.

8. Dijelaskan bahwa tujuh langit dan tujuh bumi jika diletakkan di atas telapak tangan Allah hanya seperti sebutir biji sawi diletakkan di atas tangan kita.

9. Besarnya kursi Allah dibandingkan dengan langit.

10. Luasnya 'Arsy dibandingkan dengan kursi Allah.

11. 'Arsy itu bukanlah kursi Allah maupun samudra air.

12. Jarak antara langit satu dengan langit yang berikutnya.

13. Jarak antara langit ketujuh dengan kursi Allah.

14. Jarak antara kursi Allah dan samudra air.

15. 'Arsy letaknya di atas samudra air.

16. Allah berada di atas 'Arsy.

17. Jarak antara langit dan bumi.

18. Tebal setiap langit adalah perjalanan 500 tahun.

19. Jarak antara permukaan dan dasar samudra yang berada di langit adalah perjalanan 500 tahun.

Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih mengetahui. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad, keluarganya dan para sahabat semuanya.

=====

Catatan Kaki:

172. Syaikh Albani mengatakan bahwa hadits ini syadz sebagaimana beliau terangkan dalam kitab Takhrijul Mushthalatil Arba'ah Al Waridah fil Qur'an. Syaikh Albani mengatakan bahwa yang menguatkan pernyataan bahwa kedua tangan Allah adalah kanan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yang berbunyi, "Dengan tangan-Nya yang lain," sebagai ganti dari pernyataan, "Dengan tangan kiri-Nya." Dengan demikian hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) yang menyatakan bahwa kedua tangan Allah adalah kanan. (Al Ashalah 4/15 Syawal 1413 H hal 68)

173. Ayat ini menjelaskan kewajiban untuk mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Bentuk perwujudan pengagungan terhadap Allah adalah dengan mentauhidkan-Nya dan menyucikan-Nya dengan tidak berbuat kesyirikan. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 377)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah