Daftar Isi | Terjemah Riyadhus Solihin Jilid 1

Riyadhus Solihin.

Terjemah Riyadhus Solihin Jilid 1.

Imam An-Nawawi rahimahullah.

Syeikh M. Nashiruddin Al-Albany rahimahullah.

Daftar Isi.

Pengantar Penerjemah.

Kata Pengantar Syeikh Al-Albani.

Pelajaran Pertama.

1. Diamnya Abu Daud.

2. Penilaian hasan dan shahih oleh Al-Tirmidzi 

Pelajaran Kedua.

Aneka Pelajaran.

Biografi Imam An-Nawawi.

Pengantar Penulis.

Bab 1. Ikhlash, dan Menghadirkan Niat dalam Segala Perbuatan, Ucapan dan Keadaan, yang Nampak Maupun yang Tersembunyi.

Bab 2. Taubat.

Bab 3. Sabar.

Bab 4. Jujur dan Benar (Shidq).

Bab 5. Merasa Selalu Diawasi oleh Allah (Muraqabah).

Bab 6. Taqwa.

Bab 7. Yakin dan Tawakkal.

Bab 8. Istiqamah.

Bab 9. Memperhatikan Kebesaran Allah dan Kehancuran Dunia, Kejadian Akhirat yang Menakutkan serta Mengingat Keteledoran Diri dan Membawanya untuk Beristiqamah.

Bab 10. Bergegas Menuju Kebaikan dan Mendorong Orang untuk Tidak Ragu-ragu Meniti Jalan Kebaikan.

Bab 11. Mujahadah (Berjuang Keras Mengendalikan Hawa Nafsu).

Bab 12. Anjuran Menambah Amal Kebaikan di Usia Senja.

Bab 13. Menerangkan Banyaknya Jalan Kebaikan.

Bab 14. Hemat dalam Taat.

Bab 15. Menjaga Kelestarian Amal.

Bab 16. Menjaga Kelestarian Sunnah dan Tata Tertibnya.

Bab 17. Kewajiban Tunduk pada Hukum Allah dan Bagaimana Sambutan Seorang yang Diajak Kembali Kepada Hukum Allah atau Diperintah Kebaikan atau Dicegah dari Mungkar.

Bab 18. Larangan Segala Bid'ah dan Hal yang Baru.

Bab 19. Memberi Contoh Amal Kebaikan atau Kejahatan.

Bab 20. Menunjukkan Kebaikan dan Mengajak Kepada Petunjuk atau Kesesatan.

Bab 21. Tolong Menolong dalam Kebajikan dan Takwa.

Bab 22. Nasehat.

Bab 23. Memerintah yang Baik dan Mencegah yang Mungkar.

Bab 24. Berat Siksa Orang yang Menganjurkan Kebaikan dan Mencegah dari yang Mungkar Tetapi Perkataannya Menyalahi Perbuatannya.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Riyadhus Solihin, Penulis: Imam An-Nawawi rahimahullah, Tahqiq: Tim Ahli dari Sejumlah Ulama, Takhrij: Syeikh M. Nashiruddin Al-Albany rahimahullah, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun, Judul Terjemahan: Terjemah Riyadhus Solihin, Penerjemah: Agus Hasan Bashori Al-Sanuwi Lc, Muhammad Syu'aib Al-Sanuwi Lc, Penerbit: Duta Ilmu, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Juli 2003 M.

Permulaan Turunnya Wahyu | Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari.

Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullaah.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Kitaabu Bad`il Wahyii.

1. Kitab Permulaan Turunnya Wahyu.

Permulaan Turunnya Wahyu.

Wahyu menurut etimologi (bahasa) adalah memberitahukan secara samar, atau dapat diartikan juga dengan tulisan, tertulis, utusan, ilham, perintah dan isyarat. Sedangkan menurut terminologi (syariat) adalah memberitahukan hukum-hukum syariat, namun terkadang yang dimaksud dengan wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan, yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun pengertian "permulaan turunnya wahyu" adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan permulaan turunnya wahyu.

انا او حينا اليك

Innaa aw hainaa ilaika.

(Sesungguhnya kami menurunkan wahyu kepadamu [Muhammad]).

Ada pendapat yang mengatakan, bahwa disebutkannya nama Nabi Nuh ('alaihis salam) dalam ayat tersebut, menunjukkan bahwa Nabi Nuh adalab Nabi yang pertama diutus oleh Allah atau Nabi pertama yang kaumnya mendapat siksaan, sehingga dengan demikian tidak menyalahi Nabi Adam ('alaihis salam) sebagai Nabi pertama. Masalah ini akan dibahas secara panjang lebar dalam masalah syafa'at. Sedangkan korelasi ayat ini dengan pembahasan tentang wahyu, adalah menjelaskan bahwa turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak berbeda dengan cara turunnya wahyu kepada Nabi-nabi sebelumnya. Seperti cara turunnya wahyu pertama kali kepada para Nabi adalah dengan mimpi, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Dalail dengan sanad hasan dari Alqamah bin Qais, teman Ibnu Mas'ud, dia berkata, "Sesungguhnya wahyu yang pertama turun kepada para Nabi adalah dengan cara mimpi sehingga hati mereka menjadi tenang, setelah itu Allah menurunkan wahyu kepada mereka dalam keadaan sadar."

1. Dari 'Alqamah bin Waqqash Al Laitsi bahwa ia berkata: Aku mendengar Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata di atas mimbar: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tiap-tiap amal perbuatan harus disertai dengan niat, balasan bagi setiap amal manusia sesuai dengan apa yang diniatkan. Barangsiapa yang berhijrah untuk mengharapkan dunia atau seorang perempuan untuk dinikahi, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkan."

Keterangan hadits:

علي المنبر.

'alal minbari.

(di atas mimbar), yaitu mimbar masjid Nabawi (Madinah).

انما الأعمال ب لنيات.

innamal a'maalu bin niyyaati.

(Tiap-tiap amal perbuatan harus disertai dengan niat).

Setiap pekerjaan harus didasari dengan niat. Al Khauyi mengatakan, seakan-akan Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) memberi pengertian bahwa niat itu bermacam-macam sebagaimana perbuatan. Seperti orang yang melakukan perbuatan dengan motivasi ingin mendapat ridha Allah dan apa yang dijanjikan kepadanya, atau ingin menjauhkan diri dari ancaman-Nya.

Sebagian riwayat menggunakan lafazh النيۃ dalam bentuk mufrad (tunggal) dengan alasan, bahwa tempat niat adalah dalam hati, sedangkan hati itu satu, maka kata niyat disebutkan dalam bentuk tunggal. Berbeda dengan perbuatan yang sangat tergantung kepada hal-hal yang bersifat lahiriah yang jumlahnya sangat banyak dan beragam, sehingga dalam hadits tersebut kata 'amal menggunakan lafazh jama' (plural) yaitu الأعمال selain itu niat hanya akan kembali kepada Dzat Yang Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Lafazh hadits yang tertulis dalam kitab Ibnu Hibban adalah الأعمال بالنيات tidak tertulis lafazh إنما dan ini juga terdapat dalam kitab Asy-Syihab karangan Al Qudha'i. Akan tetapi Abu Musa Al Madini dan Imam Nawawi menentang riwayat ini.

Lafazh إنما الأعمال بالنيات mengandung arti hashr (pembatasan) menurut para muhaqqiq (peneliti).

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari, Penulis: Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaah, Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah, Penerbit: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, Penerjemah: Gazirah Abdi Ummah, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Juli 2013 M.

Daftar Isi | Hukum Musik & Gambar

Hukum Musik & Gambar.

Himpunan Para Ulama:
'Abdullah bin Ahmad al-'Alaf al-Ghamidi.
'Abdul 'Aziz bin Ahmad al-Bajadi.
Ahmad bin Husain al-Azhari.
Syaikh Hamud bin 'Abdillah bin Hamud at-Tuwaijiri.

Daftar Isi.

Bab I. Hukum Nyanyian dan Musik dalam Islam.

A. Hukum Nyanyian dan Musik Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah.

B. Perkataan Salafush Shalih Tentang Nyanyian dan Musik.

C. Nasyid (Sya'ir) yang Dibolehkan.

Bab II. Hukum Menggambar dalam Islam.

A. Hukum Menggambar dalam Islam.

B. Beberapa Syubhat Seputar Menggambar Makhluk Bernyawa.

C. Gambar-gambar yang Dibolehkan.

D. Gambar yang Dibuat dengan Alat Kamera Fotografi dan Sejenisnya, Baik Gambar yang Utuh atau Sebagian.

Daftar Pustaka.

=====

Maraji'/ Sumber:

Buku: Hukum Musik & Gambar, Penyusun: Abu Muhammad Ibnu Shalih b. Hasbullah, Penerbit: Pustaka Ibnu 'Umar - Indonesia, tanpa keterangan cetakan, Rabi'uts Tsani 1436 H/ Pebruari 2015 H.

Kitab Permulaan Turunnya Wahyu (2) | Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari.

Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullaah.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Kitaabu Bad`il Wahyii.

1. Kitab Permulaan Turunnya Wahyu (2).

Seluruh penulis mushhaf di setiap negara juga mengikuti cara ini, baik mereka yang mengatakan bahwa basmalah adalah termasuk ayat surah Al Fatihah, atau mereka yang tidak berpendapat seperti itu. Di samping itu ada juga yang konsisten dengan firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al Hujuraat [49]: 1), sehingga beliau tidak mendahului perkataan Allah dan Rasul-Nya kecuali dengan perkataan-Nya.

Adapun pendapat yang sangat jauh dari kebenaran adalah pendapat yang mengatakan, bahwa Imam Bukhari memulai tulisan ini dengan khutbah, yang di dalamnya ada hamdalah dan syahadah, akan tetapi telah dihapus oleh orang yang meriwayatkannya.

Seakan-akan orang yang berpendapat seperti ini belum pernah membaca kitab yang ditulis oleh guru-guru Imam Bukhari dan ahli hadits pada waktu itu, seperti Imam Malik dalam kitab Muwaththa`, Abd. Razaq dalam kitab Mushannif, Imam Ahmad dalam kitab Musnad Ahmad, Abu Daud dalam kitab Sunan Abu Daud, dan kitab-kitab lainnya yang tidak dimulai dengan khutbah dan hanya dimulai dengan basmalah. Golongan ini adalah mayoritas, sedangkan mereka yang memulai dengan khutbah hanya golongan minoritas. Apakah mungkin dikatakan setiap perawi kitab-kitab tersebut telah menghapus khutbah? Sama sekali tidak mungkin, karena menurut pendapat mereka hamdalah hanya diucapkan saja, sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikh Khatib dalam kitab Al Jami', bahwa Imam Ahmad hanya membaca shalawat Nabi dan tidak menulisnya ketika menulis hadits, hal ini menunjukkan hamdalah dan syahadah hanya dianjurkan untuk dibaca bukan ditulis. Akan tetapi mereka yang memulainya seperti metode khutbah, yaitu dengan menyebut hamdalah dan basmalah, seperti yang dilakukan oleh Imam Muslim, hal itu kita serahkan kepada Allah, karena Dia yang Maha Mengetahui akan suatu kebenaran.

Sudah menjadi kebiasaan para pengarang kitab, untuk memulai penulisan dengan lafazh basmalah, tetapi dalam penulisan syair ada perbedaan pendapat jika dimulai dengan basmalah. Menurut Imam Sya'bi, itu tidak boleh. Imam Zuhri mengatakan, "Telah menjadi kesepakatan para ulama terdahulu untuk tidak mencantumkan basmalah dalam penulisan syair," sedangkan Sa'id bin Jubair dan Jumhur Ulama membolehkan hal itu. Adapun Al Khatib membenarkan kedua pendapat tersebut.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari, Penulis: Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaah, Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah, Penerbit: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, Penerjemah: Gazirah Abdi Ummah, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Juli 2013 M.

Daftar Isi | Mungkinkah Umur Manusia Bertambah dan Berkurang?

Tanbiihul Afaadhil 'Alaa Maa Waroda fii Ziyaadatil 'Umri Wa Nuqshaanihi Minad Dalaa`il.

Mungkinkah Umur Manusia Bertambah dan Berkurang?

Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani rahimahullah.

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman hafizhahullah.
(Murid Senior Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullah).

Daftar Isi.

Tazkiyah Kitab.

Muqaddimah Muhaqqiq.

Muqaddimah Penulis.

Para Ulama yang Berpendapat Bahwa Umur Manusia Tidak Dapat Bertambah dan Berkurang, Dalil-dalil dan Jawaban Mereka Terhadap Pendapat Para Ulama yang Menetapkan Adanya Penambahan dan Pengurangan Umur.

Para Ulama yang Berpendapat Bahwa Umur Manusia Dapat Bertambah dan Berkurang, Dalil-dalil dan Bantahan Mereka Terhadap Pendapat Para Ulama yang Berpendapat Bahwa Umur Manusia Tidak Dapat Bertambah dan Berkurang.

Sanggahan dan Bantahan.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tanbiihul Afaadhil 'Alaa Maa Waroda fii Ziyaadatil 'Umri Wa Nuqshaanihi Minad Dalaa`il, Penulis: Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani rahimahullah, Ta'liq dan Takhrij: Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman hafizhahullah (Murid Senior Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullah), tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun, Judul Terjemahan: Mungkinkah Umur Manusia Bertambah dan Berkurang?, Penerjemah: Muhammad Washito Lc, Penerbit: Pustaka Darul Ilmi - Bogor, Cetakan Pertama, Dzulqa'dah 1429 H/ November 2008 M.

Cara Permulaan Turunnya Wahyu Kepada Rasulullah | Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari.

Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullaah.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Kitaabu Bad`il Wahyii.

1. Kitab Permulaan Turunnya Wahyu.

Syaikh Al Imam Al Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Al Bukhari berkata:

1. Cara Permulaan Turunnya Wahyu Kepada Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam).

Allah berfirman dalam Al Qur`an,

"Sesungguhnya Kami menurunkan wahyu kepadamu (Muhammad) seperti Kami menurunkan wahyu kepada Nabi Nuh dan Nabi-nabi setelahnya." (QS. An-Nisaa` [4]: 163)

Imam Bukhari berkata, "Bismillaahirrahmaanirrahiim, cara permulaan turunnya wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Imam Bukhari tentang tidak dimulainya penulisan kitab ini dengan kalimat hamdalah dan syahadat, sebagai pengamalan dari hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Setiap pekerjaan yang tidak dimulai dengan membaca hamdalah (memuji Allah), maka pekerjaan itu terputus (dari rahmat-Nya)." Pada hadits yang lain disebutkan, "Setiap khutbah yang tidak terdapat di dalamnya syahadat, maka khutbah itu seperti tangan yang terpotong." Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu).

Jawaban pertama, bahwa yang terpenting dalam khutbah adalah memulainya dengan apa yang dimaksudkan. Imam Bukhari telah memulai kitab ini dengan membahas "Permulaan Turunnya Wahyu" dan menjelaskan, bahwa maksud pekerjaan itu harus sesuai dengan niatnya, seakan-akan beliau mengatakan, "Aku memulai pembahasan wahyu yang berasal dari Allah untuk menunjukkan ketulusan pekerjaan dan niatku. Sesungguhnya perbuatan yang dilakukan setiap manusia adalah tergantung niat yang ada dalam hatinya, maka cukuplah kita memahami masalah ini dengan makna yang tersirat." Cara seperti ini banyak kita temukan dalam metode penulisan kitab-kitab yang lain.

Jawaban kedua, bahwa kedua hadits tersebut bukan hadits yang memenuhi syarat Bukhari, bahkan kedua hadits tersebut masih mendapat kritikan. Kita setuju dengan kedua hadits ini sebagai hujjah, akan tetapi maksud hadits ini bukan berarti harus diucapkan dan ditulis. Mungkin beliau telah mengucapkan hamdalah dan syahadat ketika menulis, sehingga setelah itu beliau hanya cukup menulis basmalah saja, karena maksud ketiga hal tersebut (hamdalah, syahadat dan basmalah) adalah mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan itu cukup dengan mengucapkan basmalah. Sebagaimana ayat Al Qur`an yang pertama turun, "Bacalah dengan nama Allah." (QS. Al 'Alaq [96]: 1) yang berarti, bahwa mengawali suatu perbuatan dengan basmalah telah mewakili hamdalah dan syahadat.

Kemudian juga surat-surat Rasulullah yang dikirimkan kepada beberapa raja, beliau hanya menulis di awal surat tersebut dengan basmalah tidak dengan hamdalah dan syahadah, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sufyan tentang cerita Raja Hercules tentang bab ini, hadits yang diriwayatkan oleh Barra` tentang kisah Suhail bin Amar dalam bab "Perjanjian Hudaibiah", dan hadits-hadits lainnya.

Untuk itu kita dapat memahami bahwa, hamdalah dan syahadah hanya dianjurkan ketika khutbah bukan dalam penulisan surat atau dokumen, maka Imam Bukhari dalam memulai tulisannya memakai metode penulisan surat kepada ulama, dengan tujuan agar mereka dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya.

Para penyarah kitab Bukhari telah mengemukakan pendapat dalam masalah ini, meskipun pendapat mereka masih harus diteliti kembali. Mereka berpendapat bahwa memulai kitab ini dengan menyebut basmalah dan hamdalah adalah termasuk dua hal yang bertentangan menurut Imam Bukhari, karena jika ia memulai dengan hamdalah, hal itu akan bertentangan dengan adat (kebiasaan), dan seandainya ia memulai dengan basmalah, maka ia telah meninggalkan hamdalah, dengan demikian ia hanya memulai dengan basmalah.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari, Penulis: Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaah, Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah, Penerbit: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, Penerjemah: Gazirah Abdi Ummah, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Juli 2013 M.

Daftar Isi | Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab & Hukum Membaca al Qur'an untuk Mayit Bersama Imam asy Syafi'iy

Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab & Hukum Membaca al Qur'an untuk Mayit Bersama Imam asy Syafi'iy.

Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah.

Daftar Isi.

Muqaddimah Cetakan Kedua.

Muqaddimah Cetakan Pertama.

Tashfiyyah dan Tarbiyyah.

Sebab penyimpangan kaum Muslimin dari ajaran agamanya.

Taqlid bukanlah ilmu.

Ta'ashub madzhabiyyah.

Rusaknya mendahului akal daripada wahyu.

Cara beragama Islam yang benar adalah dengan kembali mengikuti dan berpegang kuat-kuat dengan al Qur'an dan Sunnah menurut cara beragamanya para Shahabat.

Salafiyyun pada hakekatnya adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang siapakah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Risalah Pertama:

Tahlilan (Selamatan Kematian) adalah bid'ah mungkar dengan ijma' para Shahabat dan seluruh ulama Islam.

Hadits atau atsar dari Jarir bin 'Abdillah.

Takhrij hadits atau atsar.

Ijma' para ulama Islam dalam beberapa hal.

Lughotul hadits.

Syarah hadits.

Fatwa para ulama Islam dan ijma' dalam masalah ini (tahlilan).

Perkataan Imam asy Syafi'i.

Perkataan Imam Ibnu Qudamah.

Perkataan Syaikh Abdurrahman al Banna.

Perkataan Imam an Nawawi.

Perkataan Imam asy Syairozi.

Perkataan Imam Ibnul Humam.

Perkataan Imam Ibnul Qayyim.

Perkataan Imam asy Syaukani.

Perkataan penulis kitab al Fiqhul Islami wa Adillatuhu.

Perkataan Imam Ahmad.

Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Perkataan Imam al Ghazali.

Kesimpulan.

Risalah Kedua:

Hukum Membaca Al Qur'an untuk Mayit Bersama Imam asy Syafi'iy.

Dalil Firman Allah Jalla wa 'Ala.

Perkataan al Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan surat an Najm ayat 38 & 39.

Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Perbuatan ini telah menyalahi al Qur'an dari beberapa sisi.

Dan juga telah menyalahi Sunnah.

Beberapa pelajaran dari hadits Abu Hurairah.

Tidak ada seorangpun dari para Shahabat yang mengamalkannya.

Kesimpulan.

Maraji'.

=====

Maraji'/ Sumber:

Buku: Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab & Hukum Membaca al Qur'an untuk Mayit Bersama Imam asy Syafi'iy, Penulis: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, Penerbit: Maktabah (Pustaka) Mu'awiyah bin Abi Sufyan & Pustaka 'Abdullah Jakarta, Cetakan II, Dzulhijah 1425 H/ 21 Januari 2005 M.

Kata Pengantar (5) | Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari.

Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullaah.

Kata Pengantar (5).

Muhammad Abdurrahim dan Abu Ali berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Abu Abbas Ahmad bin Abu Thalib bin Abu An-Ni'am Ni'mah bin Hasan bin Ali bin Bayan Ash-Shalihi dan Wazirah binti Muhammad bin Umar bin As'ad bin Al Manja At-Tanwakhiah."

Abu Ishaq berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Thalib bin Ni'mah."

Ali berkata, "Dia telah membaca kepada Wazirah dan aku mendengarnya. Telah menulis kepadaku Sulaiman bin Hamzah bin Abu Umar, Isa bin Abdurrahman bin Ma'ali dan Abu Bakar bin Ahmad bin Abd. Da'im. Mereka berlima berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al Husain bin Mubarak bin Muhammad bin Yahya Az-Zubaidi dengan cara mendengar (sama')."

Mereka berkata, "Selain Wazirah, telah menulis kepada kami Abu Hasan Muhammad bin Ahmad bin Umar Al Qathi'i dan Abu Hasan Ali bin Abu Bakar Ruzabeh Al Qalanisi, Sulaiman, Muhammad bin Zuhair Sya'ranah, Tsabit bin Muhammad Al Khajnadi." Muhammad bin Abdul Wahid Al Madini menambahkan, "Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Waqt Abdul Awwal bin Isa bin Syu'aib Al Harawi darinya."

Riwayat Al Hafshi dengan isnad terdahulu sampai kepada Manshur, "Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Wajih bin Thahir, Abdul Wahab bin Syah Asy-Syadzayakhi dengan cara sama' (mendengar), dan kakek Abu Muhammad bin Al Fadhl Ash-Sha'idi dengan cara ijazah. Mereka berkata, "Al Hafshi telah mengabarkan kepadaku."

Riwayat Karimah, ia berkata, "Telah mengabarkan kepada kami dengan riwayat Karimah, Al Hafizh Abu Al Fadhl Abdurrahim bin Husain Al 'Iraqi dengan cara sama' sebagian riwayat dan ijazah sebagian yang lain, dan Abu Ali Abdurrahim bin Abdullah Al Anshari, Al Mu'in Ahmad bin Ali bin Yusuf Ad-Dimasyqi, Ismail bin Muhammad Al Qawy bin 'Izzun dan Utsman bin Abdurrahman bin Tasyriq dengan cara sama' selain beberapa bab, di antaranya bab "Musafir idza Jadda bi As-Sairu" sampai akhir pembahasan haji, dari bab "Ma yajuzu min Asy-Syuruth fi Al Makatib" sampai dengan bab "Asy-Syuruth fi Al Kitabah", dari bab "Ghazwu Al Mar`ah fi Al Bahr" dalam pembahasan 'Jihad' sampai dengan bab "Du'a An-Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ila Al Islam" dengan cara ijazah dari mereka, dan dari Al Hafizh Rasyiduddin Abu Husain Yahya bin Ali Al Aththar dengan seluruh riwayatnya, mereka berkata, "Telah mengabarkan kepadaku Abu Qasim Hibatullah bin Ali bin Mas'ud Al Bushiri, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Barakat An-Nahwi As-Sa'di darinya."

Riwayat Mustaghfiri dengan memakai isnad terdahulu sampai kepada Abu Musa, "Telah mengabarkan kepadaku bapakku, dan Hasan bin Ahmad darinya."

Riwayat Ibrahim bin Ma'qil, dengan menggunakan isnad sampai kepada Abu Ali Al Jayyani, "Telah mengabarkan kepada kami Hakam bin Muhammad bin Abu Fadhl Isa bin Abu Imran Al Harawi dengan cara sama' sebagian riwayat dan ijazah sisanya, Abu Shalih Khalaf bin Muhammad bin Ismail Al Bukhari darinya."

Riwayat Hammad bin Syakir, ia berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Bakar bin Abdul Hamid dalam kitabnya dari Abu Rabi' bin Abu Thahir bin Qudamah dari Hasan bin Sayyid 'Alawi, dari Abu Fadhl bin Nashir Al Hafizh dari Ahmad bin Muhammad bin Rumaih An-Nasawi darinya.

Riwayat Abu Thalhah Al Bazdawi dengan sanad sampai kepada Al Mustaghfiri, "Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abdul Aziz darinya."

Telah selesai apa yang saya tulis dari wasilah yang saya maksudkan. Sebagian riwayat yang paling kuat menurut saya adalah riwayat Abu Dzarr dari ketiga gurunya, karena ia adalah perawi yang dhabith dan membedakan riwayat yang berbeda sesuai dengan konteks masing-masing. Hanya kepada Allah aku memohon taufik, agar aku selalu berjalan pada jalan yang benar.

Penulis.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari, Penulis: Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaah, Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah, Penerbit: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, Penerjemah: Gazirah Abdi Ummah, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Juli 2013 M.

Kata Pengantar (4) | Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari.

Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullaah.

Kata Pengantar (4).

Adapun riwayat Abdurrahman Al Hamdani dari gurunya, ia berkata, "Telah mengabarkan kepada kami (apa yang diriwayatkan Abdurrahman Al Hamdani) Abu Hayyan Muhammad bin Hayyan bin Allamah Abu Hayyan secara musyafahah (lisan) dari kakeknya (Abu Hayyan), dari Abu Ali bin Abu Al Ahwash, dari Abu Al Qasim bin Baqi (Ibnu Taqi) dari Syuraih bin Ali (Syuraih bin Muhammad bin Ali) bin Ahmad bin Sa'id dari Abdurrahman.

Riwayat Ismail dengan sanad yang sama sampai kepada Abu Hayyan, "Telah mengabarkan kepada kami Abu Ja'far Ahmad bin Yusuf Ath-Thahali dan Yusuf bin Ibrahim bin Abu Raihanah Al Malaqi dengan cara ijazah dari keduanya, dari Al Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al Anshari bin Al Haitsam, telah mengabarkan kepada kami Al Qadhi Abu Sulaiman Daud bin Hasan  Khalidi darinya."

Sedangkan riwayat Abu Nu'aim dari gurunya, ia berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Muhammad Ad-Dimasyqi secara musyafahah dari Salman (Sulaiman) Ibnj Hamzah bin Abu Umar dari Muhammad bin Abdul Hadi Al Maqdisi, dari Al Hafizh Abu Musa Muhammad bin Abu Bakar Ad-Dumali (Al Madani), telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Al Hasan bin Ahmad bin Al Hasan Al Haddad, telah mengabarkan kepada kami Abu Nu'aim."

Riwayat Al Ushaili dan Al Qabisi dengan sanad terdahulu sampai kepada Abu Ali Al Jayyani, "Telah mengabarkan kepada kami Abu Syakir Abdul Wahid bin Muhammad bin Wahab dan lainnha dari Al Ashili dan Hatim bin Muhammad Ath-Tharabulusi dari Al Qabisi dengan sanad yang terdahulu pula kepada Ja'far bin Ali. Ia menulis kepada Al Hafizh Abu Qasim Khalaf nin Basykawal, telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad bin Ghayyats dari Hatim."

Riwayat Sa'id Al 'Iyyar, ia berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali bin Muhammad Ad-Dimasyqi secara musyafahah dari Muhammad bin Yusuf bin Al Hattan dari 'Allamah Taqiyuddin Utsman bin Abdurrahman Asy-Syahruzuri, Manshur bin Abdul Mun'im bin Abdullah bin Muhammad bin Fadhl dan Sa'id."

Riwayat Ad-Dawudi, adalah riwayat terbaik bagi kami dari segi jumlah, "Telah dikabarkan kepada kami riwayat Ad-Dawudi dari berbagai riwayat di antaranya; Abdurrahman bin Abdul Karim bin Abdul Wahab Al Hamawi, Abu Ali Muhammad bin Muhammad bin Ali Al Jiyazi, Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad bin Ali bin Abdul Wahab bin Abdul Mukmin At-Ta'ali, dan Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad Al Jauzi."

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari, Penulis: Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaah, Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah, Penerbit: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, Penerjemah: Gazirah Abdi Ummah, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Juli 2013 M.

Kata Pengantar (3) | Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari.

Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullaah.

Kata Pengantar (3).

Riwayat As-Sarkhasi diriwayatkan oleh Abu Dzarr dan Abu Hasan Abdurrahman bin Muhammad bin Muzhaffar Ad-Dawudi.

Riwayat Kasymihani diriwayatkan oleh Abu Dzarr dan Abu Sahal Muhammad bin Ahmad Al Hafshi dan Karimah binti Ahmad Al Marwaziyah.

Riwayat Al Kasyani diriwayatkan oleh Abu Abbas Ja'far bin Muhammad Al Mustaghfiri.

Sedangkan riwayat Al Juhani dari Ibnu As-Sakan, ia berkata, "Telah diceritakan kepada kami oleh Abu Ali Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdul Aziz dengan cara musyafahah (secara lisan) dari Yahya bin Muhammad bin Sa'ad dan yang lainnya, dari Ja'far bin Ali Al Hamdani, dari Abdullah bin Abdurrahman Ad-Dibaji dari Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Ali Al Bahili, ia berkata, "Telah bercerita kepada kami Al Hafizh Abu Ali Al Hasan bin Muhammad Al Jayyani dalam kitabnya Taqyid Al Muhmal, ia berkata, "Telah menyampaikan kepada saya Al Qadhi Abu Umar Ahmad bin Muhammad bin Yahya bin Al Hidza` tentang Shahih Bukhari dengan qira'ah (bacaan)ku kepadanya, dan Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Al Hafizh Abdul Bari dengan cara ijazah. Keduanya berkata, "Telah bercerita kepada kami Abu Muhammad Al Juhani, beliau seorang yang tsiqah (terpercaya) dan dhabit (kuat) sanadnya."

Riwayat Abu Dzarr dari ketiga gurunya, ia berkata, "Telah dibacakan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman Al Makki dengan riwayat ini. Aku mendengar dan mendapat ijazah apa yang hilang darinya, ia berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Imam Al Maqam Abu Ahmad Ibrahim bin Muhammad bin Abu Bakar Ath-Thabari, telah mengabarkan kepada kami Abu Qasim Abdurrahman bin Abu Harami Al Makki dengan cara sama' (mendengar) seluruh riwayat darinya, kecuali bab "Wa ila Madyana Akhahum Syu'aiba" (Saudara-saudara Nabi Syu'aib pergi ke Madyan) sampai bab "Mab'ats An-Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam" (Diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam), karena bab tersebut diriwayatkan dengan cara ijazah, telah mengabarkan kepada kami Abu Hasan Ali bin Humaid bin 'Ammar Ath-Tharabulusi, dan telah mengabarkan kepada kami Abu Maktum Isa bin Al Hafizh Abu Dzarr Abdullah bin Ahmad Al Harawi, dan telah mengabarkan kepada kami bapakku."

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari, Penulis: Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaah, Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah, Penerbit: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, Penerjemah: Gazirah Abdi Ummah, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Juli 2013 M.

Kata Pengantar (2) | Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari.

Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullaah.

Kata Pengantar (2).

Jalur yang lain adalah dari Ibrahim bin Ma'qil bin Hajjaj An-Nasafi, seorang penghafal hadits yang memiliki beberapa karangan, dan wafat pada tahun 294 H. Ia termasuk orang yang mengumpulkan catatan (hadits) yang diriwayatkan dari Bukhari dengan cara ijazah. Begitu juga dari jalur Hammad bin Syakir An-Nasawi, yang diperkirakan meninggal sekitar tahun 290-an.

Kemudian jalur dari Abu Thalhah Manshur bin Muhammad bin Ali bin Qorinah Al Bazdawi, wafat pada tahun 329 H. Beliau adalah orang yang terakhir menulis riwayat Bukhari dalam kitab Shahihnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Makula dan lainnya. Setelah beliau meninggal masih ada yang mendengarkan riwayat dari Bukhari, yaitu Al Qadhi Al Husain bin Ismail Al Muhamili di Baghdad, akan tetapi beliau tidak memiliki kitab Shahih, dan beliau mendengar dari Imam Bukhari di Baghdad pada akhir kunjungannya, sehingga sangat salah orang yang mengambil riwayat shahih darinAl Muhamili.

Adapun riwayat Al Firabri, sampai kepada kami dari berbagai jalur di antaranya, Al Hafizh Abu Ali Sa'id bin Utsman bin Sa'id bin As-Sakan, Hafizh Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Al Mustamli, Abu Nashr Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Akhsikati, Al Faqih Abu Zaid Muhammad bin Ahmad Al Maruzi, Abu Ali Muhammad bin Umar bin Sibawaih, Abu Ahmad Muhammad bin Muhammad Al Jurjani, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Sarkhasi, Abu Al Haitsam Muhammad bin Makki Al Kasymihani, dan Abu Ali Ismail bin Muhammad bin Ahmad bin Hajib Al Kasyani. Beliau adalah orang terakhir yang meriwayatkan hadits Bukhari dari riwayat Al Firabri.

Adapun riwayat Ibnu As-Sakan diriwayatkan oleh Abdullah bin Muhammad bin Asad Al Juhani.

Riwayay Mustamli diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Dzarr Abdullah bin Ahmad Al Harawi dan Abdurrahman bin Abdullah Al Hamdani.

Riwayat Al Akhsikati diriwayatkan oleh Ismail bin Ishaq bin Ismail Ash-Shafar Az-Zahid.

Riwayat Abu Zaid diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Nu'aim Al Ashbahani, Al Hafizh Abu Muhammad Abdullah bin Ibrahim Al Ushaili dan Imam Abu Hasan Ali bin Muhammad Al Qabisi.

Riwayat Abu Ali Sibawaih diriwayatkan oleh Sa'id bin Ahmad bin Muhammad Ash-Shairafi Al 'Iyar dan Abdurrahman bin Abdullah Al Hamdani.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari, Penulis: Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaah, Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah, Penerbit: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, Penerjemah: Gazirah Abdi Ummah, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Juli 2013 M.

Daftar Isi | Sifat Wudhu' Nabi

Shifatu Wudhu' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sifat Wudhu' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Syaikh Fahd bin Abdur Rahman Asy Syuwayyib.

Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas.

Daftar Isi.

Dalil-dalil Disyari'atkannya Wudhu' dari Al Qur'an dan As Sunnah.

Keutamaan Wudhu'.

Sifat Wudhu' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

1. Niat.

2. Tasmiyah (membaca bismillah).

3. Mencuci kedua telapak tangan.

4. Madhmadhah (berkumur-kumur) dan Istinsyaaq (menghirup air ke hidung).

5. Membasuh muka.

6. Membasuh kedua tangan sampai siku.

7. Mengusap kepala, telinga dan sorban.

8. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.

9. Ber-siwak.

10. Ad Dalk (menggosok).

11. Tertib wudhu' seperti yang disebutkan dalam ayat Al Qur'an.

12. Berdo'a sesudah selesai wudhu'.

13. Berwudhu' satu kali-satu kali, dua kali-dua kali dan tiga kali-tiga kali setiap anggota wudhu'.

14. Disunnahkan wudhu' setiap kali shalat meskipun tidak batal.

15. Orang yang ragu-ragu dalam hadats, ia berpegang pada yang yakin.

16. Laki-laki dan wanita berwudhu' dari satu bejana.

17. Berwudhu' karena memakan daging onta.

18. Mengeringkan anggota tubuh (dengan penyeka) sesudah berwudhu'.

19. Pembatal-pembatal wudhu'.

V. Khatimah.

Buku-buku Maraaji'.

Buku-buku Maraaji' Penerjemah.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Shifatu Wudhu' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Penulis: Syaikh Fahd bin Abdur Rahman Asy Syuwayyib, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun, Judul Terjemahan: Sifat Wudhu' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Penerjemah dan Ta'liq: Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas hafizhahullah, Penerbit: Darul Qolam - Jakarta, Cetakan V, Tahun 1425 H/ 2004 M.

Daftar Isi | Jihad Melawan Teror, Membongkar Akar Terorisme dan Radikalisme

Jihad Melawan Teror, Membongkar Akar Terorisme dan Radikalisme.

Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsudin Lc hafizhahullah.

Pengantar Penerbit.

Pengantar Penulis.

Pembahasan Pertama.

Membedaj Akar Terorisme.

Teroris Musuh Agama.

Membedah Akar Terorisme.

Jangan Asal Tuduh.

Semua Terfitnah.

Istikomah Melawan Teror.

Pembahasan Kedua.

Salah Kaprah dalam Memahami Jihad.

Harga Nyawa Manusia.

Jihad Ala Teroris.

Bom Bunuh Diri Bukan Jihad.

Hukum Bom Bunuh Diri.

Frustasi dalam Dakwah.

Pembahasan Ketiga.

Fatwa Ulama Tentang Aksi Terorisme dan Radikalisme.

Hukum Teror dan Bom Bunuh Diri di Negara Islam dan Non-Islam.

Fatwa Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah alu Syaikh "Tentang Peledakan Gedung WTC di Amerika".

Hukum Memberontak Penguasa Muslim.

Hukum Demonstrasi.

Hukum Penculikan dan Penyanderaan.

Hukum Pembajakan Pesawat.

Hukum Mogok Masal.

Hukum Bom Bunuh Diri.

Menutup Jalan Teror.

=====

Maraji'/ Sumber:

Buku: Jihad Melawan Teror, Membongkar Akar Terorisme dan Radikalisme, Penulis: Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsudin Lc hafizhahullah, Penerbit: Rumah Penerbit Al-Manar, Cetakan Pertama, Syawal 1430 H/ Oktober 2009 M.

Promo Umroh Bersama Ustadz Zainal Abidin Lc

Umroh bersama ustadz Zainal Abidin Lc Mudir Ibnu Hajar Boarding School dan Asatidz lainnya:
12 Februari, 15 Maret, 15 April 2018,
Promo $1500,
Pesawat SAUDIA,
Landing Jeddah.

Fasilitas:
Tiket pesawat PP, Visa,
Akomodasi sesuai program,
Transport bus tour AC di Saudi,
Makan minum 3x sehari di Saudi,
Pembimbing,
Air zamzam 5 lt/jamaah,
Perlengkapan: Airport tax, Handling, Seragam, Buku panduan, ID card, koper, Tas paspor, Tas sendal.

Persyaratan Umroh:
Paspor asli yang masih berlaku min. 8 bulan (nama terdiri dari 3 kata),
Pas foto warna 4x6= 8 lbr (80% wajah, latar putih),
Fotokopi buku nikah (bagi pasutri), Akte Lahir (anak) & KTP/KK,
Buku kuning/ meningitis,
Pengumpulan dokumen maks. 1 bulan sebelum tanggal keberangkatan.

* Harga & jadwal dapat berubah menyesuaikan kondisi Visa, penerbangan dan hotel.
* Jadwal & harga paket disesuaikan kembali bila peserta kurang dari 20 orang.
* Hotel dapat di-upgrade menjadi bintang lima.

Melayani Antar-Jemput Dokumen & Perlengkapan.
Buka Senin - Ahad | Pukul 8 - 17.

Informasi lebih lanjut:
021-2298-8836,
0813-1124-4909 (Eko),
0811-1816-600 (Noto),
0817-182-834 (Anggoro),
0811-1008-190 (Basyir),
Konfirmasi pembayaran: 0811-1042-515 (Dewi).
ibnuhajarpersada@gmail.com
www.ibnuhajarpersada.com

Daftar Isi | Sufi Menurut Al-Qur'an dan Sunnah

Ash-Shuufiyyah fii Miizaan Al Kitaab wa As Sunnah.

Sufi Menurut Al-Qur'an dan Sunnah.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhahullah.

Daftar Isi.

Pengantar Penerbit.

Muqaddimah.

Hakekat Sufi/ Tasawuf.

Pendapat-pendapat Nyeleneh dari Tokoh-tokoh Sufi.

Karamah-karamah Orang Sufi.

Jihad Menurut Orang-orang Sufi.

Pengertian Wali Menurut Kebanyakan Manusia.

Wali Ar Rahman (Waliyullah).

Wali-wali Setan.

Takut dan Harapan.

Apa yang Kalian Ketahui dari Buku Qasidah Burdah?

Apa yang Kalian Ketahui dari buku Dalaalul Khairat?

Do'a di Malam Hari yang Mustajab.

Biografi Penulis.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Ash-Shuufiyyah fii Miizaan Al Kitaab wa As Sunnah, Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhahullah, Penerbit: Ibnu Taimiyah - Kairo, tanpa keterangan cetakan dan tahun, Judul Terjemahan: Sufi Menurut Al-Qur'an dan Sunnah, Penerjemah: Taqdir Muhammad Arsyad, Editor: Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Jogjakarta, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Daftar Isi | Sifat Rumah Tangga Nabi

Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil 'Aziiz (Kitaabun Nikaah).

Sifat Rumah Tangga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Syaikh Dr. 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi.

Daftar Isi.

Pengantar Penerbit.

Hak-hak Suami Isteri.

Hak Isteri Terhadap Suami.

Hak Suami Atas Isteri.

Perselisihan Suami Isteri.

Cara Mengatasi Pembangkangan Isteri.

Cara Mengatasi Kedurhakaan Suami.

Bagaimana Menanggulangi Perselisihan yang Kian Memanas?

Mengapa Kau Haramkan Apa yang Dihalalkan Allah Bagimu?

Iilaa' (Sumpah Seorang Suami Untuk Tidak Menggauli Isterinya).

Zhihat (Ucapan Suami Bahwa Isterinya Seperti Zhahr (Punggung) Ibunya).

Mestikah Bercerai (Talak)?

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil 'Aziiz (Kitaabun Nikaah), Penulis: Syaikh Dr. 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun, Judul Terjemahan: Sifat Rumah Tangga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Penerjemah: Hayik El Bahja, Penerbit: Media Tarbiyah - Bogor, Cetakan ke-1, Rajab 1428 H/ Agustus 2007 M.

Daftar Isi | Syarah Do'a Qunut

Syarh Du'aa-il Qunuut.

Syarah Do'a Qunut.

Syaikh Muhammad Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Daftar Isi.

Pengantar Penerbit.

Muqaddimah.

Permintaan Izin Penyusun Kepada Syaikh Muhammad al-'Utsaimin.

Pemberian Izin dari Syaikh Muhammad al-'Utsaimin.

Do'a Qunut.

Syarah Do'a Qunut.

Makna Lafazh "Allahummah dinaa fiiman hadait".

Makna Lafazh "Wa 'aafinaa fiiman 'Aafait".

Makna Lafazh "Wa tawallanaa fiiman tawallait".

Makna Lafazh "Wa baarik lanaa fiimaa a'thait".

Makna Lafazh "Wa qinaa syarra maa qadhait".

Makna Lafazh "Innaka taqdhii walaa yuqdhaa 'alaik".

Makna Lafazh "Innahu laa yadzillu man waalait walaa ya'izzu man 'aadait".

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Syarh Du'aa-il Qunuut, Penulis: Syaikh Muhammad Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penerbit: Daar Ibnu Khuzaimah, Riyadh - Saudi Arabia, Cetakan I, 1417 H/ 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Do'a Qunut, Penerjemah: Isma'il Ali bin Jabal, Editor: Arman Amry Lc, Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Cetakan Pertama, Rabi'ul Akhir 1426 H/ Agustus 2005 M.

Daftar Isi | Fatwa-fatwa Tentang Problematika Perkawinan

Al-Liqaa' Asy-Syahry Ma'a Fadhilatusy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin.

Fatwa-fatwa Tentang Problematika Perkawinan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah.

Daftar Isi.

Pengantar Penerjemah.

Kata Pengantar Edisi Arab.

Pendahuluan oleh Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyaar.

Muqaddimah.

Fatwa-fatwa Seputar Problematika Perkawinan.

Pertanyaan ke-1: Sebagaimana yang telah anda jelaskan (dalam mukaddimah) bahwa banyak di antara pemuda yang tidak faham tentang beberapa persoalan hukum Islam khususnya bagi pasangan baru yang belum lama memasuki jenjang perkawinan. Mereka menggauli istri-istri mereka, namun tidak mandi janabah dan langsung pergi untuk melaksanakan shalat, dan hal ini berlangsung dalam rentang waktu yang lama. Apakah orang yang melakukan perbuatan seperti ini harus mengulangi lagi shalatnya, shaumnya atau ibadah-ibadahnya yang lain? Inilah pertanyaan kami dan Jazakallah khairan.

Pertanyaan ke-2: Apakah semata-mata bertemunya dua kelamin (suami istri) sudah mewajibkan mereka untuk mandi janabah?

Pertanyaan ke-3: Di antara kemungkaran-kemungkaran yang ada adalah pesta perkawinan yang berisi budaya dan tradisi (jahiliyah) yang kadang-kadang tidak dipahami oleh sebagian saudara-saudara kita dari masyarakat Arab badui.

Pertanyaan ke-4: Jenis air apakah yang keluar dari seseorang ketika ia sedang bermesra-mesraan dengan istrinya tanpa jima', apakah kewajiban dia berkenaan dengan cairan ini? Saya mohon dijelaskan secara mendetail tentang air-air yang keluat dari kelamin manusia.

Pertanyaan ke-5: Apabila datang kepadaku seorang pemuda yang hendak meminangku, dia adalah seorang pemuda yang menjaga shalatnya serta agamanya. Akan tetapi aku masih mengharap pemuda lain yang lebih sempurna dalam soal agama maupun kecerdasannya. Bolehkah aku menolak pinangannya?

Pertanyaan ke-6: Apakah hukum menghadiri undangan resepsi perkawinan? Apa yang harus aku perbuat jika aku diundang untuk menghadiri resepsi perkawinan yang membutuhkan perjalanan jauh?

Pertanyaan ke-7: Apakah menikah itu menjadi penghalang untuk menuntut ilmu?

Pertanyaan ke-8: Sebagian wanita ada yang mengajukan syarat kepada calon suaminya ketika pinangan supaya dia diberi seorang pembantu. Bolehkah mengajukan syarat ini?

Pertanyaan ke-9: Bolehkah seorang wanita menari mengikuti nyanyian yang diiringi dengan suara rebana atau kendang dalam pesta perkawinan jika hanya dihadiri oleh kaum wanita saja?

Pertanyaan ke-10: Bagaimana cara yang baik untuk meringankan mahalnya mahar dan apakah wali perempuan mempunyai hak untuk memaksa seorang anak perempuan untuk menerima lamaran laki-laki yang tidak ia cintai dan apakah seorang anak perempuan tersebut mempunyai hak untuk membatalkan nikahnya apabila dia dipaksa?

Pertanyaan ke-11: Bolehkah seorang pemuda yang tidak mampu menanggung beban-beban perkawinan meminjam uang dari bank-bank yang menerapkan sistem riba (bunga) ataupun bank yang tidak menerapkan sistem riba, atau dia datang ke rumah si fulan dan si fulan agar memberinya bantuan dana dalam rangka perkawinannya?

Pertanyaan ke-12: Anda telah menyebutkan bahwa menggunakan rebana yang disertai nyanyi-nyanyian yang bersih dari nafsu syahwat, resepsi perkawinan itu disyariatkan, namun di sana anda belum menjelaskan apa ia hanya untuk perempuan saja atau untuk laki-laki. Pertanyaannya: Apakah boleh bagi laki-laki menabuh rebana atau yang lainnya?

Pertanyaan ke-13: Apakah hukum memainkan zaghratih (alat musik semacam gitar) dalam pesta perkawinan?

Pertanyaan ke-14: Apakah boleh jika seorang perempuan merangkap mandi besar karena junub dengan mandi besar karena haidh secara sekaligus?

Pertanyaan ke-15: Ada seorang pemuda yang menderita sakit beser sampai-sampai ia harus berwudhu beberapa kali untuk mengerjakan shalatnya dan ia juga mengulang-ulangi shalatnya sehingga ia tidak tahu apakah yang ia alami itu akibat penyakit besernya atau hanya sekedar keragu-raguan belaka.

Pertanyaan ke-16: Hati terasa pedih, mata meneteskan air mata bercampur marah karena melihat umat Islam hidup dalam kondisi yang hina dina. Beribu-ribu umat Islam dibantai di Bosnia Herzegofina, sedangkan kita tenggelam.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Al-Liqaa' Asy-Syahry Ma'a Fadhilatusy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah, Penerbit: Darul Wathan Riyat Arab Saudi, Cetakan Pertama, Tahun 1415 H/ 1995 M, Judul Terjemahan: Fatwa-fatwa Tentang Problematika Perkawinan, Penerjemah: Mutsanna Abdul Qohhar, Editor: Drs. Abdullah Manaf Amin, Penerbit: At-Tibyan - Solo, Cetakan Pertama, Oktober 2001 M.

Daftar Isi | Problematika Remaja dan Solusinya dalam Islam

Min Musykilaatisy Syabaab.

Problematika Remaja dan Solusinya dalam Islam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Daftar Isi.

Muqaddimah.

Sekilas Tentang Remaja.

Remaja yang Konsisten.

Remaja yang Menyimpang.

Remaja yang Gamang dan Bimbang.

Penyimpangan Remaja dan Problematikanya.

Faktor-faktor Terpenting Penyebab Penyimpangan Remaja.

1. Kekosongan Jiwa.

2. Kesenjangan Antara Kelompok Remaja dan Kaum Tua.

3. Bergaul dan Berinteraksi dengan Kelompok yang Menyimpang.

4. Buku-buku Bacaan yang Merusak.

5. Anggapan yang Salah Terhadap Islam.

Kebimbangan-kebimbangan dalam Hati Remaja.

Kebimbangan Terhadap Qadar.

Beberapa Hadits Tentang Remaja.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Min Musykilaatisy Syabaab, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun, Judul Terjemahan: Problematika Remaja dan Solusinya dalam Islam, Penerjemah: Abu Naoval Lc, Editor: Abu Umar Almaedani, Penerbit: At-Tibyan - Solo, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

Daftar Isi | Dakwah dan Tarbiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Manhaj Ahlis Sunnah wa al-Jama'ah fi Qadhiyyat at-Taghyir bi Janibaih at-Tarbawiy wa ad-Da'awiy.

Dakwah dan Tarbiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Syaikh Doktor Sayyid Muhammad Nuh.

Daftar Isi.

Muqoddimah.

Bagian Pertama:

Seputar Esensi dan Azas Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Bagian Kedua:

Esensi Dakwah dan Tarbiyah Islam serta Hubungan antara Keduanya.

Pertama: Esensi Dakwah Secara Bahasa - Syar'i.

Kedua: Esensi Tarbiyah Terhadap Islam Secara Bahasa - Syar'i.

Ketiga: Hubungan antara Dakwah dan Tarbiyah Islam dengan yang Lainnya.

Kebutuhan Danwah dan Tarbiyah Menurut Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Bagian Keempat:

Tujuan dan Cita-cita Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Dakwah dan Tarbiyah Terhadap Islam.

Bagian Kelima:

Hukum Dakwah dan Tarbiyah Terhadap Islam Menurut Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Bagian Keenam:

Beberapa Kaidah dan Acuan Dakwah dan Tarbiyah Menurut Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

1. Hidup Seluruhnya adalah Dakwah dan Tarbiyah Terhadap Islam.

2. Menjaga Prioritas dan Nilai Kepentingan.

3. Bertahap dan Berjenjang.

4. Lemah Lembut di Dalam Dakwah dan Tarbiyah.

5. Mulai dengan Membenarkan Pemahaman dan Memperdalam Kesadaran Terhadap Realita.

6. Kelengkapan dan Kesempurnaan dalam Pemahaman dan Perilaku dengan Keseimbangan.

7. Tidak Memperbincangkan Sesuatu yang Tidak Bisa Diharapkan Manfaat Darinya.

8. Menghimpun Sumber Asal dan Keadaan Masa Kini.

9. Keridhaan Allah adalah Maksud dan Tujuan.

10. Keramahan Terhadap Sunnah-sunnah Masyarakat dan Memanfaatkannya untuk Dakwah dan Tarbiyah.

11. Sabar dan Tahan Uji dengan Berhati-hati dan Penuh Pertimbangan serta Tidak Tergesa-gesa.

12. Menyeimbangkan antara Dakwah dan Tarbiyah.

Penutup.

Daftar Referensi.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Manhaj Ahlis Sunnah wa al-Jama'ah fi Qadhiyyat at-Taghyir bi Janibaih at-Tarbawiy wa ad-Da'awiy, Penulis: Syaikh Doktor Sayyid Muhammad Nuh, Penerbit: Dar al-Wafa', tanpa keterangan cetakan dan tahun, Judul Terjemahan: Dakwah dan Tarbiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Penerjemah: Irwan Raihan, Editor: Ihsanul 'Amal Ar Rifa'i, Nafidzul Haq Al-Halim, Penerbit: Pustaka Barokah, Cetakan I, Jumadal Ula 1424 H/ Juli 2003 M.

Daftar Isi (4) | 166 Kiat Menggapai Surga

Furash Kasbits Tsawaab.

166 Kiat Menggapai Surga.

Syaikh Nayif bin Mamduh bin Abdul Aziz Ali Sa'ud.

Daftar Isi (4).

126. Keutamaan Seseorang yang Ditinggak Wafat Anaknya.

127. Baitul Hamdi di Dalam Surga.

128. Keutamaan Sabar Ketika Ditimpa Musibah.

129. Kesusahan dan Kegelisahan dapat Menghapus Dosa.

130. Keutamaan Buta Mata.

131. Keutamaan Mendapat Musibah.

132. Keutamaan Menangis Karena Takut Allah.

133. Hidup dan Mati dalam Kebaikan.

134. Keutamaan Kehilangan Sesuatu yang Dicintai.

135. Keutamaan Sayyidul Istighfar.

136. Keutamaan Syafaat dalam Kebaikan.

137. Orang yang Paling Dicintai Allah.

138. Keutamaan Jika Allah Mencintai Seorang Hamba.

139. Keutamaan Berbuat Baik Kepada Orang Lain.

140. Panggilan Allah pada Hari Kiamat.

141. Keutamaan Tawadhu'.

142. Keutamaan Seseorang yang Menginginkan Dijauhkan dari Neraka.

143. Derajat atau Kedudukan di Akhirat.

144. Keutamaan Pemimpin Adil.

145. Keutamaan Iffah.

146. Keutamaan Berumur Panjang.

147. Keutamaan Sedekah.

148. Keutamaan Syahid di Jalan Allah.

149. Macam-macam Syahid.

150. Keutamaan Memohon Mendapatkan Syahid.

151. Keutamaan Menjaga Wilayah Perbatasan Perang.

152. Keutamaan Mati Sebagai Penjaga Garis Depan.

153. Keutamaan Mempersiapkan Tentara di Jalan Allah.

154. Keutamaan Berpuasa.

155. Keutamaan Berpuasa Ramadhan.

156. Keutamaan Puasa Syawal 6 Hari.

157. Keutamaan Berpuasa 3 Hari Setiap Bulan.

158. Keutamaan Berpuasa Hari Arafah.

159. Keutamaan Puasa Asyura.

160. Keutamaan Memberi Makan untuk Berbuka Puasa.

161. Keutamaan Bangun pada Malam Lailatul Qadar.

162. Keutamaan Haji dan Umrah.

163. Keutamaan Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah.

164. Amal yang Sia-sia.

165. Orang-orang yang Merugi pada Hari Kiamat.

166. Memenuhi Hak Orang Lain.

Ancaman Bagi Mereka yang Mengandalkan Tawakkal Tanpa Usaha.

Keutamaan Taubat dan Istighfar.

Keluasan Rahmat Allah dan Kegembiraan-Nya Ketika Seorang Hamba Bertaubat Kepada-Nya.

Penutup.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Furash Kasbits Tsawaab, Penulis: Syaikh Nayif bin Mamduh bin Abdul Aziz Ali Sa'ud, Penerbit: Mu'assasah Al-Juraisi, Riyadh, Cetakan I, 1421 H, Judul Terjemahan: 166 Kiat Menggapai Surga, Penerjemah: Munawwarah Hannan, Muraja'ah: Waznin Mahfudh, Penerbit: Darul Haq - Jakarta, Cetakan III, Rabi'ul Akhir 1426 H/ Mei 2005 M.

Daftar Isi (3) | 166 Kiat Menggapai Surga

Furash Kasbits Tsawaab.

166 Kiat Menggapai Surga.

Syaikh Nayif bin Mamduh bin Abdul Aziz Ali Sa'ud.

Daftar Isi (3).

84. Hukum Meninggalkan Shalat adalah Kafir.

85. Meninggalkan Shalat Jamaah Merupakan Tanda Nifaq Paling Nyata.

86. Keutamaan Mengikuti Shalat Jamaah Sejak Takbiratul Ihram.

87. Keutamaan Shalat Jum'at.

88. Kitab (Catatan) pada Illiyyin.

89. Doa Mustajab.

90. Agar Doa Dikabulkan.

91. Membentengi Diri dari Setan.

92. Keutamaan Berdoa.

93. Doa Selesai Ruku'.

94. Doa Paling Utama.

95. Waktu Mustajabah.

96. Doa Mohon dapat Terlepas dari Utang.

97. Keutamaan Berdoa Saat Ayam Jago Berkokok.

98. Berlindung dari Qadha yang Buruk dan Penderitaan.

99. Doa yang Sering Dibaca Rasulullah.

100. Doa Mohon Diberi Keteguhan Hati.

101. Doa Pembuka Pintu Langit.

102. Rumah di Dalam Surga.

103. Keutamaan Shalat Sebelum Shubuh.

104. Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib.

105. Keutamaan Shalat Sunnah Sebelum Zhuhur.

106. Shalat Sunnah Setelah Melakukan Dosa.

107. Menyertai Nabi di Dalam Surga.

108. Keutamaan Sujud.

109. Keutamaan Shalat Dhuha.

110. Keutamaan Bangun Malam.

111. Keutamaan Tidur dalam Keadaan Suci.

112. Doa Setelah Makan atau Memakai Pakaian.

113. Agar Termasuk Ahli Dzikir.

114. Keutamaan Niat Bangun Malam.

115. Shalat Sekali Sama dengan Shalat Seratus Ribu Kali.

116. Keutamaan Bangun Pagi.

117. Keutamaan Rukun Islam.

118. Keutamaan Shalat Berjamaah.

119. Ancaman Bagi yang Tidak Berzakat.

120. Keutamaan Menyantuni Anak Yatim dan Janda.

121. Keutamaan Banyak Anak.

122. Keutamaan Mempunyai Anak Perempuan.

123. Keutamaan Mengasuh Anak Laki-laki dalam Ketaatan.

124. Keutamaan Mengajari Anak Agar Menghafal Al-Qur'an.

125. Pahala yang Diterima Seorang Mukmin Sepeninggalnya.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Furash Kasbits Tsawaab, Penulis: Syaikh Nayif bin Mamduh bin Abdul Aziz Ali Sa'ud, Penerbit: Mu'assasah Al-Juraisi, Riyadh, Cetakan I, 1421 H, Judul Terjemahan: 166 Kiat Menggapai Surga, Penerjemah: Munawwarah Hannan, Muraja'ah: Waznin Mahfudh, Penerbit: Darul Haq - Jakarta, Cetakan III, Rabi'ul Akhir 1426 H/ Mei 2005 M.

Daftar Isi (2) | 166 Kiat Menggapai Surga

Furash Kasbits Tsawaab.

166 Kiat Menggapai Surga.

Syaikh Nayif bin Mamduh bin Abdul Aziz Ali Sa'ud.

Daftar Isi (2).

40. Keutamaan Membaca Al-Qur'an.

41. Surat Al-Ikhlas dan Janji Surga.

42. Keutamaan Mengajar Al-Qur'an.

43. Keutamaan Pergi ke Masjid untuk Belajar atau Membaca Al-Qur'an.

44. Anjuran Untuk Membuka Pintu Kebaikan.

45. Kebaikan yang Berlipat Ganda.

46. Keutamaan Berdakwah.

47. Keutamaan Menjadi Contoh (Teladan) dalam Kebaikan.

48. Keutamaan Mengajarkan Kebaikan.

49. Keutamaan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar.

50. Dijauhkan dari Neraka.

51. Menyingkirkan Duri di Jalan.

52. Kebaikan dapat Menghalangi Datangnya Keburukan.

53. Empat Perbuatan yang Memasukkan Surga.

54. Berbuat Baik Kepada Tetangga.

55. Keutamaan Mencintai Karena Allah.

56. Keutamaan Berjabat Tangan.

57. Menerima Buku Catatan Amal dengan Gembira.

58. Masuk Surga Karena Memberi Minum Binatang.

59. Ahli Ibadah Dapat Masuk Neraka.

60. Membela Saudara Tanpa Sepengetahuannya.

61. Keutamaan Doa Kafaratul Majlis.

62. Larangan Bermuka Dua.

63. Larangan Namimah.

64. Ucapan yang Memasukkan ke Surga atau Neraka.

65. Keutamaan Bersih Hati.

66. Keutamaan Menutupi Aurat Sesama Muslim.

67. Keutamaan Meninggalkan Mira' (Debat Kusir).

68. Keutamaan Mendamaikan Dua Orang yang Sedang Bersengketa.

69. Keutamaan Mengunjungi Orang Sakit.

70. Keutamaan Adzan dan Muadzin.

71. Dua Rakaat yang Memasukkan Surga.

72. Keutamaan Pergi ke Masjid.

73. Tujuh Kelompok yang Mendapat Perlindungan (Naungan) Allah.

74. Keutamaan Berwudhu.

75. Keutamaan Membaca Syahadat Setelah Berwudhu.

76. Keutamaan Shalat Dua Rakaat Sesudah Wudhu.

77. Keutamaan Menyambut Panggilan Muadzin.

78. Keutamaan Bersiwak.

79. Keutamaan Menunaikan Shalat Wajib Lima Waktu.

80. Penggembala Domba Beriman Kepada Rasulullah.

81. Keutamaan Shalat di Tanah Lapang.

82. Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar.

83. Shalat Shubuh dan Isya Berjamaah Menghindarkan Kemunafikan.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Furash Kasbits Tsawaab, Penulis: Syaikh Nayif bin Mamduh bin Abdul Aziz Ali Sa'ud, Penerbit: Mu'assasah Al-Juraisi, Riyadh, Cetakan I, 1421 H, Judul Terjemahan: 166 Kiat Menggapai Surga, Penerjemah: Munawwarah Hannan, Muraja'ah: Waznin Mahfudh, Penerbit: Darul Haq - Jakarta, Cetakan III, Rabi'ul Akhir 1426 H/ Mei 2005 M.

Kata Pengantar | Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari.

Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullaah.

Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah.

Kata Pengantar.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Segala puji bagi Allah yang telah melapangkan hati kaum Muslimin dengan hidayah-Nya, dan menutup hati orang-orang yang membangkang sehingga tidak menyadari adanya hikmah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, karena Dia Tuhan Yang Esa dan Berkuasa, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasulullah, yang tidak ada seorang pun yang menandingi kemuliaannya, dirinya telah dimuliakan dan disucikan sejak hari kelahirannya serta dilapangkan hatinya. Semoga berkah Allah selalu untuknya, keluarga dan para sahabatnya sampai hari Kiamat kelak.

Saatnya bagi saya untuk mulai mewujudkan apa yang telah menjadi niat saya, ketika menulis keterangan (syarah) kitab Al Jami' Ash-Shahih, sebagaimana telah saya tulis pada mukaddimah kitab Hadyu As-Sari bi Fathil Bari. Sebelumnya saya bermaksud untuk membedah hadits terlebih dahulu sebelum memberikan keterangan, akan tetapi saya melihat kalau ini dilakukan akan memerlukan waktu yang lebih panjang, maka dari itu saya mengambil jalan tengah. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, karena Allah tidak membebankan kepada makhluk-Nya kecuali apa yang mampu dilakukannya. Mungkin dalam tulisan ini terjadi pengulangan apa yang telah saya tulis dalam kitab Hadyu As-Sari bi Fathil Bari. Hal itu disebabkan jauhnya masa penulisan atau sebab-sebab lainnya, akan tetapi saya berusaha untuk melakukan perubahan apa yang ada dalam kitab tersebut. Maka saya namakan kitab ini Fathul Bari bi Syarhil Bukhari.

Saya memulai tulisan ini dengan menyebutkan sanad yang saya miliki kepada asalnya, baik dengan mendengar atau ijazah, karena saya mendengar sebagian ulama mengatakan, "Sanad adalah dasar dari sebuah kitab," maka dari itu saya akan menyebutkan sanad-sanadnya, dan saya katakan, "Telah sampai kepada kami riwayat Bukhari dari Imam Bukhari melalui jalur Thariq Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar bin Shalih bin Bisyr Al Firabri yang meninggal pada tahun 320 H." Beliau mendengarkan riwayat ini dua kali. Pertama, di Farbar pada tahun 248 H, dan kedua, di Bukhara pada tahun 252 H.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari, Penulis: Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaah, Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah, Penerbit: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, Penerjemah: Gazirah Abdi Ummah, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Juli 2013 M.

Biografi Singkat Imam Hafizh Ibnu Hajar (6) | Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari.

Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullaah.

Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah.

Biografi Singkat Imam Hafizh Ibnu Hajar (773-802 H) (6).

Karangan yang disebutkan ini hanya sebagian kecil dari karangan beliau yang berjilid-jilid, sehingga kita berpikir bahwa Allah benar-benar telah memberikan kepadanya anugerah yang sangat banyak, yang dengan kemampuan, tenaga, waktu dan umurnya, beliau dapat menulis kitab-kitab dengan jumlah yang sangat besar, yang bagi kita pada masa sekarang ini sangat kekurangan waktu untuk membaca karangan-karangannya, apalagi untuk menulis kitab seperti yang beliau lakukan.

Syaikh Al Allamah Al Faqih Syaukani berkata tentang Ibnu Hajar, "Beliau adalah seorang ulama besar yang menguasai ilmu hadits, diakui hafalannya, mengetahui yang dekat dan jauh, musuh dan teman, sehingga pantas diberikan gelar 'Al Hafizh'. Murid-murid beliau berdatangan dari segala penjuru, karangan beliau pun telah tersebar di seluruh penjuru pada masa hidupnya."

Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau dan meninggikan derajatnya, serta memberikan manfaat kepada kaum Muslimin, walhadulillahi rabbi Al 'alamin.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari, Penulis: Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaah, Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullaah, Penerbit: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, Penerjemah: Gazirah Abdi Ummah, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Juli 2013 M.

Daftar Isi | 166 Kiat Menggapai Surga

Furash Kasbits Tsawaab.

166 Kiat Menggapai Surga.

Syaikh Nayif bin Mamduh bin Abdul Aziz Ali Sa'ud.

Daftar Isi.

Pengantar Penerjemah.

Kabar Gembira.

Kata Pengantar.

1. Keutamaan Tauhid.

2. Masuk Surga Karena Seekor Lalat dan Masuk Neraka Karena Seekor Lalat Pula.

3. Membaca Doa Dapat Menghapus Dosa Syirik Banyak ataupun Sedikit.

4. Keutamaan Berbuat Baik Terhadap Kedua Orang Tua.

5. Keutamaan Silaturrahim.

6. Mendoakan Mukmin Laki-laki atau Perempuan.

7. Mendoakan Seseorang Tanpa Sepengetahuannya.

8. Membaca Doa Pagi Hari Agar Terhindar dari Neraka.

9. Keutamaan Dzikir.

10. Keutamaan Berkasih Sayang.

11. Membaca Doa Pagi dan Sore.

12. Keutamaan Orang Muslim yang Lemah dan Miskin.

13. Membaca Doa Masuk Pasar.

14. Menyebarkan Salam.

15. Meringankan Hutang.

16. Keutamaan Dzikir, Amal Shalih dan Ilmu.

17. Keutamaan Majlis Dzikir.

18. Penyesalan Ahli Surga.

19. Keutamaan Menuntut Ilmu Syar'i (Yang Bermanfaat).

20. Keutamaan Orang Alim (Ahli Ilmu) Daripada Ahli Ibadah.

21. Keutamaan Membaca Shalawat Nabi.

22. Diharamkan Masuk Neraka.

23. Keutamaan Menyembunyikan Marah.

24. Keutamaan Ayat Kursi.

25. Sambutan Surga dan Neraka.

26. Anjuran Menggali Kuburan, Memandikan dan Mengafani Mayit.

27. Keutamaan Menshalatkan dan Menggiringkan Jenazah.

28. Keutamaan Orang Mukmin Menshalatkan Jenazah Seorang Muslim.

29. Keutamaan Berakhlak Terpuji.

30. Perbuatan yang Mendatangkan Ampunan Allah.

31. Berbuat Baik Sedikit dengan Niat Benar Mempunyai Kedudukan Tinggi di Sisi Allah.

32. Cara Menolak Bala'.

33. Allah Mencukupi Kebutuhan Seseorang di Dunia dan Akhirat.

34. Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi pada Hari Jum'at.

35. Pohon Kurma di Dalam Surga.

36. Allah Menghapus Dosanya Sekalipun Sebanyak Buih Laut.

37. Tanaman Surga.

38. Perbendaharaan dan Pintu Surga.

39. Amalan yang Kekal dan Baik.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Furash Kasbits Tsawaab, Penulis: Syaikh Nayif bin Mamduh bin Abdul Aziz Ali Sa'ud, Penerbit: Mu'assasah Al-Juraisi, Riyadh, Cetakan I, 1421 H, Judul Terjemahan: 166 Kiat Menggapai Surga, Penerjemah: Munawwarah Hannan, Muraja'ah: Waznin Mahfudh, Penerbit: Darul Haq - Jakarta, Cetakan III, Rabi'ul Akhir 1426 H/ Mei 2005 M.

Daftar Isi | Shalat Pakai Sandal, Sunnah yang Telah Hilang

Majmuu'ah Rosaa'il 'ilmiyyah, Syar'iyyatush Shalaati fin Ni'aal.

Shalat Pakai Sandal, Sunnah yang Telah Hilang.

Syaikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al Wadi'i.

Daftar Isi.

Halaman Judul.

Copy Right.

Pengantar Penerbit.

Pendahuluan.

Dalil-dalil yang Menyatakan Disyari'atkannya Shalat di Atas Sandal.

Hadits Pertama.
Hadits Kedua.
Hadits Ketiga.
Hadits Keempat.
Hadits Kelima.
Hadits Keenam.
Hadits Ketujuh.
Hadits Kedelapan.
Hadits Kesembilan.
Hadits Kesepuluh.
Hadits Kesebelas.
Hadits Keduabelas.
Hadits Ketigabelas.
Hadits Keempatbelas.
Hadits Kelimabelas.
Hadits Keenambelas.

Kalau Seseorang Shalat Mengenakan Sandal Kemudian Melepasnya, Dimanakah Dia Meletakkannya.

Hadits Pertama.
Hadits Kedua.
Hadits Ketiga.
Hadits Keempat.

Bab Mensucikan Khuff dan Sandal.

Hadits Pertama.
Hadits Kedua.

Bahaya Meninggalkan Shalat Sambil Mengenakan Sandal.

Beberapa Kerancuan Berfikir (Syubhat) pada Orang-orang yang Mengingkari Orang Shalat Sambil Mengenakan Sandal.

Jangan Menolak Sunnah dengan Rasio dan Perasaan.

Hadits Pertama.
Hadits Kedua.
Hadits Ketiga.
Hadits Keempat.
Hadits Kelima.

Riwayat dari Para Salaf.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Majmuu'ah Rosaa'il 'ilmiyyah, Syar'iyyatush Shalaati fin Ni'aal, Penulis: Syaikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al Wadi'i, Penerbit: Daarul Atsar, Shan'a, Yaman, Cetakan Kedua, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Shalat Pakai Sandal, Sunnah yang Telah Hilang, Penerjemah: Muhammad 'Ali 'Ishmah bin Isma'il, Editor: Abu Muqbil Ahmad Yuswaji, Penerbit: Pustaka Salafiyah - Depok, Cetakan Pertama, Rabi'utstsani 1426 H/ Mei 2005 M.

Surat Al-Faatihah (10) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Surat Al-Faatihah (10).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Turmudzi dari Qutaibah, dari Ad-Darawardi, dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lalu Imam Turmudzi mengetengahkan hadis ini, dan pada hadisnya ini terdapat kalimat, "Sesungguhnya Al-Faatihah ini adalah As-Sab'ul Matsani dan Al-Qur'anul 'Azhim yang diturunkan kepadaku." Kemudian Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan atau sahih. Dalam bab yang sama diriwayatkan pula hadis ini melalui Anas bin Malik (radhiyallahu 'anhu).

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abdullah ibnu Imam Ahmad, dari Ismail ibnu Abu Ma-mar, dari Abu Usamah, dari Abdul Hamid ibnu Ja'far, dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Ubay ibnu Ka'b (radhiyallahu 'anhuma), lalu ia mengetengahkan hadis ini dengan panjang lebar, semisal dengan hadis di atas atau mendekatinya.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Turmudzi dan Imam Nasai secara bersamaan, dari Abu Ammar Husain ibnu Hurayyits, dari Al-Fadhl ibnu Musa, dari Abdul Hamid ibnu Ja'far, dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Ubay bin Ka'b (radhiyallahu 'anhuma) yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

Allah tidak pernah menurunkan di dalam kitab Taurat, tidak pula dalam kitab Injil hal semisal dengan Ummul Qur'an; ia adalah As-Sab'ul Matsani dan ia terbagi antara Aku (Allah Subhanahu wa Ta'ala) dan hamba-Ku menjadi dua bagian.

Demikianlah menurut lafaz Imam Nasai. Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini hasan lagi garib.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Hasyim (yakni Ibnul Barid), telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Jabir (radhiyallahu 'anhu) yang menceritakan, "Aku sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang pada saat itu air (wudu untuk beliau) telah dituangkan, maka aku mengucapkan, 'Assalaamu 'alaika, ya Rasulallah.' Tetapi beliau tidak menjawabku. Maka aku ucapkan lagi, 'Assalaamu 'alaika, ya Rasulallah.' Beliau tidak menjawabku, dan kuucapkan lagi, 'Assalaamu 'alaika, ya Rasulallah.' Tetapi beliau tetap tidak menjawabku. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berjalan, sedangkan aku berada di belakangnya hingga beliau masuk ke dalam kemahnya. Kemudian aku masuk ke dalam masjid, lalu duduk dalam keadaan bersedih hati dan murung. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemuiku, sedangkan beliau telah bersuci, lalu bersabda, 'Wa'alaikas salaam warahmatullaahi wabarakaatuh, wa'alaikas salaam warahmatullaahi wabarakaatuh, wa'alaikas salaam warahmatullaah.' Kemudian beliau bersabda, 'Maukah aku ajarkan kepadamu, hai Abdullah ibnu Jabir, suatu surat yang paling baik dalam Al-Qur'an?' Aku menjawab, 'Tentu saja aku mau, wahai Rasulullah.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Bacalah Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiina hingga selesai.'"

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah