Mendakwahkan Kalimat Syahadat La Ilaha Illallah | Kitab Tauhid

Bab 5

Mendakwahkan Kalimat Syahadat La Ilaha Illallah

Allah Ta'ala berfirman,

"Katakanlah, 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf: 108)

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia menuturkan bahwa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu'adz (radhiyallahu 'anhu) ke Yaman, beliau bersabda,

"Engkau akan mendatangi kaum ahli kitab. Oleh karena itu hendaknya dakwah yang pertama kali engkau sampaikan kepada mereka ialah kalimat syahadat la ilaha illallah." Dalam riwayat lain dikatakan, "supaya mereka mentauhidkan Allah." "Kalau mereka telah mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka ajarkanlah bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat wajib lima waktu sehari-semalam."

"Kalau mereka telah mematuhi apa yang kamu dakwahkan itu, maka ajarkanlah bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diserahkan kepada orang-orang fakir. Kalau mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan itu, maka jauhkanlah dirimu dari harta benda mereka yang paling berharga. Berhati-hatilah dari do'a orang yang teraniaya karena tidak ada tabir (pembatas, -ed.) yang menghalangi antara do'a itu dengan Allah." (HR. Bukhari 4347 dan Muslim 19)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, dia mengatakan bahwa pada masa perang Khaibar, Rasululullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Demi Allah, besok aku akan menyerahkan bendera komando perang ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya. Allah memberikan kemenangan melalui tangannya."

Semalam suntuk orang-orang pun memperbincangkan siapakah di antara mereka yang akan diberi bendera tersebut. Pada pagi harinya, mereka mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setiap orang dari mereka menginginkan agar menjadi orang yang diberi bendera tersebut.

Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) berkata, "Dimanakah 'Ali bin Abi Thalib?" Seorang sahabat mengatakan, "Kedua matanya sedang sakit." Mereka mengutus seorang utusan kepadanya, lantas dia pun dibawa menghadap. Rasululullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) lantas meludahi kedua mata 'Ali dan mendo'akannya. Tiba-tiba dia pun sembuh seolah-olah sebelumnya tidak pernah sakit apa pun.

Rasululullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) memberikan bendera tersebut kepada 'Ali. Beliau bersabda, "Melangkahlah ke depan dengan tenang sampai engkau tiba di tempat mereka. Ajaklah mereka untuk masuk Islam. Ajarkanlah kepada mereka hak-hak Allah Ta'ala yang wajib mereka penuhi. Demi Allah, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada satu orang saja melalui engkau, maka hal itu lebih baik daripada onta-onta merah." (HR. Bukhari 3701, Muslim 2406)

Kandungan Bab

1. Berdakwah adalah jalan hidup orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

2. Peringatan untuk ikhlas, karena kebanyakan orang kalau mengajak (orang lain untuk mengikuti) kebenaran, justru mengajak kepada (kepentingan) pribadi.

3. Mengerti betul dan yakin akan materi yang didakwahkan adalah suatu kewajiban.

4. Di antara pertanda baiknya tauhid seseorang adalah menyucikan Allah Ta'ala dari kejelekan.

5. Di antara bentuk kejelekan syirik, ia merupakan satu bentuk penghinaan kepada Allah.

6. Termasuk perkara yang sangat urgen adalah seorang muslim harus menjauhi orang-orang musyrik agar dirinya tidak menjadi seperti mereka, walaupun dirinya belum berbuat syirik.

7. Tauhid adalah kewajiban yang pertama.

8. Tauhid adalah materi dakwah yang pertama sebelum menginjak permasalahan yang lainnya.

9. Makna mentauhidkan Allah itu sama dengan makna la ilaha illallah.

10. Seseorang terkadang termasuk ahli kitab akan tetapi dia tidak mengetahui makna la ilaha illallah, atau dia mengetahui makna kalimat tersebut akan tetapi tidak mengamalkannya.

11. Perlu diperhatikan metode pengajaran secara berjenjang.

12. Memulai suatu perkara dari yang paling penting, kemudian penting dan seterusnya.

13. Salah satu orang yang berhak menerima zakat (yaitu orang fakir).

14. Upaya orang yang memiliki ilmu untuk menjelaskan sesuatu yang masih diragukan oleh orang yang sedang belajar.

15. Dilarangnya mengambil harta yang paling berharga untuk zakat.

16. Berhati-hati dari do'a orang yang teraniaya.

17. Penjelasan bahwa do'a orang yang teraniaya tidaklah memiliki tirai (dengan Allah).

18. Di antara bukti-bukti tauhid adalah adanya kesulitan, kelaparan dan wabah penyakit yang menimpa Rasululullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) dan para sahabat (radhiyallahu 'anhum).

19. Sabda Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam), "Aku akan memberikan bendera komando perang ini..." adalah salah satu tanda kenabian Rasulullah.

20. Di antara tanda kenabian Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) yang lain adalah beliau meludahi kedua mata 'Ali (sehingga matanya yang sakit sembuh dengan seketika, -pent).

21. Keutamaan 'Ali radhiyallahu 'anhu.

22. Keutamaan para sahabat (karena semangat yang besar dalam mengejar kebaikan, -ed). Hal ini nampak dari perbincangan mereka pada malam (menjelang meletusnya perang Khaibar, -ed). Mereka sibuk membicarakan kabar gembira tentang kemenangan yang akan diraih (masing-masing dari mereka berharap bisa diamanahi bendera komando perang, -pent).

23. Beriman kepada takdir karena bendera komando itu ternyata diserahkan kepada orang yang tidak berusaha untuk memperolehnya. Orang yang berusaha untuk memperolehnya justru tidak mendapatkannya.

24. Pentingnya adab dalam berjihad. Hal ini nampak dalam sabda Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam), "...(Melangkahlah ke depan) dengan tenang..."

25. Sebelum memerangi suatu kaum, hendaknya terlebih dahulu mendakwahi mereka agar masuk Islam.

26. Hal ini juga disyariatkan kepada kaum yang telah didakwahi dan diperangi sebelumnya.

27. Berdakwah dengan cara yang bijaksana. Hal ini berdasarkan sabda beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam), "Ajarkanlah kepada mereka hak-hak Allah Ta'ala yang wajib mereka penuhi..."

28. Mengetahui hak Allah Ta'ala dalam Islam.

29. Pahala bagi orang yang bisa memasukkan seseorang ke dalam Islam melalui tangannya.

30. Bolehlah bersumpah dalam menyampaikan fatwa.

=====

Catatan Kaki:

31. Beliau adalah Abul 'Abbas Sahl bin Sa'ad bin Malik bin Khalid Al Anshari Al Khazraji As Sa'idi. Beliau adalah seorang sahabat yang terkenal. Bapak beliau juga seorang sahabat. Beliau adalah sahabat yang terakhir. Beliau meninggal di Madinah pada tahun 88 H. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau meninggal pada tahun 91 H.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Takut Terhadap Syirik | Kitab Tauhid

Bab 4

Takut Terhadap Syirik

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (28). Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An Nisa': 48)

Al Khalil Ibrahim 'alaihis salam berkata,

"Jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." (QS. Ibrahim: 35)

Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Perkara yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil." Lalu beliau ditanya tentang maksud syirik kecil tersebut. Beliau menjawab, "Perkara itu adalah riya'. (29)"

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka dia akan masuk ke dalam Neraka." (HR. Bukhari 4497)

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir (30) radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa bertemu dengan Allah (mati) dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun maka dia akan masuk Surga. Barangsiapa bertemu dengan Allah (mati) dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, maka dia akan masuk Neraka." (HR. Muslim 93)

Kandungan Bab

1. Syirik adalah perbuatan dosa yang seharusnya ditakuti.

2. Riya' termasuk perbuatan syirik.

3. Riya' termasuk syirik kecil.

4. Perkara yang paling ditakutkan menimpa orang-orang shalih adalah riya'.

5. Dekatnya Surga dan Neraka.

6. Dekatnya Surga dan Neraka telah sama-sama disebutkan dalam satu hadits.

7. Barangsiapa meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah, maka dia akan masuk Surga. Barangsiapa meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah maka dia akan masuk Neraka.

8. Suatu masalah yang urgen, yaitu Nabi Ibrahim Al Khalil memohon kepada Allah untuk diri dan anak cucunya agar dijauhkan dari perbuatan menyembah berhala.

9. Nabi Ibrahim mengambil pelajaran dari kondisi sebagian besar manusia. Hal ini dipetik dari firman Allah,

"Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia." (QS. Ibrahim: 36)

10. Bab ini menguraikan penafsiran kalimat la ilaha illallah sebagaimana dijelaskan oleh imam Bukhari.

11. Keutamaan orang yang bersih dari perbuatan syirik.

=====

Catatan Kaki:

28. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang telah mencermati permasalahan ini memiliki pendapat yang berbeda-beda. Terkadang beliau mengatakan bahwa yang dimaksud ayat di atas adalah segala macam syirik tidak akan diampuni Allah walaupun berupa syirik ashghar. Namun terkadang beliau berpendapat bahwa yang dimaksud ayat ini adalah hanya syirik akbar. Yang terpenting di sini, kita wajib berhati-hati dari segala macam bentuk syirik karena boleh jadi keumuman ayat tersebut juga meliputi syirik ashghar. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/87-88)

29. HR. Ahmad 5/428 dan Al Baihaqi. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.

30. Beliau adalah Jabir bin 'Abdillah bin 'Amr bin Haram Al Anshari As Sulami. Beliau dan bapaknya merupakan sahabat yang terkemuka. Beliau wafat di Madinah pada tahun 74 H. Menjelang akhir hidupnya beliau mengalami kebutaan.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Kitab At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Pahala Orang yang Merealisasikan Tauhid | Kitab Tauhid

Bab 3

Pahala Orang yang Merealisasikan Tauhid (17)

Barangsiapa yang mengamalkan tauhid dengan tulus, maka dia akan masuk Surga tanpa hisab.

Allaj Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang berbuat syirik." (QS. An Nahl: 120)

"Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Rabb mereka (dengan sesuatu pun)." (QS. Al Mukminun: 59)

Husain bin Abdirrahman (18) menuturkan bahwa suatu ketika dirinya bersama Sa'id bin Jubair (19). Lalu ia bertanya, "Siapakah di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?" "Saya," kataku, kemudian saya melanjutkan, "Waktu itu saya sedang tidak mengerjakan shalat. Akan tetapi saya sedang terkena sengatan kalajengking." Sa'id bertanya, "Lantas apa yang kamu lakukan?" Saya menjawab, "Minta diruqyah." Ia bertanya lagi, "Apa yang mendorongmu untuk berbuat demikian?" Saya jawab, "Sebuah hadits yang disampaikan oleh Asy Sya'bi (20) kepada kami." Ia bertanya lagi, "Apa yang disampaikan Asy Sya'bi kepadamu?" Saya menjawab, "Dia menuturkan kepada kami hadits dari Buraidah bin Al Hushaib yang berbunyi,

"Tidak ada ruqyah yang lebih manjur selain kepada (21) yang terkena 'ain (22) atau sengatan." (Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

Sa'id berkata, "Sungguh sangat baik seseorang yang mengamalkan apa yang didengarnya. Akan tetapi, Ibnu 'Abbas (23) radhiyallahu 'anhuma menyampaikan kepada kami sebuah hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

"Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat. Aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang, seorang Nabi bersama satu atau dua orang, seorang Nabi yang tak ada seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sekumpulan manusia dalam jumlah yang banyak. Aku mengira bahwa mereka itu adalah umatku, akan tetapi dikatakan kepadaku, 'Ini adalah Musa bersama kaumnya.' Lalu aku melihat lagi sekumpulan manusia dalam jumlah yang banyak, dan dikatakan kepadaku, 'Ini adalah umatmu. Bersama mereka ada tujuh puluh riba orang yang masuk Surga tanpa hisab dan siksa.'"

Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) lantas bangkit dan memasuki rumah. Para sahabat pun memperbincangkan siapakah mereka itu. Ada yang berkomentar, "Mungkin mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (24)." Sebagian sahabat berkata, "Mungkin mereka adalah orang yang dilahirkan di lingkungan Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah sedikit pun." Mereka pun menyebutkan beberapa perkara yang lain. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau.

Rasululullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah (25), tidak pernah minta diobati dengan metode kai (26), tidak tathayyur dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka."

Ukasyah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu berdiri dan mengatakan, "Wahai Rasulullah, berdo'alah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka." Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjawab, "Engkau termasuk golongan mereka." Sahabat yang lain lantas berdiri dan mengatakan, "Berdo'alaj kepada Allah agar aku termasuk di antara mereka." Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) berkata, "Engkau sudah kedahuluan Ukasyah." (HR. Bukhari 5705, Muslim 220)

Kandungan Bab

1. Mengetahui adanya tingkatan-tingkatan manusia dalam bertauhid.

2. Pengertian merealisasikan tauhid.

3. Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim ('alaihis salam) bahwa beliau tidak termasuk orang yang berbuat syirik.

4. Pujian Allah kepada para tokoh wali karena mereka selamat dari perbuatan syirik.

5. Di antara bentuk realisasi tauhid adalah meninggalkan ruqyah dan pengobatan dengan menggunakan besi panas.

6. Tawakal mendasari segala sikap tersebut.

7. Dalamnya ilmu para sahabat, karena mereka mengetahui bahwa derajat yang disebutkan dalam hadits di atas tidak bisa diraih melainkan dengan beramal.

8. Semangat para sahabat dalam melakukan kebaikan.

9. Kelebihan umat Islam dalam kuantitas dan kualitas.

10. Keutamaan para pengikut Nabi Musa ('alaihis salam).

11. Umat-umat telah ditampakkan kepada Nabi 'alaihi shalatu was salam.

12. Setiap umat akan dikumpulkan sendiri-sendiri bersama Nabinya.

13. Jumlah orang yang mengikuti ajakan para Nabi sangat sedikit.

14. Nabi yang tidak memiliki pengikut akan datang sendirian (pada hari Kiamat, -pent).

15. Pelajaran dapat diambil dari hadits Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma) di atas adalah tidak boleh silau dengan jumlah yang banyak dan tidak merasa kecil hati dengan jumlah yang sedikit.

16. Diperbolehkannya melakukan ruqyah karena terkena 'ain (27) atau sengatan binatang.

17. Dalamnya ilmu para salaf. Hal ini bisa dipahami dari ucapan, "Telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang didengarnya, akan tetapi..." Dengan demikian hadits yang pertama (dari Buraidah radhiyallahu 'anhu) tidak bertentangan dengan hadits yang kedua (dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma).

18. Orang-orang salaf tidak suka dipuji orang lain atas perbuatan yang tidak mereka lakukan.

19. Sabda Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam), "Engkau termasuk golongan mereka" adalah termasuk tanda-tanda kenabian beliau.

20. Keutamaan Ukasyah.

21. Pemakaian kata sindiran.

22. Indahnya akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

=====

Catatan Kaki:

17. Maksudnya adalah membersihkan tauhid dari kotoran syirik, bid'ah dan perbuatan maksiat. Fathul Majid hlm. 84.

18. Nama lengkapnya adalah Abu Hudzail Hushain bin 'Abdirrahman As Sulami Al Kufi. Beliau adalah perawi hadits yang terpercaya. Wafat pada tahun 136 H.

19. Beliau adalah Al Imam Al Fakih Sa'id bin Jubair. Beliau tinggal di negeri Kuffah dan masuk Islam melalui perantaraan Bani Asad. Beliau terbunuh di tangan Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi pada tahun 95 H.

20. 'Amir bin Syuraahil Al Hamadani. Beliau lahir pada zaman kekhalifahan 'Umar radhiyallahu 'anhu. Beliau termasuk ulama di kalangan tabi'in sekaligus sebagai perawi yang tsiqah (terpercaya). Wafat pada tahun 103 H.

21. Penyembuhan dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur'an dan do'a-do'a yang diajarkan Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam), -pent.

22. Pengaruh jahat yang timbul karena rasa dengki seseorang melalui pandangan matanya, -pent.

23. Beliau adalah 'Abdullah bin Al 'Abbas bin 'Abdil Muthalib anak paman Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam). Diberi gelar "Habrul Ummah" (orang alim umat ini). Beliau wafat tahun 68 H di Thaif.

24. Mungkin yang dimaksud di sini adalah seluruh sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mungkin juga para sahabat yang ikut hijrah dan mungkin juga para sahabat yang menyertai beliau sampai pada masa ditaklukkannya kota Mekah. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/78)

25. Maksudnya adalah orang yang tidak meminta orang lain untuk membacakan do'a ruqyah untuknya.

26. Pengobatan dengan metode menempelkan besi panas di tempat yang sakit, -ed.

27. 'Ain adalah pengaruh jahat yang timbul melalui mata seseorang yang memiliki rasa dengki, -pent.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Kitab At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Keutamaan Tauhid | Kitab Tauhid

Bab 2

Keutamaan Tauhid

Di antara keutamaan tauhid adalah terhapusnya dosa-dosa seorang hamba.

Allah Ta'ala berfirman,

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan. Mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al An'am: 82)

Dari 'Ubadah bin Shamit (8) radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (bersaksi bahwa) Nabi 'Isa adalah hamba, utusan dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh daripada-Nya, (bersaksi bahwa) Surga adalah benar adanya dan Neraka pun benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam Surga betapa pun amal yang telah dilakukannya (9)." (HR. Bukhari 3430, Muslim 28)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari 'Itban (10) radhiyallahu 'anhu,

"Sesungguhnya Allah mengharamkan Neraka bagi orang yang mengucapkan 'La ilaha illallah' (Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah), dengan mengharap (pahala melihat) wajah Allah." (HR. Bukhari 425, Muslim 263)

Dari Abu Sa'id Al Khudri (11) radhiyallahu 'anhu, Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Nabi Musa berkata, 'Ya Rabbi, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdo'a kepada-Mu.' Allah berfirman, 'Wahai Musa, katakanlah, 'La ilaha illallah'.' Musa berkata, 'Ya Rabbi, semua hamba-Mu mengatakan kalimat itu.' Allah berfirman, 'Wahai Musa, kalau sekiranya ketujuh langit dan penghuninya selain. Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada satu daun timbangan, sedangkan 'la ilaha illallah', diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka timbangan 'la ilaha illallah' niscaya lebih berat." (Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Nasa'i dalam kitab Al Kubra 10760, Ibnu Hibban 6218, dan Hakim 1/528)

Tirmidzi meriwayatkan hadits yang beliau nyatakan berderajat hasan, dari Anas (12) radhiyallahu 'anhu, dia menceritakan bahwa dirinya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Allah Ta'ala berfirman, 'Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh jagad, lantas engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, maka Aku akan memberimu ampunan sepenuh jagad itu pula." (HR. Tirmidzi 3540)

Kandungan Bab

1. Luasnya karunia Allah.

2. Banyaknya pahala bertauhid di sisi Allah.

3. Selain itu, tauhid juga bisa menghapuskan dosa-dosa.

4. Tafsir surat Al An'am ayat: 82. (13)

5. Perhatikan kelima permasalahan yang termaktub dalam hadits 'Ubadah.

6. Dengan menyelaraskan hadits 'Ubadah, hadits 'Itban dan hadits sesudahnya (hadits Anas, -ed), maka akan jelas bagi anda makna la ilaha illallah dan kesalahan orang-orang yang telah tertipu. (14)

7. Perlu diingat persyaratan yang dinyatakan dalam hadits 'Itban.

8. Para Nabi juga perlu diingatkan tentang keutamaan la ilaha illallah.

9. Kalimat la ilaha illallah lebih berat timbangannya daripada seluruh makhluk. Walaupun kebanyakan orang mengucapkan kalimat tersebut akan tetapi ternyata ringan timbangan.

10. Keterangan bahwa bumi itu tujuh seperti halnya langit.

11. Langit dan bumi memiliki penghuni.

12. Penetapan sifat-sifat Allah. Berbeda halnya dengan pendapat sekte Asy'ariyah. (15)

13. Apabila kita memahami hadits Anas radhiyallahu 'anhu, kita akan tahu bahwa makna hadits dari 'Itban radhiyallahu 'anhu yang berbunyi, "Sesungguhnya Allah mengharamkan Neraka bagi orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan mengharap (pahala menemui) wajah Allah", adalah dengan tidak melakukan perbuatan syirik, tidak sekedar mengucapkan la ilaha illallah dengan lisan.

14. Perhatikanlah perpaduan sebutan untuk Nabi 'Isa dan Muhammad dengan sebutan hamba dan utusan Allah.

15. Mengetahui keistimewaan Nabi 'Isa sebagai kalimat Allah. (16)

16. Mengetahui bahwa Nabi 'Isa adalah ruh di antara ruh-ruh yang diciptakan Allah.

17. Mengetahui keutamaan beriman kepada Surga dan Neraka.

18. Mengetahui makna sabda Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam), "Betapa pun amal yang telah dilakukannya."

19. Mengetahui bahwa timbangan memiliki dua daun.

20. Mengetahui keberadaan wajah bagi Allah.

=====

8. Beliau adalah Abul Walid 'Ubadah bin Ash Shamit bin Qais Al Anshari Al Khazraji (radhiyallahu 'anhu). Beliau termasuk utusan orang-orang Madinah yang dikirim menemui Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) di Mekkah. Beliau turut serta dalam perang Badar dan termasuk sahabat yang terkenal. Beliau wafat di Ramlah pada tahun 34 H.

9. Penggalan hadits ini juga bisa dimaknai, "Derajat ahli Surga yang memasukinya Surga itu sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing." (Lihat Fathul Majid Syarhu Kitab Tauhid hlm. 48)

10. Nama lengkapnya adalah 'Itban bin 'Amr bin Al 'Ajlan Al Anshari (radhiyallahu 'anhu). Beliau berasal dari bani Salim bin 'Auf. Beliau adalah seorang sahabat yang terkenal. Beliau wafat pada zaman khilafah Mu'awiyah bin Abi Sufyan.

11. Nama lengkapnya adalah Abu Sa'id Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid Al Anshari Al Khazraji (radhiyallahu 'anhu). Beliau adalah seorang sahabat yang masyhur, seperti bapaknya. Beliau wafat di Madinah tahun 74 H.

12. Beliau adalah Anas bin Malik bin An Nadhr Al Anshari Al Khazraji (radhiyallahu 'anhu). Beliau adalah pembantu Rasulullah. Para ulama berselisih tentang lamanya Anas menjadi pembantu Rasululullah. Ada yang mengatakan bahwa Anas menjadi pembantu Rasululullah selama 10 tahun, ada pula yang mengatakan selama 6 tahun. Rasululullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) mendo'akan beliau agar harta dan anaknya diberkahi dan ternyata memang demikianlah kenyataannya. Beliau wafat pada tahun 93 H di kota Bashrah.

13. Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa orang yang mentauhidkan Allah dan tidak mencampuradukkan tauhidnya dengan perbuatan syirik, maka Allah pasti membebaskannya dari Neraka di akhirat nanti. Dan di dunia, Allah akan memberikan taufik kepadanya untuk menempuh jalan yang lurus. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 35)

14. Kebanyakan orang salah dalam memahami hadits "Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallaah akan masuk Surga". Mereka menyangka hanya dengan mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah bisa menyelamatkan seseorang dari Neraka dan memasukkannya ke dalam Surga, padahal tidak seperti itu. Dan mereka inilah yang tertipu dengan pemahaman mereka, karena belum mendalami makna sebenarnya. (Fathul Majid hlm. 72, -ed)

15. Sekte yang menyimpang dalam Islam yang menetapkan sebagian sifat-sifat Allah akan tetapi menolak sebagian sifat-sifat yang lain. Sedangkan sikap Ahlu Sunnah adalah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri untuk diri-Nya baik melalui Al Qur'an maupun hadits Nabi yang shahih, -pent.

16. Maksud kalimat Allah di sini adalah Nabi 'Isa diciptakan Allah dengan kalimat, "Kun!"

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Kitab At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Tauhid | Kitab Tauhid

Bab 1

Tauhid (a)

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah (b) kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyat: 56)

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut (c).'" (QS. An Nahl: 36)

"Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, jangan sekali-kali mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan jangan pula membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang. Ucapkanlah, 'Wahai Rabb-ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah memeliharaku sewaktu kecil.'" (QS. Al Isra': 23-24)

"Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain." (QS. An Nisa': 36)

"Katakanlah (wahai Muhammad), 'Marilah kubacakan kepada kalian apa yang diharamkan kepada kalian oleh Rabb kalian, yaitu janganlah kalian berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun. Berbuat baiklah kepada orang tua. Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut jatuh miskin. Kami akan memberi rizki kepada kalian dan kepada mereka. Janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Janganlah membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk dibunuh) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar.' Demikian itu yang diperintahkan oleh Rabb kalian kepada kalian agar kalian memahami(nya). Janganlah kalian mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai mereka dewasa. Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kemampuannya. Apabila kalian berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil walaupun kepada kerabat(mu). Penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian ingat. Sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa." (QS. Al An'am: 151-153)

Ibnu Mas'ud (1) radhiyallahu 'anhu berkata, "Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang tertera di atas cincin stempel beliau, hendaklah membaca firman Allah Ta'ala, 'Katakanlah (wahai Muhammad): Marilah kubacakan kepada kalian apa yang diharamkan kepada kalian oleh Rabb kalian, yaitu: Jangan kalian berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun...' sampai firman-Nya: 'Sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut...'" (QS. Al An'am: 151-153) (Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi 3070, Ibnu Abi Hatim dalam kitab At Tafsir 8056, Thabrani dalam kitab Al Kabir 10060)

Mu'adz bin Jabal (2) (radhiyallahu 'anhu) menuturkan,

Aku pernah membonceng Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Beliau bersabda kepadaku, "Wahai Mu'adz, apakah engkau tahu apa hak Allah yang wajib dipenuhi hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Beliau bersabda, "Hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba-Nya adalah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun; sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah Dia tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya sedikit pun." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada khalayak ramai?" Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjawab, "Janganlah engkau sampaikan dahulu kabar gembira ini, nanti mereka hanya akan mengandalkan tauhid mereka dan tidak beramal." (HR. Bukhari 2856, Muslim 30)

Kandungan Bab

1. Hikmah penciptaan jin dan manusia (3).

2. Ibadah adalah hakekat tauhid karena permusuhan yang terjadi (antara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan orang-orang musyrik, -pent) lantaran masalah tauhid ini.

3. Barangsiapa yang belum merealisasikan tauhid ini, dia belum beribadah kepada Allah. Di sinilah makna firman Allah,

"Kalian bukan penyembah Rabb yang aku sembah." (QS. Al Kafirun: 3)

4. Hikmah diutusnya para Rasul (4).

5. Risalah yang dibawa oleh Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersifat universal bagi seluruh umat.

6. Ajaran para Nabi adalah satu (yaitu tauhid, -pent).

7. Suatu masalah yang besar, yaitu bahwa ibadah kepada Allah tidak bisa terwujud dengan benar kecuali dengan mengingkari thaghut. Inilah makna firman Allah Ta'ala,

"Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut." (QS. Al Baqarah: 256)

8. Pengertian thaghut bersifat umum, mencakup segala yang disembah selain Allah.

9. Tiga ayat muhkam dalam surat Al An'am ini menurut orang salaf, memiliki kedudukan yang penting, karena terkandung di dalamnya beberapa permasalahan penting, dan yang pertama adalah larangan terhadap syirik.

10. Ayat-ayat muhkam yang tercantum dalam surat Al Isra' mengandung delapan belas permasalahan penting, dimulai dengan firman Allah,

"Janganlah engkau adakan sesembahan yang lain di samping Allah, agar engkau tidak menjadi tercela dan ditinggalkan (Allah)." (QS. Al Isra': 22)

Dan diakhiri dengan firman-Nya,

"Janganlah engkau mengadakan sesembahan lain di samping Allah, sehingga menyebabkan engkau dilemparkan ke dalam Neraka dengan keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)." (QS. Al Isra': 39)

Allah mengingatkan kita tentang pentingnya permasalahan ini dengan berfirman,

"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabb-mu kepadamu." (QS. Al Isra': 39)

11. Ayat dalam surat An Nisa' dinamakan dengan "ayat sepuluh hak". Allah memulai dengan firman-Nya,

"Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (QS. An Nisa': 36)

12. Perlu diingat wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di akhir hayat beliau.

13. Mengetahui hak Allah yang wajib kita penuhi.

14. Mengetahui hak para hamba yang pasti akan dipenuhi Allah jika memang mereka benar-benar menunaikan hak Allah.

15. Permasalahan ini tidak diketahui sebagian besar sahabat (5).

16. Diperbolehkannya menyembunyikan ilmu karena maslahat.

17. Dianjurkannya menyampaikan kabar kepada sesama Muslim yang bisa membuat hatinya senang.

18. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. (6)

19. Jawaban orang yang ditanya permasalahan yang tidak diketahuinya adalah, "Allahu wa rasuluhu a'lam" (Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui).

20. Diperbolehkannya menyampaikan ilmu kepada orang-orang tertentu tidak kepada yang lainnya.

21. Kerendahan hati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena tatkala menunggang keledai, beliau bersedia membonceng orang lain di belakangnya.

22. Diperbolehkan membonceng orang lain di atas hewan tunggangan (7).

23. Keutamaan Mu'adz bin Jabal.

24. Tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

=====

Catatan Kaki:

a. Tauhid adalah menunggalkan Allah Ta'ala dalam masalah rububiyah, uluhiyah, dan kesempurnaan nama dan sifat-Nya. (Al Jadid Syarah Kitab Tauhid hlm. 17)

b. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ibadah adalah suatu ungkapan yang mencakup segala ucapan dan perbuatan baik yang lahir maupun yang batin yang dicintai dan diridhai Allah. (Al Ubudiyah hlm. 20) Agar suatu ibadah diterima Allah, maka ibadah harus memenuhi dua kriteria yaitu ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Keduanya harus beriringan tidak boleh dipisahkan karena Allah tidak akan menerima amalan yang disertai kesyirikan dan kebid'ahan, -pent.

c. Ibnu Qayyim mengatakan bahwa thaghut adalah segala sesuatu (selain Allah) yang disembah, diikuti, dan ditaati hingga melampaui batas oleh seorang hamba. 'Umar (radhiyallahu 'anhu) mengatakan bahwa thaghut adalah setan. Jabir (radhiyallahu 'anhu) mengatakan bahwa thaghut adalah dukun yang selalu didatangi setan. Imam Malik mengatakan bahwa thaghut adalah segala yang disembah selain Allah.

1. Beliau adalah 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Al Hudzali Abu 'Abdirrahman. Beliau termasuk ulama terkemuka di kalangan para sahabat. Beliau wafat pada tahun 32 H.

2. Beliau adalah Abu 'Abdirrahman Mu'adz bin Jabal Al Anshari Al Khazraji. Beliau adalah seorang sahabat terkemuka dan terkenal. Beliau adalah ulama di kalangan sahabat. Beliau wafat di Syam karena penyakit Ta'un 'Amwas pada tahun 18 H.

3. Hikmahnya adalah agar mereka beribadah kepada Allah tidak hanya sekedar bersenang-senang dengan makan, minum dan nikah. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/35)

4. Hikmahnya adalah mengajak orang agar beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyembah thaghut. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/36)

5. Mu'adz menyampaikan permasalahan ini menjelang akhir hayatnya karena khawatir terkena dosa menyembunyikan ilmu. Apalagi sudah banyak sahabat yang meninggal dan belum mengetahui masalah ini, -pent.

6. Hanya mengandalkan tauhid dan tidak beramal. (-ed)

7. Akan tetapi disyaratkan tidak memberatkan binatang tunggangan tersebut. Jika ternyata hal itu sangat memberatkan bagi hewan tunggangan maka hukumnya tidak diperbolehkan. (-pent)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Kitab At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Biografi Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab | Kitab Tauhid

Biografi Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab (rahimahullah)

Nama beliau dengan nasab yang lengkap adalah Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab bin Sulaiman bin 'Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Musyrif bin Musyrif bin 'Umar. Beliau berasal dari kabilah Bani Tamim.

Beliau dilahirkan di daerah Uyainah pada tahun 1115 H di rumah yang penuh dengan cahaya ilmu, kemuliaan, dan agama. Bapak beliau adalah seorang alim besar. Terlebih lagi, kakek beliau, Sulaiman, adalah ulama Nejd pada zamannya.

Beliau telah menghafal Al Qur'an sebelum menginjak umur sepuluh tahun. Beliau belajar fikih sehingga bisa memperoleh pemahaman yang luas dalam masalah ini. Orang tuanya sangat kagum pada dirinya karena kekuatan hafalan yang dimilikinya. Beliau banyak melakukan telaah buku-buku tafsir dan hadits.

Beliau adalah orang yang sangat giat menuntut ilmu baik di siang maupun malam hari sehingga mampu menghafal banyak mantan-mantan ilmiyah dalam berbagai cabang ilmu. Beliau lantas pergi menuntut ilmu di pinggiran kota Nejd dan Mekkah. Beliau menimba ilmu secara langsung dari ulama-ulama negeri tersebut.

Setelah itu, beliau melakukan rihlah ke Madinah dan menimba ilmu secara langsung dari ulama-ulama di kota tersebut. Di antara mereka adalah Al Alamah Syaikh 'Abdullah bin Ibrahim Asy Syamiri. Beliau juga menimba ilmu kepada pakar ilmu waris terkenal yaitu bapak dari gurunya tersebut bernama Ibrahim Asy Syamiri. Syaikh Ibrahim adalah penulis buku berjudul Al 'Adzbu Al Faidh fi Syarhi Al Fiyati Al Faraidh.

Kedua ulama tersebut mengenalkan beliau dengan seorang ahli hadits terkenal yang bernama Muhammad Hayatussindi. Beliau lantas menimba ilmu hadits dan rijalnya kepada beliau secara langsung. Muhammad Hayatussindi lantas memberikan ijazah kepada beliau dalam masalah buku-buku induk hadits.

Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab adalah sosok yang telah diberi Allah pemahaman yang tajam dan kecerdasan yang luar biasa. Beliau mencurahkan segenap kemampuannya untuk melakukan telaah, pembahasan, dan membuat karya tulis. Setiap kali menemukan poin penting tatkala membaca dan membahas, maka beliau selalu mencatatnya. Beliau tidak bosan-bosannya menulis. Beliau juga banyak menyalin buku-buku karya Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Buah karya penanya yang selalu mengalir tersebut sangatlah berharga sehingga senantiasa kita dapatkan di banyak museum.

Tatkala orang tuanya meninggal dunia pada tahun 1153 H, beliau mulai memukul genderang dakwah salafiah, mengajak orang mentauhidkan Allah, mengingkari kemungkaran, serta menyerang ahli bid'ah, penyembah patung, dan berhala. Akhirnya, Raja 'Ali Su'ud membantu beliau sehingga kekuatannya makin kokoh dan dakwah beliau pun terdengar di mana-mana.

Di antara karya tulis beliau adalah Kitab Tauhid yang ada di hadapan pembaca. Karya yang lain adalah Kasyfu Asy Syubhat, Al Kabair, Tsalatsatul Ushul, Mukhtashar Al Inshaf wa As Sarh Al Kabir, dan Mukhtashar Zad Al Ma'ad. Di samping itu buku-buku tipis dan fatwa-fatwa beliau juga telah dikumpulkan dalam satu buku berjudul Majmu'at Muallafat Imam Muhammad bin 'Abdul Wahhab di bawah pengawasan Universitas Muhammad bin Su'ud.

Akhir hayatnya, beliau wafat pada tahun 1206 H. Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepada beliau. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baiknya segala kiprah beliau untuk Islam dan kaum Muslimin. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan Permohonan. Segala puji bagi Allah Rabb segenap alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan juga kepada seluruh para sahabatnya.

=====

Maraji'/ Sumber:


Kitab: Kitab At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah