Pendahuluan Muhaqqiq (12) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Oleh karena itu, tidak selayaknya orang yang mengetahui tentang ilmu ini (takhrij) berdiam diri dan membiarkannya. Atau bahkan sudah seharusnya dinyatakan secara transparan -baik dukungan atau kritikan- sesuai dengan kondisi real sanadnya. Apabila benar, maka nyatakanlah dengan lugas, dan apabila tidak benar, maka tinjau ulanglah lagi. Dan andai kemudian ditemukan riwayat lain yang memperkuatnya, maka tampakkanlah kebenaran dan kelemahan dari riwayat tersebut juga.

Dan inilah yang seharusnya dilakukan secara syariat. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Agama adalah nasehat (peringatan) akan (kebenaran) kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemuka kaum Muslimin, dan masyarakat umum." (HR. Muslim)

Dan saya melihat penulis juga kerap melakukannya, walau masih jarang.

3. Penulis tidak melakukan takhrij atas keseluruhan hadits-hadits yang ada. Semoga (hal yang terlewatkan ini) disebabkan karena faktor kelupaan. Seperti kealfaannya saat menuangkan hadits pada pembahasan poin 14, yang seharusnya dapat dengan mudah ditemukan dalam kitab hadits Bukhari dan Muslim.

Kemudian tentang sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam pembahasan poin 17, "...dan kami adalah orang pertama yang masuk Surga." Penulis tidak men-takhrij-nya padahal hadits tersebut juga terdapat dalam kitab "Shahih Muslim" dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sedangkan bagian lain sebelum hadits tersebut di-takhrij oleh beliau dan dinisbatkan ke hadits Hudzaifah dalam kitab "Shahih Muslim". Yang masih punya kaitan dengan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu seperti yang akan anda lihat nanti.

4. Penulis sering menisbatkan hadits-haditsnya kepada para imam-imam perawi hadits yang kurang masyhur, yang sebenarnya akan lebih utama untuk menisbatkannya kepada imam-imam masyhur yang menyusun kitab "Shahih". Tindakan ini sudah tentu bertentangan dengan logika ulama hadits pada umumnya.

Misalnya, ketika penulis men-takhrij hadits pertama,

"Sayalah penghulu anak cucu Adam dan tidak sombong."

Dia nisbatkan kepada Ibnu Abi Ashim dalam kitabnya "Al Adab".

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Wasilah Kauniyah dan Syar'iyah | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Wasilah Kauniyah dan Syar'iyah.

Telah kita ketahui bahwa wasilah adalah sebab yang menghantarkan kepada sesuatu yang ingin dicapai dengan penuh kesungguhan. Maka kita ketahui pula bahwa wasilah itu ada dua: wasilah kauniyah dan wasilah syar'iyah.

Wasilah kauniyah ialah tiap-tiap sebab alami atau natural atau kauni yang menyampaikan kepada tujuan dengan watak kemakhlukannya yang telah Allah ciptakan, dan menghantarkan kepada yang diinginkan dengan fitrahnya yang telah Allah tetapkan kepadanya. Wasilah ini berlaku bagi orang Mukmin dan kafir, tanpa perbedaan. Contoh, air adalah wasilah (sarana) untuk menghilangkan dahaga manusia, makan adalah wasilah untuk mengenyangkannya, pakaian adalah wasilah untuk melindunginya dari panas dan dingin, mobil adalah wasilah untuk transportasi dari satu tempat ke tempat lain, dan lain sebagainya.

Wasilah syar'iyah ialah setiap sebab yang menghantarkan kepada tujuan, melalui cara yang telah disyariatkan Allah dan dijelaskan di dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Wasilah ini khusus bagi orang Mukmin yang mengikuti perintah Allah dan Rasul. Contohnya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan keikhlasan dan memahami artinya merupakan wasilah untuk masuk Surga dan keselamatan dari kekekalan di dalam Neraka. Mengganti kejahatan dengan kebaikan adalah wasilah untuk menghapus kejahatan itu. Mengucapkan doa yang ma'tsur (diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam) setelah adzan adalah wasilah untuk memperoleh syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, silaturrahim adalah wasilah memperpanjang umur dan meluaskan rizki, dan lain sebagainya.

Semua ini dan yang semisalnya kita ketahui sebagai wasilah yang dapat mewujudkan tercapainya tujuan hanya melalui syariat semata, bukan melalui ilmu, pengalaman atau perasaan. Kita mengetahui silaturrahim dapat memanjangkan umur dan melapangkan rizki dari sabda Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam),

"Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan diperpanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali persaudaraannya." [7]

Demikian pula contoh-contoh lain.

Banyak orang yang melakukan kesalahan besar dalam memahami dua macam wasilah ini. Kadang mereka menyangka bahwa suatu sebab kauni (alami) dapat menyampaikan kepada tujuan tertentu, padahal persoalan tersebut justru sebaliknya. Dan kadang mereka penganggap suatu sebab syar'i dapat menghantarkan kepada tujuan syar'i tertentu, padahal kenyataan tersebut justru sebaliknya.

Di antara contoh wasilah yang batil secara syar'i dan kauni sekaligus, adalah apa yang sering dilihat para pejalan kaki di jalan An-Nashr Damaskus. Di sana kita dapati sekelompok orang yang meletakkan meja-meja kecil didepannya, sementara di atas meja terdapat seekor binatang kecil seperti tikus, dan disampingnya diletakkan kumpulan kartu yang berisi ramalan-ramalan nasib manusia. Kartu-kartu itu ditulis oleh pemilik binatang atau didiktekan oleh sebagian orang kepadanya, sesuai dengan hawa nafsu dan kebohongannya. Orang-orang berdatangan ke tempat itu untuk melihat nasibnya dengan membayar beberapa qirsy (mata uang Turki, pent.) kepada pemilik binatang. Kemudian ia mengisyaratkan kepada binatang itu untuk mengambil salah satu kartu, lalu diberikan kepada peminat yang telah membayarnya. Dari kartu itulah -menurut sangkaannya- ia bisa melihat nasibnya.

Anda bisa melihat, di manakah nilai akal manusia yang menjadikan binatang sebagai pembimbing dan memberitahukan kepadanya hal-hal yang gaib, jika ia benar-benar meyakini bahwa hewan tersebut mengetahui hal yang gaib, maka hewan lebih baik dari dirinya. Dan jika ia tidak meyakini tetapi melakukannya, maka perbuatannya itu merupakan kesia-siaan, ketololan dan pemborosan waktu serta uang yang tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang berakal sehat. Di samping itu, praktik-praktik seperti ini merupakan penipuan, penyesatan dan pengambilan harta orang lain secara batil.

Tidak diragukan pula, bahwa penyandaran manusia kepada binatang untuk mengetahui perkara ghaib -menurut anggapan mereka- adalah wasilah kauniyah. Akan tetapi anggapan ini tidak benar, ditolak oleh pengalaman dan tidak bisa diterima pemikiran yang sehat. Ia adalah wasilah khurafiyah yang diakibatkan oleh kebodohan dan kedustaan. Sedang menurut pandangan syara', ia pun batil pula, menyalahi Al-Kitab, As-Sunnah dan ijma'. Allah berfirman,

"Dia adalah Rabb yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya." (Al-Jin: 26-27)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

7. Diriwayatkan oleh Bukhary, Muslim dan lainnya. Hadits ini telah ditakhrij di dalam kitab Shahih Abu Daud (1487).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kapankah Amal itu Bernilai Shalih | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Tawassul.

Kapankah Amal itu Bernilai Shalih.

Al-Qur'an dan As-Sunnah telah menjelaskan bahwa suatu amal akan bernilai shalih, diterima dan dapat mendekatkan diri kepada Allah, apabila memenuhi persyaratan penting.

Pertama, bahwa amal tersebut harus ditujukan kepada Allah semata dengan ikhlas.

Kedua, bahwa amal tersebut harus sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah di dalam Kitab-Nya atau apa yang dijelaskan oleh Rasul-Nya di dalam Sunnahnya. Jika salah satunya tidak dipenuhi, maka amal tersebut tidak bernilai shalih dan tertolak. Hal ini ditunjukkan di dalam firman-Nya.

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110)

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shalih, yaitu sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Kemudian Dia memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shalih itu mengikhlaskan niatnya karena Allah semata, tidak menghendaki selain-Nya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata di dalam tafsirnya, "Inilah dua landasan amal yang diterima: Harus ikhlas karena Allah, dan sesuai benar dengan syariat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam."

Perkataan yang sama juga diriwayatkan dari Al-Qadhi 'Iyadh dan lain-lainnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Wasilah dengan Amal Shalih | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Wasilah dengan Amal Shalih.

Anehnya ada sementara orang yang mengaku sebagai ahli ilmu, telah terbiasa menggunakan dua ayat tersebut (Al-Maidah: 35 dan Al-Isra': 57) sebagai dalil untuk membenarkan praktik tawassul dengan melalui para Nabi, hak mereka atau kemuliaan mereka. Ini adalah suatu cara pengambilan dalil (istidhal) yang keliru. Tidaklah benar mengartikan dua ayat tersebut dengan tindakan demikian. Oleh karena di dalam syara' tidak pernah dinyatakan bahwa tawassul seperti ini disyariatkan dan dianjurkan. Itulah sebabnya mengapa istidhal seperti ini tidak pernah disebutkan oleh seorang pun dari ulama salaf, dan mereka pun tidak pernah tawassul seperti itu. Sebaliknya, yang mereka pahami dari dua ayat tersebut ialah bahwa Allah memerintahkan kepada kita agar bertaqarrub kepada-Nya dengan penuh kesungguhan, mendekatkan diri kepada-Nya sedekat-dekatnya, dan mencapai ridha-Nya dengan cara-cara yang benar.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengajarkan kepada kita di dalam nash-nash yang lain, bahwa apabila kita ingin bertaqarrub kepada-Nya, maka kita harus mendekat kepada-Nya dengan amal-amal shalih yang disukai dan diridhai-Nya. Dia tidak membiarkan amalan-amalan tersebut dikerjakan sekehendak hati kita, tidak membiarkan penentuannya berlandaskan akal dan perasaan kita semata. Karena hal itu akan menimbulkan perselisihan dan pertentangan. Akan tetapi Allah memerintahkan kita agar kembali kepada-Nya dalam masalah ini, mengikuti tuntunan dan ajaran-Nya. Karena tidak ada yang mengetahui Dia semata. Oleh karena itu untuk mengetahui wasilah-wasilah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, kita wajib kembali -pada setiap masalah- kepada apa yang disyariatkan Allah dan dijelaskan oleh Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Ini berarti kita harus kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya. Dalam kaitan ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah berwasiat kepada kita di dalam sebuah haditsnya,

"Telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

6. Diriwayatkan oleh Malik dengan mursal, dan Al-Hakim dari hadits Ibnu Abbas, dan sanadnya hasan. Baginya ada penguat dari hadits Jabir yang telah penulis takhrij di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1761).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Makna Wasilah Menurut Al-Qur'an | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Makna Wasilah Menurut Al-Qur'an.

Penjelasan tentang makna wasilah yang telah saya kemukakan di atas telah dikenal dalam pengertian bahasa dan tidak seorang pun membantahnya. Dengan pengertian yang sama pula para salaf yang shalih dan imam tafsir menafsirkan dua ayat Al-Qur'an yang menyebutkan kata wasilah, yaitu firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri (wasilah) kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-Maidah: 35)

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (wasilah) kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya, sesungguhnya adzab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti." (Al-Isra': 57)

Mengenai ayat pertama, Imam para mufassir Al-Hafizh Ibnu Jarir mengatakan di dalam kitabnya (jilid 6 halaman 226), "Wahai orang-orang yang telah membenarkan Allah dan Rasul-Nya tentang apa yang Dia kabarkan kepada mereka, membenarkan pahala yang Dia janjikan kepada mereka, dan siksa yang Dia ancamkan kepada mereka; bertakwalah kamu kepada Allah." Beliau berkata lagi, "Sambutlah Allah mengenai apa yang diperintahkan-Nya kepadamu dan apa yang dilarang-Nya kepadamu, dengan menaati-Nya; realisirlah keimanan dan pembenaranmu terhadap Rabb dan Nabimu, dengan mengerjakan amal shalih." "Wabtaghu ilaihil-wasilata." Beliau berkata, "Dan carilah kedekatan kepada-Nya dengan amal yang membuat-Nya ridha."

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dengan mengutip dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa makna wasilah di dalam ayat tersebut ialah peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah (alqurbah). Demikian pula apa yang dikutipkan dari Muhajid, Abu Wa'il, Al-Hasan, Abdullah bin Katsir, As-Sudi, Ibnu Zaid dan lain-lainnya. Ia juga menukil perkataan Qatadah mengenai ayat tersebut, yakni "Mendekatlah kepada Allah dengan menaati-Nya dan mengerjakan amalan yang membuat-Nya ridha."

Kemudian Ibnu Katsir berkata, "Inilah pendapat para imam tersebut, tidak ada silang pendapat di antara ahli tafsir dalam masalah ini. Jadi wasilah adalah sesuatu yang mengantarkan kepada tercapainya tujuan." [3]

Mengenai ayat kedua, salah seorang sahabat terkemuka, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, menjelaskan kaitan (munasabah) turunnya ayat tersebut, sekaligus menjelaskan maknanya, "Ayat ini turun berkenaan dengan adanya beberapa orang Arab yang menyembah jin, kemudian jin-jin tersebut masuk Islam, sedang orang-orang yang menyembah mereka itu tidak menyadarinya." [4]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, [5] "Orang-orang yang menyembah jin itu terus menyembahnya, sementara jin itu sendiri tidak menyetujui perbuatan tersebut, karena mereka telah masuk Islam. Bahkan merekalah (jin-jin yang telah masuk Islam) yang sedang mencari jalan untuk mendekatkan diri (wasilah) kepada Rabb mereka. Dan inilah yang dapat dipegangi mengenai ayat tersebut."

Saya berkata, dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan wasilah ialah sesuatu (ibadah) yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Itulah sebabnya Allah berfirman, "Yabtaghuna", yakni mereka mencari sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, berupa amal shalih.

Di samping ayat tersebut juga memberikan indikasi akan adanya gejala aneh yang bertentangan dengan setiap pemikiran sehat. Gejala orang yang menunjukkan ibadah dan doa mereka kepada sebagian hamba Allah. Mereka takut dan berharap kepadanya, padahal hamba-hamba yang mereka sembah itu telah mengumumkan keislamannya, menyatakan peribadatannya kepada Allah, dan mulai berlomba mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal-amal shalih yang disukai dan diridhai-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut kepada siksa-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini Allah melecehkan mimpi orang-orang dungu yang menyembah jin dan terus menyembahnya. Padahal mereka (jin-jin itu) adalah makhluk-makhluk yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala, lemah seperti mereka dan tidak berdaya menolak bahaya atau memberi manfaat. Allah telah mengingkari mereka atas tidak ditujukannya ibadah mereka hanya kepada-Nya semata. Dialah yang memiliki bahaya dan manfaat; di tangan-Nyalah ketentuan segala sesuatu; dan hanya Dialah yang memelihara sesuatu.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

3. Tafsir Ibnu Katsir (2: 52-53).

4. Diriwayatkan oleh Muslim (8: 248, Nawawi) dan Bukhari sepertinya (8: 320-321, Fathul Bary), dan di dalam satu riwayat baginya, "Kemudian jin itu masuk Islam, dan mereka itu berpegang teguh dengan agamanya."

5. Fathul Bary (10: 12-13).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tawassul Menurut Bahasa | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Tawassul Menurut Bahasa.

Sebelum membahas masalah ini secara rinci, perlu dijelaskan salah satu sebab yang menimbulkan terjadinya salah paham mengenai makna tawassul. Pada dasarnya, salah paham itu terjadi karena kebanyakan orang tidak memahami makna tawassul secara lughawi (bahasa), dan menunjukkan (dalalah)nya yang asli. Kata tawassul berasal dari bahasa Arab asli, disebutkan di dalam Al-Qur'an, hadits, pembicaraan orang Arab, syair dan natsr (prosa), yang artinya mendekat (taqarrub) kepada yang dituju dan mencapainya dengan keinginan keras.

Ibnu Atsir mengatakan di dalam kitabnya An-Nihayah, jilid 5 hal. 185: Al-Wasil artinya orang yang berkeinginan (mencapai sesuatu). Al-Wasilah artinya pendekatan, perantara, dan sesuatu yang dijadikan untuk menyampaikan serta mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasa'il.

Al-Fairuzabadi mengatakan di dalam Al-Qamus, jilid 4 halaman 65: Wassala ilallahi tausilan, artinya dia mengamalkan sesuatu amalan yang dengannya ia dapat mendekatkan diri kepada-Nya, sebagai perantara.

Ibnu Faris mengatakan di dalam Al-Mu'jam Al-Maqayis, jilid 6 halaman 110: Al-Wasilah artinya keinginan dan tuntutan. Dikatakan wasala apabila ia berkeinginan. Al-Wasil artinya orang yang ingin (sampai) kepada Allah, seperti pada perkataan Labid, "Aku lihat manusia tidak mengetahui apa batas persoalan mereka. Tentu setiap orang yang mempunyai agama ingin (sampai) kepada Allah."

Ar-Raghib Al-Ashfahani berkata di dalam Al-Mufradat, halaman 560-561: Al-Wasilah artinya pencapaian sesuatu dengan penuh keinginan. Ia lebih khusus daripada al-washilah, karena ia (al-wasilah) memuat makna keinginan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "...dan carilah jalan yang mendekatkan diri (wasilah) kepada-Nya." (Al-Maidah: 35)

Hakikat wasilah (jalan mendekatkan diri) kepada Allah ialah menjaga jalan-Nya dengan amal dan ibadah, dan mencari keutamaan syariat, ia seperti taqarrub. Sedangkan al-wasil ialah orang yang ingin sampai kepada Allah.

Selain itu wasilah juga mempunyai makna yang lain, yaitu kedudukan di sisi raja, derajat dan kedekatan.

Di dalam hadits berikut ini kata wasilah dipakai untuk pengertian kedudukan tertinggi di Surga,

"Apabila kamu mendengar (ucapan) mu'adzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya orang yang membaca satu shalawat kepadaku, maka Allah akan membalasnya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah untukku wasilah, karena ia adalah kedudukan di Surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, dan aku berharap menjadi orang tersebut. Maka barangsiapa meminta untukku wasilah tersebut, ia berhak memperoleh syafaat." [2]

Maka jelaslah bahwa dua makna yang terakhir dari kata wasilah ini sangat erat kaitannya dengan maknanya yang asli, akan tetapi bukan kedua makna itu yang menjadi tujuan pembahasan kita.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan kaki:

2. Diriwayatkan oleh Muslim. Ashahabus-Sunan dan lainnya. Hadits ini telah ditakhrij (diteliti shahih tidaknya) di dalam kitab Penulis Irwa'ul-Ghalil (242).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Hukum dan Bentuk-bentuknya | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Hukum dan Bentuk-bentuknya.

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, kami memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari keburukan perbuatan kami. Barangsiapa memperoleh petunjuk Allah, maka tidak seorang pun dapat menyesatkan. Dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak seorang pun dapat menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba serta Rasul-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran: 102)

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (An-Nisa': 1)

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (Al-Ahzab: 70-71)

Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara (agama) adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat itu di Neraka.

Telah terjadi pertentangan besar menyangkut masalah Tawassul dan hukumnya menurut agama, antara yang membolehkan dan yang mengharamkan. Telah berabad-abad lamanya kaum Muslim terbiasa mengucapkan di dalam doa mereka, "Ya, Allah, dengan hak Nabi-Mu, atau dengan kemuliaan atau kehormatannya di sisi-Mu, ampunilah aku." Atau "Ya Allah, dengan kemuliaan para wali dan orang-orang shalih, seperti fulan dan fulan." Atau "Ya Allah, dengan karamah (kehormatan) hamba-hamba Allah di sisi-Mu, dengan kemuliaan orang yang kami berada di dalam hadiratnya dan di bawah pertolongannya [1], lepaskanlah kami dari kesedihan dan kesusahan." Atau "Ya Allah, sesungguhnya telah kami ulurkan tangan kami serendah-rendahnya kepada-Mu, seraya bertawassul kepada-Mu dengan orang yang memiliki hak tawassul dan syafaat, tolonglah Islam dan kaum Muslim..." dan lain sebagainya.

Mereka menamakan semua ini tawassul. Mereka membolehkannya dan menganggapnya syar'i (sesuai dengan syara'), karena -menurut mereka- terdapat beberapa ayat dan hadits yang menguatkan dan mensyariatkannya. Lebih sesat lagi, ada sekelompok orang yang membolehkan tawassul kepada Allah dengan melalui sebagian makhluk-Nya yang sebenarnya tidak layak memperoleh kehormatan, seperti kuburan para wali, bangunan yang didirikan di atas kuburan mereka; tanah, batu dan pohon yang ada di sekitar kuburan tersebut. Mereka menganggap apa yang ada di sekitar sesuatu yang mulia adalah mulia, dan penghormatan Allah kepada penghuni kubur itu berarti penghormatan pula kepada kuburannya, sehingga sah untuk menjadi wasilah (perantara) kepada Allah. Bahkan ada pula yang membolehkan istighatsah (meminta pertolongan) kepada selain Allah, lalu dikatakannya tawassul. Padahal perbuatan tersebut merupakan perbuatan syirik yang menggugurkan tauhid.

Lalu apakah tawassul itu? Apakah macam-macamnya? Apakah maksud ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkenaan dengan masalah ini? Bagaimanakah hukumnya menurut Islam? Pada bab-bab selanjutnya akan dijelaskan secara rinci.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan kaki:

1. Mempercayai adanya pertolongan orang mati terhadap orang hidup adalah kepercayaan yang batil. Meminta kepada mayit berarti meminta pertolongan kepada selain Allah, dan ini merupakan syirik besar. Na'udzubillah min dzalik.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Pendahuluan.

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, para shahabat dan setiap orang yang mengikuti petunjuknya sampai hari Kiamat.

Pada mulanya buku ini berbentuk dua buah muhadharah (ceramah ilmiah) yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nashiruddin Al-Albany kepada para pemuda Muslim, pada musim panas tahun 1392 H, di rumahnya (Mukhayyam Al-Yarmuk) di kota Damaskus Al-Faiha'. Di dalam kedua Muhadharah itu beliau membahas masalah tawassul dari segala seginya.

Ustadz Muhammad Nashiruddin Al-Albany adalah seorang yang dikenal luas dalam ilmunya dan berpandangan kritis, di samping sebagai seorang pakar di bidang penelitian hadits yang sulit dicari bandingannya sekarang ini.

Kajian yang sangat berharga ini benar-benar telah mengundang kekaguman para hadirin, karena ia merupakan kajian ilmiah yang akurat dan argumentasi yang kuat serta jelas, sehingga mereka dapat menerima hasil-hasil yang dicapainya dan pendapat yang disimpulkannya. Perlu dicatat, bahwa apa yang beliau kemukakan itu merupakan pendapat para imam mujtahid terdahulu -semoga Allah merahmati mereka.

Apa yang mendorong kami menyajikan kajian ini kepada kaum Muslimin, adalah karena melihat adanya faidah yang besar dan kebutuhan yang sangat mendalam terhadap penyebaran kajian ini, sebagai salah satu upaya untuk membebaskan kaum Muslim dari kesalahpahaman dan kerancuan besar yang melanda kebanyakan mereka, menyangkut masalah yang penting ini.

Ternyata Allah telah memudahkan semua itu -segala keutamaan dan karunia dari-Nya- yaitu dengan adanya beberapa ikhwan yang telah merekam kedua ceramah tersebut, kemudian menyumbangkan tenaga dan waktunya untuk memindahkannya ke dalam tulisan tangan yang jelas serta bagus. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Kemudian tulisan tersebut saya periksa ulang dan saya perbaiki sehingga laik terbit. Saya tambahkan pula beberapa hal yang cukup penting, di samping saya berikan pula catatan (nomor) ayat-ayat dan hadits-hadits yang tercantum di dalamnya.

Sesudah itu Ustadz Al-Albany memeriksa risalah tulisan tangan yang pernah ditulisnya sejak hampir dua puluh tahun sebelumnya, dengan judul At-Tawassul wa Ahaditsuhu. Risalah ini merupakan serial yang pernah diterbitkan dengan judul Tasdidu Ishabah ila Man Za'ama Nushrata Khulafai Rasyidin wash-Shahabah. Di dalamnya beliau membantah sebagian tukang bid'ah dan khurafat yang suka mengecam, berdusta atau nama kaum salaf dan memutar-balikkan fakta secara tidak ilmiah dan menyimpang dari prinsip keikhlasan, di dalam berbagai risalah yang mereka terbitkan.

Kemudian Ustadz Al-Albany memperlihatkan risalah tersebut kepada saya untuk dipelajari. Di dalamnya saya dapati berbagai faidah yang sangat berharga, dan hal-hal yang perlu ditambahkan pada kedua muhadharahnya itu. Maka saya tambahkan padanya dan saya susun sedemikian rupa dengan membuang apa yang sudah tidak diperlukan. Akhirnya, seluruh pembahasan tersebut saya perlihatkan kepada Ustadz Al-Albany dalam bentuknya yang baru untuk diperiksa dan diperbaiki, (dengan memberikan tambahan penjelasan dan perbaikannya). Maka terbitlah risalah dalam bentuknya yang ringkas, padat dan komprehensif dengan taufik dan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sekarang saya sajikan risalah ini kepada pembaca, dengan harapan mudah-mudahan para pembaca memperoleh kebaikan dan manfaat darinya. Semoga Allah mencatatkan untuk penulis dan penerbitnya pahala yang banyak. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih dapat disempurnakan. Hanya Dialah Pelindung kita, dan hanya Dialah sebaik-baik tempat berserah diri.

Damaskus, 27 Rabi'ul Awwal 1395.

Muhammad 'Ied Al-Abbasi.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (11) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

b. Takhir Risalah.

Seperti telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa ketika kami hampir menyelesaikan pengantar buku ini, dan proses takhrij dan tahqiq risalah ini juga selesai, tiba-tiba Bapak Zuhair Asy-Syawisy mengagetkan saya dengan menyodorkan sebuah naskah hasil cetakan Mesir dengan ta'liq (komentar) oleh Abu Al Fadhal Abdullah bin Muhammad Ash-Shiddiq Al Ghumari Al Maghribi. Kemudian saya membacanya dan mendapat manfaat untuk meluruskan kesalahan-kesalahan yang ada pada manuskrip yang kami miliki, dan saya mengkoreksinya dalam komentar (ta'liq) hingga semuanya relevan dengan edisi cetakan tersebut.

Telah terjadi satu kesalahan akan tetapi dapat saya perbaiki, yakni dari pembahasan nomor 13, berupa pencantuman nama Isa 'alaihis salam yang mengakibatkan rusaknya esensi hadits tersebut. Padahal dalam komentarnya penulis menjelaskan bahwa pembahasan tersebut pada intinya benar disebutkan nama Isa dengan jelas, namun saya terjadi kesalahan cetak.

Ketika saya selesai mempelajari edisi cetakan tersebut, saya mendapatkan beberapa pelajaran dan manfaat. Dan komentar seputar manfaat yang saya peroleh ini -menurut hemat saya- sangat layak untuk dipaparkan. Yakni:

1. Dalam men-takhrij hadits penulis (Al 'Izz) selalu menggunakan jalur baku dari mayoritas para ahli takhrij. Dia tetap menyebutkan kedudukan dan kredibelitas sanad-sanadnya ataupun kelemahannya, walau hanya sedikit. Dan kemampuan ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang benar-benar kompeten di bidangnya.

Urgensi takhrij adalah untuk mengetahui kedudukan hadits melihat dari kredibelitas sanad-sanadnya. Oleh karena itu, para ahli mengatakan, "Sanad merupakan bagian dari agama, seandainya kalau bukan sanad (yang terjaga) maka setiap orang akan berkata seenaknya." Juga karena sanad merupakan sarana, dan bukan tujuan. Maka orang yang bergumul dengan hadits tanpa memperhatikan sanad, diumpamakan seperti seseorang yang berwudhu untuk shalat namun tidak shalat (lihat hal: 9, 10, 12, 13, 20, 21, 22, 33).

2. Menurut saya, penulis lebih cenderung banyak mengandalkan Tirmidzi dalam justifikasi sebuah hadits sebagai hadits hasan. Dan saya juga berasumsi bahwa penulis masih terlalu mempermudah masalah ini, sebagaimana yang dinyatakan oleh Adz-Dzahabi dan lain-lain.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (10) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Perhatikan bagaimana Dr. Khalil berasumsi bahwa Sa'id yang dimaksud dalam rangkaian riwayat hadits tersebut adalah Az-Zubaidi, yang dipastikan meriwayatkan dari Hisyam. Artinya dia meriwayatkannya dari thaabi' ath-thaabi' (generasi pasca tabi'iin). Dr. Khalil tidak menyadari bahwa maksud sebenarnya adalah Sa'id bin Abu Sa'id Al Maghrabi yang banyak meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan para perawi sesudahnya. Seharusnya dia (Dr. Khalil) melakukan re-check (meneliti dan merujuk ulang) dari buku-buku Tarajum (biografi) baik dari kitab "Al Mizan" atau literatur lainnya. Karena dia sendirilah yang telah menulis biografi Al Magbari sebelum Az-Zubaidhi melakukannya, dan (dalam buku hasil karya tersebut) disebutkan bahwa Al Magbari adalah sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalam hadits lain, As-Suyuthi menuliskan (3/22): "Menurut kami, hadits tersebut tidak shahih dan tidak termaktub di dalam "Kutub As-Sittah"."

Secara logika, orang yang (pernah atau telah) belajar ilmu hadits, sangat tahu bahwa bukanlah syarat sebuah hadits akan menjadi shahih dengan keharusan hadits tersebut dicantumkan dalam "Kutub As-Sittah", juga tidak semua hadits-hadits yang termaktub dalam kitab tersebut adalah semuanya shahih.

Selanjutnya dalam pemaparan hadits (3/39), "Pada akhir zaman nanti akan ada satu kaum yang mewarnai dengan warna hitam ini, bagaikan tembolok burung. Dan mereka tidak akan pernah mencium aroma Surga."

As-Suyuthi menuliskan bahwa hadits tersebut adalah maudhu' sebagaimana dikutipnya dari kitab "Al Fawa'id" karya Al Qazwaini, dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan lain-lain.

Nampaknya As-Suyuthi kurang teliti bahwa sebenarnya hadits tersebut adalah shahih. Dan para ulama telah membantah pendapat Al Qazwaini tersebut. Seperti sanggahan yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar yang menyatakan opininya tentang justifikasi hadits yang terdapat dalam kitab "Al Mahabih" adalah maudhu', dan salah satu hadits tersebut di atas adalah termasuk di dalam sanggahannya. Anda dapat menemukan komentar sanggahan ini pada akhir kitab "Ghayat Al Maram fi Takhrij Ahadits Al Halal wa Al Haram" no. 107.

Menurut saya, dalam mensikapi fenomena ini, hendaknya tidak mendahulukan hawa nafsu atau hanya mengandalkan pendapat orang lain saja secara bulat, tanpa meneliti lebih jauh akan kebenarannya. Karena masih banyak sampel dari metode kritik hadits yang dapat digunakan berdasarkan prinsip-prinsip ilmu hadits dan kaidah-kaidah yang tepat untuk menganalisanya.

Seharusnya hal ini dikembangkan pendayagunaannya oleh para ahli untuk meneliti kembali kredibelitas dari substansi ide dan pemikiran serta pendapat-pendapat yang termaktub dalam kitab-kitab As-Suyuthi "Al Khashaish Al Kubra". Dengan tujuan untuk dapat memilah dan memilih ulang berbagai hadits yang dhaif, maudhu', dan pendapat-pendapat spesifik, serta ucapan-ucapan yang tidak benar adanya. Yang kemudian dapat kembali disajikan kepada khalayak sebagai madu murni seperti yang dilakukan Imam Al 'Izz dengan risalahnya.

Sebelum saya menutup mukaddimah ini, saya ingin menjelaskan beberapa hal yang cukup urgen untuk dijelaskan.

Yakni bahwa As-Suyuthi telah menukil dua teks alenia penting dari literatur asli buku ini yaitu:

1. Tentang beberapa keistimewaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, yang di antaranya adalah keistimewaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memberikannya pengampunan. Tipe keistimewaan ini tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelum beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Bahkan, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mengisyaratkan sedikitpun untuk memberikan keistimewaannya ini kepada para Nabi selain beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Hal ini berdasarkan ucapan mereka (para Nabi) saat mereka berada di mauqif (sebuah lokasi di antara pintu masuk Surga),

نَفْسِي نَفْسِي

Nafii nafsii.
"Diriku, diriku."

2. Selain itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga diberikan keistimewaan berupa penyatuan sifat kecintaan yang akan diperolehnya bersama dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala (dari seluruh makhluk dan ciptaan-Nya). Seperti tertuang dalam sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Hendaknya Allah dan Rasul-Nya adalah yang lebih dicintai dari yang lain."

"Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka dia hanya membahayakan dirinya sendiri." (HR. Abu Daud)

Sedangkan Nabi yang lain tidak diberikan keistimewaan seperti ini.

Berdasarkan ucapannya kepada Al Khathib ketika dia menyatakan, "Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, dia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang mendurhakai-Nya, maka dia tersesat."

"Seburuk-buruk Al Khathib adalah kamu." Katanya, "Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya."

Mereka berkata, "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang yang lain kecuali Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, karena selain Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam apabila digabungkan namanya dengan Allah akan diasumsikan sebagai penyamaan berbeda dengan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam karena kedudukannya tidak menimbulkan dugaan seperti itu."

Saya tidak tahu, apakah Asy-Syaukani memiliki bukti kongkret akan keberadaan dua buah nukilan alenia tersebut (yang memang benar-benar berasal dari teks risalah Al 'Izz), atau dia hanya menukilkannya dari kitab lain dari tentang teks ini?

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (9) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

(Jilid II)

Hal: 111 - Jibril melihat bumi untuk menshalati jenazah Mu'awiyah Al-Laits.

Hal: 275 - Mukjizat biawak padang pasir: Asy-Syaukani menyangka masih ada riwayat lain dari Abu Nu'aim. Seperti yang termaktub di halaman 321 dari riwayat pertama.

Hal: 348 - Beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkumpul dengan Khidhir, Isa dan seseorang dari kaum 'Aad.

(Jilid III)

Hal: 120 - Balasan matahari kepada Ali.

Hal: 153 - "Sesungguhnya Allah ...telah memberikanku penglihatan..."

Hal: 167 - Saya lebih mendahulukan kekasihku daripada temanku.

Hal: 171 - Allah Subhanahu wa Ta'ala memperkuat saya dengan 4 hal.

Hal: 174 - Orang yang dikarunia dengan 3 orang anak dan tidak menamakan salah satunya dengan nama "Muhammad" maka dia adalah bodoh.

Hal: 181 - "Wahai Allah, Engkau telah membuatku keluar dari tanah yang paling aku cintai, maka tempatkanlah aku di tempat yang paling Engkau cintai."

Hal: 241 - Tundukkanlah pandangan mata kalian hingga Fatimah lewat (dari hadapan kalian).

Hal: 349 - Bersalawatlah kepadaku setelah berwudhu.

Hal: 368 - "Wahai Allah, sayangilah pengantin-pengantinku."

Hal: 384 - Ta'ziah (berkunjungnya) Nabi Khidhir 'alaihis salam kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Hal: 403 - Barangsiapa bersalawat di kuburku, niscaya aku mendengarkannya.

Hal: 405 - Pengetahuanku setelah mati, seperti ilmuku ketika masih hidup.

Demikianlah beberapa hadits maudhu' yang termaktub dalam kitab "Khashaish" karya As-Suyuthi yang keseluruhannya telah saya selesaikan takhrijnya. Dan kondisi ini juga telah saya paparkan di dalam buku saya, "Silsilah Al Ahadits Adh-Dha'ifah wa Al Maudhu'ah" dengan urutan sebagai berikut: 25, 341, 4126, 971, 1605, 3054, 4037, 2688, 2634, 857, 5204, 303.

Sedangkan hadits-hadits dha'if fan munkar dalam kitab tersebut juga banyak sekali. Tidak perlu dipaparkan secara gamblang di sini, karena saat ini saya sedang sibuk karena tugas mendesak untuk menyelesaikan mukaddimah ini, dan mengajukannya kepada penerbit sebelum perjalanan saya selanjutnya.

Kemudian, As-Suyuthi juga tidak mencocokkan secara jeli penulisan halaman bukunya dengan hadits dhaif dan maudhu' yang seharusnya, hingga kesalahan ini menyebabkan terjadinya kecenderungan penyelewengan dari hal-hal yang telah digariskan oleh Al Qur`an dan Hadits. Seperti diungkapkannya tentang keutamaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (3/160):

"Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam diberi lima macam ilmu, beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga mengetahui waktu yang pasti untuk terjadinya Kiamat, juga mengetahui tentang ruh. Namun beliau diperintahkan untuk menyembunyikannya."

Dr. Khalil dalam topik ini mengomentari, "Tidak ada sama sekali dalil yang menyatakan tentang hal ini secara pasti. Dan pernyataan tersebut merupakan pendapat yang menyalahi dan mendustakan Al Qur`an. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi kita dari "Ghulau" (berlebih-lebihan) yang dapat mendepak orang-orang beriman dari keyakinannya."

Apa yang dikatakan Dr. Khalil adalah benar adanya, tidak hanya itu, dia juga mengkritik As-Suyuthi dalam beberapa sikap berlebih-lebihannya dan mendayagunakan hadits-haditsnya. Sedangkan banyak orang yang kurang jeli memperhatikannya. Namun sayangnya Dr. Khalil terkadang sering berada tidak pada jalur yang tepat saat melakukan kritik, karena dia lebih sering menggunakan logikanya daripada ilmunya.

Seperti pandangan Dr. Khalik -yang menurut saya- kurang komprehensip dalam mengomentari As-Suyuthi tentang yang disebutkannya sebuah hadits (2/250) dari riwayat Sa'id bin Abu Sa'id dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu... dan As-Suyuthi menuliskan, "Dan sanadnya..."

Dr. Khalik mengomentari, "Kami modus penulis menjustifikasi bahwa hadits tersebut adalah shahih, padahal perawinya Sa'id bin Abu Sa'id, yang disebutkan dalam kitab "Al Mizan" bahwa dia (Sa'id bin Abu Sa'id Az-Zhuhaibi) dari Hisyam bin 'Urwah dan beberapa rangkaian sisa riwayat darinya adalah tidak dikenal, dan hadits-hadits yang diriwayatkannya pun tidak lengkap.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (8) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

a. Bantahan Hal Kitab.

Ada baiknya saya akan memperjelas segala sesuatunya dengan mempersembahkan kepada para pembaca sekalian beberapa contoh yang diangkat oleh As-Suyuthi dalam buku "Khashaish" tersebut, yang secara spesifik semoga dapat menjadi peringatan bagi para pembaca yang telah agak lalai dan sedikit melewatkan kekeliruan ini.

As-Suyuthi di dalam beberapa bab kitabnya menyebutkan bahwa dia telah menukil ucapannya dari makalah ini tanpa menyebutkan sumbernya. Dan saya telah menyebutkannya pada beberapa alinea. Akan saya sebutkan beberapa contoh hadits maudhu' yang ditulis oleh As-Suyuthi tersebut adalah:

1. Disebutkan pada pasal berikut no. 13 tentang kisah hidupnya ibunda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam serta keimanannya (juz 2 hal. 280), yang merupakan sebuah kisah palsu menurut beberapa ulama, seperti Ibnu Al Juaz, Ibnu Taimiyyah dan lain-lain.

Alasan yang menjustifikasi kisah tersebut palsu adalah, sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang ayahnya, beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjawabnya,

"Ayahku dan ayahmu masuk Neraka." (HR. Muslim dan lain-lain). Dan hadits ini shahih.

Kendatipun demikian, As-Suyuthi menganggap hadits pada beberapa tulisannya cacat dengan kecacatan yang tidak merusak inti hadits tersebut. Terlebih lagi ada beberapa bukti yang menyingkap bahwa hadits tersebut tidak mungkin di-dha'if-kan seandainya bukan karena hawa nafsu (kesalahan). Oleh karena itu, dia tidak mengutip hadits-hadits tersebut beserta tambahannya dalam kitab "Al Jami' Ash-Shaghir".

Dan pendapat yang paling bagus dalam mengomentari hadits ini adalah seperti yang dilontarkan oleh Syaikh Abdurrahman Al Yamani, yang juga dinukil oleh Asy-Syaukani, yang membawakan hadits-hadits itu dalam kitab "Al Ahadits Al Maudhu'ah" hal. 322. [9] "Alangkah banyaknya cinta membutakan orang, hingga dia berani melangkahi dalil dan memeranginya. Meskipun dia tahu bahwa hal itu, menafikan cinta yang hakiki yang berlandaskan syariat."

2. Disebutkan pada pasal 16, tentang sebuah riwayat Ibnu 'Asakir dari Ibnu Mas'ud (radhiyallahu 'anhu) yang diriwayatkan secara marfu',

"Allah telah berfirman kepadaku, 'Aku telah memberikan Ibrahim persahabatan-Ku, Aku berbicara dengan Musa. Sedangkan kepadamu, Muhammad, Aku berikan persahabatan dan cinta-Ku serta mengajakmu berbicara dengan berhadapan muka.'" (3/151)

Hadits ini adalah hadits maudhu'. Dr. Khalil Al Harras dalam komentarnya mengatakan, "Disebutkan dalam kitab "Al-La'ali". Hadits tersebut tidak shahih, karena hanya Maslamah sendiri yang meriwayatkannya, sedangkan periwayatannya juga tidak diterima (matruk)."

Menurut hemat saya, andaipun hadits tersebut adalah shahih, saya tetap akan menjadikannya sebagai dalil. Paling tidak, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah melihat Tuhannya pada malam Isra' Mi'raj, dan tidak ada yang berbeda pendapat bahwa makna "kifahan" dalam hadits di atas, adalah bertatap muka tanpa ada hijab atau penghalang seperti yang termaktub dalam kitab "An-Nihayah".

Seolah-olah Dr. Khalil tidak memperhatikan maknanya, sehingga beliau mengomentari kata "Al Isra" dengan ucapan, "Pada malam tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala berbicara dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan bertatap muka tanpa ada perantara Malaikat." (3/111)

Adapun hadits-hadits lain yang serupa masih banyak. Kami cukup mengemukakan contoh-contoh dari ketiga jilid dari bukunya:

(Jilid I)

Hal: 17 - Ketika Adam melakukan kesalahan.

Hal: 18-19 - Penulisan nama Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam di 'Arsy.

Hal: 21 - Adzan Adam di India.

Hal: 151 - Melihat dalam kegelapan.

Hal: 173 - Makan harisah (nama sejenis makanan) dapat memberikan kekuatan selama 40 kali saat bersenggama.

Hal: 177 - Bumi menelan apa yang keluar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

9. Terbitan Maktabah Al Islami.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (7) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

3. Kredibelitas hadits-hadits dalam makalah ini.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa makalah ini mencantumkan hadits-hadits yang dapat dipertanggungjawabkan. Itulah keistimewaan yang dimiliki buku ini dan jarang sekali terdapat dalam buku-buku lainnya, khususnya buku-buku yang membahas tema yang sama tentang "Fadhilah". Karena biasanya banyak yang meremehkan kredibelitas riwayat dari hadits dalam topik ini, begitu pula dalam topik "Targhib wa Tarhib".

Meskipun kami sendiri mempunyai pendapat tentang masalah tersebut yang telah saya jelaskan pada mukaddimah kitab, "Shahih At-Targhib wa At-Tarhib" karya Al Hafizh Al Mundziri, [8] -dan tidak perlu dibahas lagi di sini-. Namun saya berpendapat bahwa anggapan untuk terlalu meremehkan (dengan jalan terlalu mempermudah) dalam periwayatan sebuah hadits, hal ini mengakibatkan ikut terseretnya hadits-hadits maudhu' ke dalam literatur -baik disadari ataupun tidak-.

Dan inilah kenyataannya, saya dapat mengemukakan beberapa contoh, tapi saya bukan ingin menggiring pembaca sekalian untuk lebih jauh terbawa dalam isu ini, seperti yang dapat ditemukan di dalam karya Al Hafizh As-Suyuthi, "Al Khashaish Al Kubra", yang banyak memuat hadits-hadits maudhu' dan makdzub. Serta ditambah lagi dengan keberadaan hadits-hadits dha'if dan munkar meskipun dia sempat memberi komentar dalam kata pengantar bukunya tersebut (1/8), "Saya telah menyadur semua hadits-hadits yang ada, dan saya telah memilahnya dari hadits-hadits maudhu' serta hadits yang mardud (ditolak)."

Hal serupa juga menimpa kitabnya, "Al Jami' Ash-Shaghir min Hadits Al Basyir An-Nadzir" yang juga memasukkan puluhan bahkan ratusan hadits-hadits maudhu' dan dha'if. Seperti yang dituliskan dalam mukadimah bukunya tersebut, "Saya pun membawa beberapa hadits yang diriwayatkan sendiri (munfarid), maudhu' dan dari perawi pendusta."

Kemudian terbukti bahwa beliau tidak konsisten dengan pernyataan yang telah disebutkannya di dalam pengantarnya tersebut. Dan hal inilah yang mendorong saya untuk mengklasifikasikan kitabnya menjadi 2 bagian, yaitu: "Shahih Al Jami'" dan Dha'if Al Jami'". Saya letakkan pada bagian kedua berbagai hadits hasan, juga meletakkan di dalamnya hadits-hadits hasan lighairihi yang meliputi tiga macam hadits: dha'if, dha'if jiddan (sangat dha'if), dan maudhu'. Jumlah keseluruhan hadits tersebut mencapai sekitar 6450 hadits. Artinya, hampir sekitar separuh buku setelah ditambah dengan tambahan dari catatan kaki yang ditemukan sendiri olehnya.

Untuk lebih detailnya, silahkan buka referensi asli kata pengantar kitab tersebut yang telah dicetak bersama dengan kitab "Ash-Shahih wa Adh-Dha'if". Anda pasti akan lebih tercengang melihatnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

8. Al Hamdulillah bagian pertama dari karangan ini telah diterbitkan di Beirut atas bimbingan Bapak Zuhair Asy-Syuwisy, setelah saya berkoordinasi dengannya di Damaskus (Syiria).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (6) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

e. Ajakan Untuk Ikhlas (Kesimpulan).

Saya menganjurkan kepada setiap pembaca yang membaca karya ini, agar tidak lekas merasa cukup dengan ilmu yang telah diperolehnya atau apa yang ada di dalamnya (ilmu tersebut). Namun hendaknya dapat berjalan beriring dengan buah perbuatannya, yakni ikhlas dan tulus mengikuti dan meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, yang kemudian akan melahirkan dampak kecenderungan cinta kepadanya.

Semoga kita tergolong dalam kelompok mereka.

2. Simplikasi Isi Makalah Tentang Data-data.

Karena, penyusun telah mengumpulkan lebih dari 40 keutamaan dan keistimewaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lebih luas lagi, anda dapat menemukannya pada kitab "Al Khashaish Al Kubra" karya As-Suyuthi dalam 3 jilid yang tebal, "Dalail An-Nubuwwah" karya Nu'aim Al Ashbahani dan "Dalail An-Nubuwwah" karya Al Baihaqi. Dari ketiga buah buku tersebut, kitab "Al Khashaish Al Kubra" termasuk buku yang mengandung banyak hadits dha'if dan maudhu'.

Berbeda dengan tulisan pengarang makalah ini (Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi) kumpulan ringkasannya sangat bagus, hampir tidak ada hadits yang dapat dipastikan ke-dha'if-annya. Bahkan semuanya merupakan hadits shahih yang dapat dipertanggung-jawabkan, seperti yang akan kami jelaskan dalam takhrij hadits tersebut. Dan inilah keistimewaan yang jarang didapat realisasinya dalam sebuah kitab apapun.

Dia berusaha untuk memperingkas kata, terutama ketika mengulas sebuah dalil yang ulasannya sudah tersurat dalam Al Qur`an dan Hadits. Nampaknya makalah ini merupakan hasil penyampaian beberapa materi kepada murid-muridnya secara langsung, seperti tradisi yang biasa dilakukan oleh beberapa ulama besar seperti Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah. Pengarang tulisan ini hanya mengomentari hadits tanpa men-takhrij-nya, atau juga tidak menampilkan sebuah hadits secara lengkap, namun hanya menyebutkan inti dari bait hadits tersebut. Terkadang juga, dia hanya menyebutkan makna tanpa memberikan indikasi yang jelas bahwa bait tersebut adalah sebuah hadits atau atsar para sahabat.

Oleh karena itu, pekerjaan yang paling penting untuk saya identifikasikan dalam risalah itu adalah proses takhrij dan melengkapi lafazh hadits. Terkecuali pada beberapa bagian hadits panjang yang saya cukupi dengan hanya memberi isyarat akan urgensi hadits tersebut dan men-takhrij-nya dengan singkat. Karena saya melihat tidak perlu untuk memperpanjang catatan kaki dengan membawakan hadits yang cukup panjang seperti hadits syafaat, misalnya.

Dengan demikian, manfaat dari makalah tersebut akan menjadi sempurna, dan pembaca akan menjadi semakin yakin akan kebenaran dan keshahihan fadhilah yang diutarakan dalam makalah ini.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menjadikan kami termasuk orang yang berupaya untuk merespon ajakan-Nya, dan semoga ketulusan dan keikhlasan akan selalu menyertai kami dalam meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, hingga dapat mengumpulkan kami bersama, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sangat rindu untuk melihatnya.

Seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Saya sangat ingin seandainya saya dapat melihat saudara-saudaraku." Para sahabat bertanya, "Bukankah kami termasuk saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Kalian adalah sahabatku, dan saudara-saudara kita yang akan datang kemudian." (HR. Muslim (1/150)). [6]

Mereka adalah orang-orang yang digambarkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam akhir sabdanya,

"Di antara umatku yang paling aku cintai adalah mereka yang akan hidup setelahku. Hingga salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku dengan keluarga dan hartanya." (HR. Muslim (8/145)). [7]

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

6. Hadits ini telah ditakhrij dalam kitab "At-Ta'liq Ar-Raghib 'ala At-Targhib wa At-Tarhib" (1/93).

7. Hadits ini telah ditakhrij dalam kitab "Ash-Shahihah" no. 1418. As-Suyuthi telah menisbatkannya dalam kitab "Al Khashaish" (3/27) kepada Al Hakim saja, lalu As-Suyuthi meringkaskannya.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (5) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

d. Fenomena Nasyid.

Jangan pernah tertipu dengan orang-orang sesat seperti kaum sufi ataupun orang-orang yang suka lalai. Yang menjadikan agama dipenuhi dengan hiburan, main, nasyid dan lagu. Mereka menyangka bahwa sikap dan tindakan seperti itu dapat membuat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ridha dengan apa yang mereka sebut dengan nasyid-nasyid agama yang selalu mereka bawakan dalam dzikir atau acara perkumpulan mereka yang dilangsungkan pada hari perayaan tertentu yang tidak ada landasan hukumnya dalam Islam sama sekali. Seperti perayaan maulid, dan perayaan lain sebagainya.

Saya tegaskan di sini, bahwa sebenarnya mereka telah tersesat dan beranjak jauh dari kebenaran. Bagaimana tidak, mereka telah mencampuradukkan agama yang benar dengan dimensi kesenangan nisbi yang bathil (semu). Mereka meniru pola para penyanyi yang gila-gilaan, dalam lirik, birama dan irama musik mereka, tapi mereka tidak sadar bahwa perbuatan mereka tersebut dapat mematikan hati dan menghalangi diri untuk berdzikir dan membaca Al Qur`an. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak memerdukan suara ketika membaca Al Qur`an."

Terlebih lagi, mereka menambahi dan membubuhi nyanyian mereka dengan alat-alat musik atau dengan tepukan tangan agar terdengar serasi dan berirama merdu dalam kolaborasi (perpaduan) dua unsur tersebut. Beberapa stasiun televisi internasional -dan juga beberapa stasiun televisi Arab- pun turut menyiarkannya, seakan ini sebagai sebuah pembenaran atas tipe dzikir atau nasyid Islami, yang lebih disayangkan lagi, beberapa stasiun radio Islam pun mulai mengikuti jejak seperti ini.

Propaganda ciri dan penampakan seperti inilah yang dewasa ini banyak dilakukan, seakan untuk melegitimasi bahwa pola seperti inilah (dzikir dengan nasyid dan lain-lain) yang merupakan wujud ciri khas bagi Muslim yang hanif.

Saya tidak pernah lupa, ketika suatu saat sedang berada di salah satu markas Jama'ah Islamiyah. Tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara adzan yang merdu dengan iringan instrumen musik. Saya pun menanyakan akan fenomena ini, dan saya diberitahukan bahwa mereka adalah para pemuda Muslim yang sedang bertamu dari beberapa negeri Arab. Dan salah satu dari mereka menampilkan kreasi ilustrasi suara adzan yang merdu diiringi alat musik. Tipe inilah yang sekarang sering kita dengar dari beberapa stasiun radio siaran Islam. [5]

Sejalan dengan ini, Ibnu Al Qayyim pernah mengungkapkan dalam kitab "Ighatsah Al-Lahfan min Mashaid Asy-Syaithan" (1/226):

"Kami menyerahkan segala urusan kepada Allah dari kelompok orang-orang sakit karena mendenar musik.

Telah aku peringatkan bahwa kalian tengah berada di ambang jurang yang telah jauh dari kami.

Mulut jurang yang paling dalam hingga mencapai dasarnya, selangkah jauhnya jarak mereka dari kami.

Telah berulang kali kami menasehati mereka agar kami dapat memohon ampun akan perbuatan mereka kepada Tuhan.

Namun ketika mereka tidak mengindahkan peringatan itu, kami mengembalikan segala urusannya kepada Allah.

Pada kurun waktu terakhir ini, beberapa kalangan pemuda Muslim tersadar akan adanya dimensi negatif serta penyimpangan fenomena nasyid dari esensi syariat Islam. Lalu mereka mulai mengubah pola baru nasyid dengan format dan visi untuk mensupport (memberikan dukungan moral), kekuatan dan tema seputar memorial sisi-sisi kepahlawanan dalam Islam. Namun, terkadang mereka masih saja terjebak dalam polemik pengadopsian terhadap beberapa nada dan notasi musik kontemporer, bahkan ada beberapa kalangan dari mereka yang memasukkan unsur instrumen musik seperti rebana atau sejenisnya.

Hal seperti ini telah saya dengar sendiri dari beberapa jenis album rekaman. Dan saya telah berusaha untuk berbicara dengan mereka guna menasihati dan memperingatkan bahwa hal-hal seperti itu tidak diperbolehkan dalam Islam. Terlebih lagi, karena banyak para pemuda yang telah menjadikan kecenderungan untuk mendengarkan musik sebagai sebuah tradisi, dan pola sikap ini cenderung akan menghalangi mereka untuk memperbanyak bacaan dan lantunan Al Qur`an.

Semua fenomena ini merupakan disorientasi dan penyimpangan dari esensi ajaran dan tradisi yang telah dibawa serta dicontohkan oleh para salaf. Walaupun dulu mereka (para salaf) sering menyanyikan mars-mars perjuangan ketika mereka bergerak ke medan pertempuran, namun hal ini sangat berbeda dengan fenomena lantunan syair dan lagu yang diiringi irama musik. Tradisi baru ini merupakan penyerupaan tradisi para pembuat dosa dan penggemar hiburan.

Sebuah syair menyiratkan tentang hal ini,

"Semua kebaikan bisa didapatkan dengan mengikuti salaf, dan semua penyimpangan dapat timbul dari perbuatan khalaf."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

5. Mungkin yang dimaksud oleh penulis buku ini tentang ilustrasi suara adzan (atau suara demonstrasi adzan) yang dilakukan oleh media elektronik modern (radio atau televisi dan lainnya) tersebut adalah pola transfer suara adzan (alat suara manusia) dengan pola suara adzan elektronik (baik dalam bentuk copy suara yang mirip dengan suara manusia, ataupun transfer intonasi suara adzan ke dalam bentuk irama elektronik).

Atau mungkin juga yang dimaksudkan adalah sound bite, yakni menjadikan adzan sebagai suara latar (backing sound) yang mendukung musik latar dalam sebuah paket acara atau spot iklan atau tayangan tertentu yang berdurasi pendek. Penyajian sound bite ini biasanya digunakan untuk menarik gairah dan perhatian telinga pendengar untuk menyimak isi dari pesan yang akan disampaikan.

Fenomena musikalisasi suara adzan ini -menurut hemat kami sangat jarang terjadi- dan andaipun ada, mungkin hanya dilakukan dalam proses improvisasi seni suara adzan, yang kerap ditampilkan atau diperlombakan pada perayaan atau festival tertentu, -ed.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (4) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

c. Kronologi Penyusunan.

Beberapa tahun lalu, saya telah meringkas kitab "Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah" karya Imam At-Tirmidzi. Dalam buku tersebut saya menyajikan komentar saya seputar hadits-hadits yang termaktub dalam kitab tersebut antara shahih dan dha'if. Ketika itu saya sedang berada di tempat migrasi kami yang baru -yakni negara Oman- dalam kesempatan dan peristiwa yang berbeda, khususnya kesibukan saya saat itu dalam merenovasi kediaman saya yang baru tersebut. Selang beberapa bulan kemudian setelah saya menetap di Oman, saya dikejutkan dengan sesuatu yang memaksa saya untuk meninggalkan Oman dan keluarga saya untuk -dengan terpaksa- kembali ke lokasi migrasi awal saya (Damaskus). Saya tinggal dua hari di sana, kemudian hijrah ke Libanon yang penuh dengan hiruk-pikuk serta keterbatasan transportasi yang ada di sana.

Ketika saya telah menemukan ketenangan jiwa, saya memulai kembali sedikit demi sedikit kegiatan ilmiah saya, yaitu menelaah dan menyusun buku di perpustakaan milik Bapak Zuhair Asy-Syuwaisy yang banyak menyimpan beberpaa referensi dan kebanyakan tidak didapati di perpustakaan saya di Damaskus. Saya telaah dengan seksama, termasuk materi dalam makalah yang saya temukan.

Saya berkonsentrasi menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas saya ini, kendati demikian, saya dikejutkan dengan berita wafatnya saudara Naji Abu Ahmad di musim yang cukup mengguncang bathin saya ketika saya dalam proses pertengahan penyelesaian itu. Selanjutnya saya melewati waktu dalam menyelesaikannya dengan hati duka, dengan bersabar atas musibah yang menimpa ini. Karena dia adalah teman dan saudara terbaik saya, yang tulus, selalu mendukung dakwah saya, dan penuh semangat dalam menyebarkan dakwah.

Semoga dia akan selalu dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Teman-temannya, anak-anak cucu, ipar yang ditinggalkannya semoga diberikan kesabaran atas musibah ini. Semoga mereka yang ditinggalkannya akan menjadi orang-orang terbaik bagi umat ini, hingga kelak bersamanya di bawah naungan penghulu anak Adam, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

"(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna." (QS. Asy-Syu'araa (26): 88)

Saya telah menyimpang jauh dari topik awal pembicaraan kita, saya serahkan apa yang akan terjadi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan mari kita kembali ke pembahasan kita semula.

Anda sekalian telah mengetahui dari pembahasan sebelumnya, bahwa cinta Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak dapat diraih kecuali dengan mengikuti dan meneladani Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Oleh sebab itu, tingkatkanlah tekad untuk menggapainya, kerahkan dan korbankanlah segala yang anda miliki, agar anda dapat selalu berada di jalannya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (3) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

b. Ittiba' Rasul.

Tipe perlindungan seperti yang ditawarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ini hanya akan didapati oleh hamba-Nya yang paling dicintai-Nya. Dan sudah merupakan keharusan bagi setiap Muslim untuk bersegera mengejar kecintaan Allah Subhanahu wa Ta'ala atas dirinya. Dan cara untuk segera mencapai kecintaan dari-Nya ini adalah dengan jalan mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam semata, dan cara inilah yang dapat membuka kesempatan untuk menuju kecintaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena kita tidak akan dapat mengetahui determinasi hal-hal yang wajib (fardhu') dan hal-hal yang dianjurkan (nafilah) kecuali dengan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam (Sunnah).

Tidak perlu diragukan lagi bahwa seorang Muslim setiap kali pengetahuannya tentang sejarah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam meningkat, maka kebaikan dan keistimewaannya lebih baik. Sudah barang tentu, cintanya terhadap Nabi akan lebih membesar dan ketundukannya untuk mengikuti dan meneladaninya lebih kuat.

Terdorong perasaan ingin membantu saudara sesama Muslim, saya berusaha untuk mengidentifikasi dan menyebarluaskan makalah yang langka dan berharga ini. Terlebih lagi, saya telah mendapatkan pihak yang bersedia membantu mencetaknya. Orang itu adalah Bapak Zuhair Asy-Syuwaisy. Dan itulah tujuan seorang pengarang dari hasil tulisannya. Sebagaimana yang beliau paparkan dalam penutupan kitabnya yang berbunyi,

"Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala akan karunia-Nya, kemurahan-Nya agar memberi taufik kepada kita untuk mengikuti dan meneladani Sunah Rasul-Nya, jalur hidup dan seluruh moral serta tradisi beliau baik yang implisit maupun eksplisit. Dan menjadikan kita sebagai bagian dari golongan dan pendukung-pendukungnya. Sesungguhnya Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu, dan yang berhak mengabulkan setiap permintaan, tiada daya dan upaya kecuali hanya dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang Maha Tinggi dan Maha Agung."

Menurut hemat saya, pada hakikatnya, tujuan dari hidup ini disamping untuk merealisasikan segala hak dan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, adalah untuk memberdayakan upaya pengajaran, diskusi dan pembukuan tentang sejarah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dari berbagai aspek, agar masyarakat dapat menjadikannya sebagai single figure (tauladan yang eka) untuk diteladani. Sebagaimana yang telah dianjurkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya,

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzaab (33): 21)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

3. Derajat hadits ini adalah hasan seperti yang telah saya jelaskan dalam kitab "Al Misykat" no. 177 dan lain-lain.

4. Telah ditakhrij dalam kitab "Ash-Shahihah" no. 1640.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (2) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

a. Monotheisme.

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa seseorang tidak mungkin dapat mencapai derajat cinta seperti itu, kecuali dengan mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ibadah dan hanya mengikuti dan meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Barangsiapa yang menaati Rasul, sesungguhnya dia telah menaati Allah." (QS. An-Nisaa` (4): 80)

"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu." (QS. Aali 'Imraan (3): 31)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Tidak demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, yang hanya dapat dilakukannya adalah mengikutiku." (HR. Ad-Darimi (1/115-116), Ahmad (3/387), Abu Nu'aim, h. 15 dari hadits Jabir bin Abdullah) [3]

Menurut hemat saya, jika Nabi Musa 'alaihis salam saja tidak dapat melakukan apa-apa kecuali untuk mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, apalagi manusia yang lain? Dan inilah landasan bagi argumentasi yang kuat atas adanya keharusan untuk mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dan bersaksi akan sebuah kesetiaan kepadanya.

Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan pada ayat terdahulu bahwa dengan mengikuti dan meneladani Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) merupakan bukti cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak diragukan lagi, orang yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala niscaya Dia akan selalu menyertainya dalam segala urusan. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi,

"Seseorang hamba-Ku tidaklah dikatakan sudah berhasil bertaqarrub kepada-Ku, kecuali dia melakukannya dengan (melakukan) sesuatu yang sangat Aku cintai daripada apa yang menjadi kebutuhannya. Dan hamba-Ku yang senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah niscaya Aku akan mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku adalah pendengarannya yang digunakan untuk mendengar, penglihatannya yang digunakan untuk melihat, tangannya yang digunakan untuk menggenggam, dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia bermunajat kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan, dan apabila dia memohon perlindungan dari-Ku, maka Aku akan melindungi." (HR. Bukhari) [4]

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

3. Derajat hadits ini adalah hasan seperti yang telah saya jelaskan dalam kitab "Al Misykat" no. 177 dan lain-lain.

4. Telah ditakhrij dalam kitab "Ash-Shahihah" no. 1640.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Bagian Pertama.

A. Pendahuluan Muhaqqiq.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, hanya kepada-Nya kami memuji, memohon pertolongan, ampunan dan kami berlindung kepada-Nya dari segala keburukan jiwa dan amal. Barangsiapa yang diberi hidayah, niscaya tak akan tersesat sedangkan yang jauh dari petunjuk-Nya, niscaya tidak akan ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Ketika saya hampir selesai mengindentifikasi kitab "Raf Al Astar 'An Buthlani Adillah Al Qa`ilin bi Fina An-Nar" karya Ash-Shan'ani, dan membereskan mukadimah buku tersebut serta mengajukannya ke penerbit, tiba-tiba saya disodorkan oleh Bapak Zuhair Asy-Syawaisy (pemilik dan pengelola percetakan Maktabah Al Islami, -ed) sebuah buku dari koleksi buku perpustakaan (no: 4432). Buku tersebut memuat beragam makalah yang salah satu makalah tersebut ditulis pada abad ke-7 Hijriyah.

Karena ingin mempelajarinya, dan memilah materi yang cocok karena dikejar deadlock untuk segera diterbitkan, saya menemukan sebuah makalah yang berjudul: "Bidayah As-Sul fi Tafdhil Ar-Rasul", karya Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi. Dan saya berusaha keras untuk mempelajarinya secara seksama, hingga saya dapat sampai kepada kesimpulan bahwa buku ini merupakan buku yang berharga dan dapat bermanfaat bagi umat.

B. Keistimewaan Isi Buku.

Manfaat naskah klasik ini dapat ditinjau dari beberapa aspek keistimewaan yaitu:

1. Judul Makalah.

Saya yakin bahwa setiap Muslim yang baik, sudah selayaknya mengenal beberapa kemuliaan dan keutamaan Nabinya, serta kelebihan dan keistimewaannya dari makhluk semesta lainnya (dari jin, manusia dan Malaikat). Dan pengetahuannya ini hendaknya didasarkan oleh dalil yang kuat, pandangan jernih dan konklusif dari kandungan Al Qur`an dan Sunnah, hingga dapat meningkatkan mutu keimanan, kecintaan, dan keikhlasannya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Dan kecintaan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ini merupakan syarat utama yang harus ada di dalam hati seorang Mukmin, yang juga disertai dengan cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah (Sunnah) dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al Jumu'ah (62): 2)

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Tiga perkara yang apabila (perkara ini) terdapat di dalam diri seseorang, maka dia akan dapat merasakan manisnya iman, yaitu: orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lain, mencintai seseorang hanya karena Allah, enggan kembali ke dalam kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah sebagaimana keengganannya untuk dilemparkan ke dalam api Neraka." (HR. Bukhari dan Muslim) [1]

Dan cinta itu harus terus menguat dalam dirinya hingga Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lebih menjadi dicintai dari segala unsur dicintainya. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam hadits dari Anas radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda,

"Seseorang belum beriman hingga aku lebih dicintai dari orang tua, anak dan seluruh manusia." (HR. Bukhari ("Mukhtashar" no. 12), Muslim (1/49), Nasa`i (h. 750, "Hindiyyah"), Ibnu Majah (67), Ahmad (3/177, 207, 275, 278) [2]

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

1. Hadits dari Anas radhiyallahu 'anhu, dan hadits ini ditakhrij dalam kitab "Fiqih Sirah", "Ar-Raudh An-Nadhir" No. 52, serta dalam kitab "Mukhtashar Al-Bukhari" No. 13.

2. Hadits dari riwayat Anas radhiyallahu 'anhu, (Bukhari no. 11), dan Nasa`i dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tanpa redaksi, "Dan seluruh manusia", dengan imbuhan pada awal redaksinya, "Dan demi nyawaku berada di Tangan-Nya."

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Daftar Isi | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Daftar Isi.

Pengantar Penerbit.

Bagian Pertama.

A. Pendahuluan Muhaqqiq.

B. Keistimewaan Isi Buku.

1. Judul Makalah.

a. Monotheisme.

b. Ittiba' Rasul.

c. Kronologi Penyusunan.

d. Fenomena Nasyid.

e. Ajakan Untuk Ikhlas (Kesimpulan).

2. Simplikasi Isi Makalah Tentang Data-data.

3. Kredibelitas Hadits-hadits dalam Makalah ini.

a. Bantahan Hal Kitab.

b. Takhir Risalah.

Bagian Kedua.

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

A. Pendahuluan.

B. Kemuliaan Rasul.

a. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah pemimpin anak Adam.

b. Pemimpin yang tidak sombong.

c. Syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

d. Penangguhan doa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

e. Sumpah Allah atas nama.

f. Kemuliaan nama panggilan.

g. Mukjizat-mukjizat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

h. Umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah umat terbaik.

i. Universalitas risalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

j. Dialog antara Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

k. Orang pertama masuk Surga.

l. Orang pertama pemberi syafaat.

m. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah pemilik wasilah.

n. 70 ribu orang yang akan masuk Surga.

o. Telaga Al Kautsar.

Al Haudh.

p. Umat terakhir.

q. Dihalalkannya harta rampasan bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

r. Keagungan budi pekerti Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

s. Macam-macam wahyu.

t. Al Qur'an dan substansi ajaran kitab sebelumnya.

u. Amal dan pahala umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

v. Pilihan kenabian bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

w. Universalitas rahmat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

x. Akhlak Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

y. Sikap kasih Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam terhadap umatnya.

z. Ketulusan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam menunaikan tugas.

zi. Kesaksian umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

zii. Ketidaksepakatan umat Islam.

ziii. Perlindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Pembunuhan manusia perdana.

ziv. Ringkas dan lugasnya ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

zv. Keistimewaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

C. Penutup.

1. Kata penutup dari penulis.

2. Kata penutup dari Muhaqqiq (Albani).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 75

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Dari ayat ini dapat kita pahami dua hal: [1]

Pertama. Firman-Nya, "Kecuali orang yang dipaksa" menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya mengecualikan orang yang dipaksa. Dan kita telah maklum bahwa manusia hanya dapat dipaksa pada ucapan atau perbuatannya. Adapun keyakinan hati, maka tidak ada seorang pun yang bisa memaksanya.

Kedua. [2] Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Yang demikian itu karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat" menjelaskan bahwa kekafiran dan ditimpakannya azab kepada seseorang bukan karena keyakinan, kebodohan, kebenciannya kepada agama atau kecintaannya kepada kekafirannya, tetapi karena adanya kepentingan-kepentingan duniawi yang kemudian berpengaruh terhadap agamanya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala lah yang lebih mengetahui. Shalawat dan salam semoga diberikan kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, keluarganya dan para sahabatnya. [3]

Penjelasan.

[1] Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya mengecualikan orang yang dipaksa. Dan paksaan hanya terjadi pada ucapan atau perbuatan. Adapun keyakinan hati tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali Allah dan paksaan itu tidak bisa dilakukan terhadap hati. Tidak mungkin seseorang memaksa orang lain misalnya dengan mengatakan, "Engkau harus meyakini begini dan begitu", karena perkara batin tidak ada seorang pun mengetahuinya. Paksaan hanya bisa terjadi pada yang nampak saja, baik dalam ucapan atau perbuatan.

[2] Yang kedua, bahwa mereka lebih mencintai dunia daripada akhirat. Kekafiran mereka disebabkan cinta mereka kepada dunia yang berupa kedudukan, harta, pangkat lebih besar dibanding cinta mereka kepada akhirat. Dan kecintaan kepada perkara dunia seperti itu bisa mengantarkan seseorang kepada kekafiran walaupun dia tidak mencintai kekafiran itu. Kecintaannya kepada dunialah yang mengantarkan dia menjadi kafir. Ini saya katakan, karena ada sebagian orang yang dikafirkan karena dia mencintai dan mengagumi kekafiran itu sendiri; dan sebagian yang lain dikafirkan karena ingin meraih kekuasaan dan tujuan-tujuan lain yang serupa dengannya.

Kita mohon kepada Allah agar menunjukkan kita ke jalan yang lurus dan supaya tidak memalingkan hati kita setelah mendapatkan petunjuk-Nya.

[3] Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menutup kitabnya ini dengan mengatakan bahwa Allahlah yang Maha Mengetahui, dan beliau juga berdo'a semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dengan ini selesai sudah kitab Kasyf Asy Syubuhat. Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memberi pahala kepada penulisnya dengan sebaik-baik pahala dan menjadikan kita mendapatkan bagian dari pahala dan ganjarannya, serta menjadikan kita dan penulis berkumpul di negeri karamah-Nya (maksudnya: di Surga, -ed.).

Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia. Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin. Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 74

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Ayat pertama [1] adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Janganlah kalian mengemukakan alasan. Sungguh, kalian telah kafir setelah kalian beriman." (QS. At Taubah: 96)

Apabila telah jelas bagimu bahwa sebagian sahabat yang memerangi bangsa romawi bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam itu bisa menjadi kafir disebabkan kalimat kekufuran yang mereka ucapkan dengan bercanda dan main-main, maka orang yang mengucapkan kalimat kekufuran, lalu mengamalkannya karena takut kekurangan harta atau kedudukannya atau karena basa-basi kepada seseorang, lebih besar kekafirannya daripada orang yang mengatakannya dengan canda dan main-main.

Kedua, [2] firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka dia tidak berdosa). Akan tetapi, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran kepada Allah, maka kemurkaan Allah menimpanya, baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat." (QS. An Nahl: 106)

Allah tidak akan memaafkan mereka, kecuali orang yang dipaksa kafir sementara hatinya tetap mantap dalam keimanan. Adapun selain orang yang dipaksa, maka ia tetap disebut kafir, baik dia melakukannya karena takut, karena berbasa-basi, karena bakhil dengan negerinya, keluarganya, karib kerabatnya atau hartanya, maupun dia melakukannya dengan main-main atau karena tujuan lain.

Penjelasan.

[1] Syaikh rahimahullah mengajak kita untuk memikirkan dua ayat dari Al Qur'an. Yang pertama firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Jangan kalian memberikan alasan. Sungguh, kalian telah kafir setelah kalian beriman."

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang munafik yang mencela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan para sahabatnya (radhiyallahu 'anhum). Syaikh rahimahullah berkata, "Apabila orang-orang munafik yang berperang bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam perang Tabuk menjadi kafir karena kalimat yang mereka ucapkan hanya bercanda, tidak bersungguh-sungguh, maka bagaimana pendapatmu dengan orang yang mengucapkan kalimat kufur dengan sungguh-sungguh dari lubuk hatinya karena takut hilang kekuasaannya, kedudukannya, atau yang semisal dengannya? Jelas, keadaannya jauh lebih kafir. Orang yang melakukan kekafiran baik karena takut ataupun mengharapkan sesuatu, termasuk kafir setelah dia beriman, baik dengan berolok-olok atau dengan bersungguh-sungguh. Dan orang yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran maka dia termasuk orang munafik dipandang dari sisi mana pun.

[2] Syaikh rahimahullah mengajak kita merenungkan ayat kedua ini. Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada udzur bagi seorang pun untuk dinyatakan kafir setelah beriman kecuali orang yang dipaksa. Orang yang kafir atas dasar pilihannya dengan sebab adanya berbagai kepentingan, baik dilakukan dengan main-main, bakhil terhadap atasannya, untuk membela negerinya, atau yang semisal dengannya, maka dia termasuk kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan memaafkan kekafirannya kecuali kalau dia dipaksa dengan syarat hatinya tetap mantap dalam keimanan.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 73

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Apabila seseorang melaksanakan tauhid secara zhahir (yang nampak) [1], tetapi dia tidak memahaminya atau tidak meyakininya dalam hati, maka orang tersebut adalah munafik. Keadaannya lebih buruk daripada orang yang kafir murni, karena firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada dalam keraknya api Neraka." (QS. An Nisaa': 145)

Masalah ini besar dan panjang (pembahasannya). [2] Apabila engkau mau memperhatikan perkataan-perkataan manusia, engkau akan melihat ada orang yang mengetahui kebenaran, lalu tidak mau berbuat berdasar kebenaran itu karena takut kehilangan dunianya atau kedudukannya atau karena basa-basi menyesuaikan diri dengan orang. Engkau juga akan melihat ada orang yang secara zhahir beramal dengan kebenaran itu tetapi tidak diyakininya dalam hati. Oleh karena itu, apabila engkau bertanya kepadanya tentang apa yang menjadi keyakinannya dan ternyata dia tidak mengetahuinya, maka wajib bagi engkau memahami dua ayat dalam Al Qur'an berikut ini.

Penjelasan.

[1] Syaikh rahimahullah berkata, "Apabila seseorang beramal dengan tauhid secara zhahir yakni dengan lisan dan anggota badannya, akan tetapi dia tidak meyakini dengan hatinya dan memahaminya maka dia munafik. Keadaannya lebih buruk daripada orang kafir yang murni kekafirannya, karena firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada dalam keraknya api Neraka."

Ini berlaku bagi orang yang menentang, yang mengetahui kebenaran, tetapi dia ingkari, hatinya tidak merasa mantap dengan kebenaran tersebut; yang menampakkan kesungguhan melaksanakan kebenaran dengan maksud menipu Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Adapun orang yang tidak mengetahui kebenaran secara utuh lalu dia beramal sesuai dengan yang dia ketahui atau beramal sebagaimana yang dia lihat dari orang-orang, sedangkan amalan itu sendiri tidak dia ketahui dasarnya secara jelas, maka orang seperti ini perlu diajari kebenaran yang sebenarnya. Apabila setelah diajari kebenaran yang sebenarnya dia terus-menerus dalam keingkaran, maka dia termasuk orang munafik.

[2] Syaikh rahimahullah menjelaskan bahwa masalah ini adalah masalah yang besar lagi panjang yakni panjang penelitiannya. Kita melihat, banyak manusia kadang-kadang menolak kebenaran karena takut celaan atau mengharapkan kedudukan atau dunia. Dalam keadaan seperti ini perlu diteliti dengan saksama sehingga jelas siapa yang munafik dan siapa yang benar-benar Mukmin.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah